KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat ALLAH SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan laporan yang berjudul “Dengue hemorrhagic fever di Ruang Kenari RS. Sari Mulia”.
Dalam pembuatan karya tulis ini, kami mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung sehingga laporan ini dapat selesai pada waktunya. Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada :
1. Dr. Soedarto WW, Sp.OG selaku direktur RS. Sari mulia yang telah memberikan fasilitas dan sarana praktik lapangan diruang kenari RS. Sari mulia Banjarmasin.
2. Merry Sinta Uli, S.kep.Ners selaku Clinical Intructure (CI) yang telah membantu dan memberi bimbingan selama kami praktik di Ruang Kenari RS. Sari Mulia
3. Ika avrilina H. S.S.T dan Ika Mardiatul selaku Clinical Teacher (CT) yang telah membantu dan memberi bimbingan selama kami praktik di RS. Sari Mulia
4. Kakak Peni, Yani, Helda, Rudi, Gajali, Fandi, Hairiah, yang telah membantu dan membimbing kami selama praktik di Ruang Kenari RS. Sari Mulia
5. Keluarga klien yang telah memberi segala informasi yang diperlukan dalam pembuatan laporan ini.
Dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang sudah membantu kami dalam pembuatan laporan ini, baik yang terlibat maupun yang memberikan saran-sarannya, kami sangat berterima kasih. Kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai penyempurnaan dan semoga dengan selesainya laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman.
Banjarmasin, 6 Januari 2010
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………… 1
KATA PENGANTAR…………………………………………………. 2
LEMBAR PERSETUJUAN …………………………………………… 3
LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………… 4
DAFTAR ISI…………………………………………………………… 5
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………… 6
B. Rumusan Masalah……………………………………………… 7
C. Tujuan…………………………………………………………. 7
1. Umum……………………………………………………….. 7
2. Khusus………………………………………………………. 7
D. Manfaat…………………………………………....................... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian ……………………………………………………… 9
B. Etiologi…………………………………………………………. 9
C. Patofisiologi………………………………………...................... 10
D. Tanda dan Gejala……………………………………………….. 10
E. Komplikasi……………………………………………………… 12
F. Klasifikasi.............................……………………………………. 12
G. Dampak….……………………………………………………… 12
H. Pemerikasaan penunjang………………………………………... 14
I. Penatalaksanaan Medis…………………………………………. 15
J. Rencana Asuhan Kebidanan…………………………………. 17
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………… 22
B. Saran……………………………………………………………. 22
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 23
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Demam Dengue ini tercatat pertama kali menjadi endemi pada tahun 1779-1780 di Asia, Afrika dan Amerika Utara dan terjadi secara hampir bersamaan dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Hal ini menggambarkan bahwa penyebaran penyakit ini sudah sangat luas sejak lebih dari 200 tahun lalu dan merupakan penyakit yang cukup membahayakan. Saat inipun penyakit ini masih merupakan masalah serius di bidang kesehatan umumnya di daerah tropis dan subtropis dengan tingkat ekonomi dan kesehatan yang rendah.
Demam Dengue atau Dengue Fever (DF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue Famili Flaviviridae,dengan genusnya adalah flavivirus. Virus ini mempunyai empat serotipe yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Penyakit ini tidak ditularkan secara langsung dari manusia ke manusia melainkan melalui perantaraan melalui gigitan nyamuk. Spesies nyamuk yang menjadi vektor perantara penyakit ini utamanya adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus betina
DF merupakan bentuk paling ringan dari bentuk berikutnya yaitu Demam Berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD ditenggarai adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini ada tendensi agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah.
Infeksi virus Dengue telah menjadi masalah kesehatan yang serius pada banyak negara tropis dan sub tropis. Kejadian penyakit DBD semakin tahun semakin meningkat dengan manifestasi klinisyang berbeda mulai dari yang ringan sampai berat. Manifestasi klinis berat yang merupakan keadaan darurat yang dikenal dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock Syndrome (DSS).
Untuk menegakkan diagnosa infeksi virus Dengue diperlukan dua kriteria yaitu kriteria klinik dan kriteria laboratorium (WHO, 1997). Pengembangan tehnologi laboratorium untuk mendiagnosa infeksi virus Dengue terus berlanjut hingga sensitivitas dan spesifitasnya menjadi lebih bagus dengan waktu yang cepat pula. Ada 4 jenis pemeriksaan laboratorium yang digunakan yaitu : uji serologi, isolasi virus, deteksi antigen dan deteksi RNA/DNA menggunakan tehnik Polymerase Chain Reaction (PCR). (Mariyam, 1999).
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah pada laporan kasus ini adalah ”bagaimanakah asuhan keperawatan pada An.A dengan DHF diruang Kenari RS. Sari Mulia Banjarmasin”
C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan An.A dengan DHF diruang Kenari RS. Sari Mulia Banjarmasin.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui bagaimana Pengkajian Keperawatan pada An.A dengan DHF
b. Untuk mengetahui bagaimana diagnosa keperawatan pada An.A dengan DHF
c. Untuk mengetahui bagaimana perencanaan keperawatan yang akan dilakukan pada An.A dengan DHF
d. Untuk Mengetahui Pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada An.A dengan DHF
e. Untuk Mengetahui bagaimana evaluasi Asuhan Keperawatan pada anak dengan DHF
D.Manfaat
1. Bagi Petugas Kesehatan
Dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan DHF
2. Bagi Mahasiswa
Dapat menambah ilmu pengetahuan dan dapat menerapkan penanganan DHF dalam praktik keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.Pengertian
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina), terutama menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian bagi penderita (Effendy, Skp, 1995:1) Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti, terutama menyerang anak remaja dan dewasa dengan gejala utama demam manifestasi perdarahan, nyeri otot dan sendi dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang menyebabkan kematian.
B.Etiologi
Virus dengue serotif yang ditularkan melalui vektor nyamuk aedes aegepty, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis, dan beberapa jenis lain. Merupakan vektor yang kurang berperan. Vektor-vekror ini biasa bersarang dibejana-bejana yang berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air, kaleng bekas dan lain-lain. Hal ini berhubungan erat dengan pola hidup masyarakat dimana masyarakat mempunyai kebiasaan menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari, sanitasi lingkungan yang kurang baik, penyediaan air bersih yang langka.
C.Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, klien akan mengalami keluhan dan gejala virema seperti demam, sakit kepala,mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hipereremia ditenggorokan, timbul ruam dan kelainan yang mungkin tejadi pada sistem retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati ( hepatomegali ), pembesaran limpa ( splenomegali ), alkalosis respiratorik, trombositopenia, vaskulitis, dan reaksi imunologik.
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF.
Yang menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah , menurunnya volume plasma , terjadinya hipotensi , trombositopenia dan diathesis hemorrhagic , renjatan terjadi secara akut. Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.
D. Tanda dan gejala
a. Gambaran klinis amat bervariasi, dari yang amat ringan ( silent dengue infection ) hingga yang sedang seperti DHF, sampai ke DHF dengan manifestasi demam akut, perdarahan, serta kecenderungan terjadi lonjatan yang berakibat fatal. Masa inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari.
b. Nyeri dibagian otot terutama dirasakan bila otot perut dan tendon ditekan. Sekitar mata
mungkin ditemukan pembengkakan, otot mata terasa sakit bila disentuh dan pergerakan bola mata terasa pegal, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal-pegal pada seluruh tubuh, kemerahan pada kulit, lakrimasi dan fotofobia.
c. Perdarahan pada kulit ( petekie, ekimosis, hematoma ) serta perdarahan lain ( seperti epistaksis, hematuria, dan melena ). Gejala perdarahan seperti terjadi pada hari ke 3 atau
ke 5.
d. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit waktu menelan, serta keluhan pada saluran pencernaan : mual, muntah, tak nafsu makan ( anoreksia ), diare dn kontsipasi.
e. Eksantem yang klasik ditemkan dalam 2 fase, mual-mual pada awal demam ( initial rash) terlihat pada muka dan dada, berlangsung selama beberapa jam dan biasanya tidak diperhatikan oleh klien. Mulai antara hari ke 3-6, mula-mula berbentuk makula-makula besar yang bersatu dan mencuat kembali, serta timbul bercak-bercak petekie pada dasarnya. Terlihat pada lengan dan kaki.
f. Pada sebagian besar klien ditemukan kurva suhu yang bifalk ( sadle back fever ). Nadi mula-mula cepat dan dapat menjadi normal atau lebi lambat pada hari ke 4 dan ke 5. bradikardi dapat menetap untuk beberapa hari dalam masa penyembuhan.
g. Lidah sering kotor dan kadang klien susah buang air besar.
h. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
i. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
j. Nyeri otot, tulang sendi, abdoment, dan ulu hati..
k. Pembengkakan sekitar mata.
l. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
m.Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun, gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).
E. Komplikasi
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a. Perdarahan luas.
b. Shock atau renjatan.
c. Effuse pleura
d. Penurunan kesadaran.
F. Klasifikasi
a. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain atau perdarahan spontan, uji turniket positi,
trombositopeni dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II :
Manifestasi klinik pada derajat I dengan manifestasi perdarahan spontan di bawah kulit
seperti peteki, hematoma dan perdarahan dari lain tempat.
c. Derajat III :
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan system
sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang lembab, dingin dan
penderita gelisah.
d. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi
renjatan
yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.
G.Dampak
. Dampak terhadap KDM
a. Gangguan keseimbangan suhu tubuh : hypertemia
Disebabkan invasi virus dengue melalui gigitan nyamuk aedes aegypti
b. Gangguan keseimbangan cairan dan elektolit
Disebabkan masuknya virus dengue yang dapat meningkatkan metabolism tubuh yang
timbul panas dan sebagai kompensasi tubuh akan terjadi evavorasi tubuh
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL
Disebabkan masuknya virus dengue merangsang antigen antibodi untuk meningkatkan
metabolisme tubuh
d. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
Akibat adanya respon peningkatan suhu tubuh yang merangsang medula vomitting center
sehingga menimbulkan mual dan muntah
e. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur
Disebabkan karena adanya stimulus demam yang tinggi akan merangsang susunan saraf
otonom.
f. Gangguan rasa aman cemas
Karena kurangnya pengetahuan dan informasi tentang penyakit dan proses pengobatan yang
merupakan klien sehingga klien menjadi cemas
g. Potensial terjadi perdarahan
Adanya komplek virus antibodi dalam sirkulasi darah menyebabkan trombosit kehilangan
fungsi agregasi dan mengalami metamorfosis yang dimusnahkan oleh sistem
retikuloendotel sehinga akan terajadi trombositopenia.
h. Dampak terhadap sistem tubuh
1). Sistem pernafasan
Pada pernafasan biasanya ditemukan keluhan yaitu batuk, pilek dan sakit waktu menelan
2). Sistem kardiovaskuler
pada sistem ini biasanya ditemukan nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun (
hipotensi, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari, canosis daerah perifer,
perdarahan ( uji torniquet + ), trombositopenia, hematokrit lebih kurang 20%.
3). Sistem gastrointestinal
Pada sistem ini biasanya ditemukan mual, muntah perdarahan pada gusi, anoreksia,
diare, konstipasi,hematosis, melena, hepatomegali, splenomegali, dan nyeri ulu hati.
4). Sistem peryarafaran
Pada sistem ini biasanya ditemukan nyeri atau sakit kepala ( pusing )
5). Sistem perkemihan
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya hematuri dan albuminuria.
6). Sistem muskuloskeletal
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya nyeri otot, tulang, nyeri otot dan sendi
( breakbone fever ), nyeri otot abdomen, dan pegal-pegal seluruh tubuh.
7). Sistem endokrin
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening yang akan
kembali normal pada masa penyembuhan
8). Sistem integumen
Pada sistem ini biasanya ditemukan adanya petekie, ekimosis, hematom, kemerahan
pada kulit,
9). Sistem genetelia
Pada sistem ini tidak ditemukan kelainan.
H. Pemeriksaan penunjang
1. Patokan WHO ( 1975 )untuk menegakkan diagnosa DHF adalah :
a. Demam tinggi dan terus menerus selama 2-7 hari
b. Manifestasi perdarahan, termaksuk setidak-tidaknya uji torniquet positif dan salah satu
bentuk lain ( petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi )
c. Pembesaran hati
d. Renjatan yang ditandai nadi lemah, cepat disertai tekanan darah menurun ( tekana sistolik
menjadi 80 mmHg dan diastolik 20 mmHg atau kurang ) disertai kulit yang eraba dingin
dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki, penderita gelisah, timbul sianosis
disekitar mulut.
2. Darah
1) Trombosit menurun.
2) HB meningkat lebih 20 %
3) HT meningkat lebih 20 %
4) Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5) Protein darah rendah
6) Ureum PH bisa meningkat
7) NA dan CL rendah
3. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
1) Rontgen thorax : Efusi pleura.
2) Uji test tourniket (+)
I. Penatalaksanaan
a. Tirah baring
b. Pemberian makanan lunak .
c. Pemberian cairan melalui infus.
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan cairan
intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+ 4 mEq/liter,
korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
d. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik,
e. Anti konvulsi jika terjadi kejang
f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
i. Periksa HB,HT, dan Trombosit setiap hari.
Tumbuh kembang pada anak usia 6-12 tahun
Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex sekundernya.
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk perubahan sosial dan emosi.
a. Motorik kasar
1) Loncat tali
2) Badminton
3) Memukul
4) Motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan
irama dan kehalusan.
b. Motorik halus
1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan
2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
c. Kognitif
1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi
2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah
3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal
4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang
d. Bahasa
1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak
2).Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata
penghubung dan kata depan
3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal
4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan
e. Dampak hospitalisasi
Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress
dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga
terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.
Penyebab anak stress meliputi ;
a. Psikososial
Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran
b. Fisiologis
Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri
ASUHAN KEBIDANAAN
PADA ANAK UMUR 11 TAHUN DENGAN DHF
DIRUANG KENARI
Tanggal : 01 januari 2010
Tempat : RS.Sari Mulia
No.Reg : 021996
I.DATA SUBJEKTIFE
1.IDENTITAS
Nama anak : An. Muhamad Ali Azmi
Tanggal lahir : Kapuas, 22 Desember 1998
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 11 tahun
Alamat : Jl. Jendral sudirman no.01 Kuala Kapuas
Nama ayah : Tn. Martono
Agama : Islam
Pendidikan : S1
Suku/Bangsa : dayak/Indonesia
Pekerjaan : PLN
Alamat : Jl. Jendral sudirman no.01 Kuala Kapuas
2. Keluhan utama (keluhan yang dirasakan saat ini)
Pasien demam kurang lebih 5 hari, 2 hari kembung, batuk jarang, lemah, nafsu makan
sedikit, bibir kering, akral teraba dingin
3.Riwayat kesehatan anak
Ibu mengatakan anak tidak pernah menderita penyakit DHF (Dengue haemoregik fever)
sebelumnya dan dalam keluarga dari pihak suami dan ibu tidak ada yang menderita
penyakit menurun (asma,DM,hipertensi) dan tidak ada yang menderita penyakit menular
(TBC,hepatitis) penyakit menahun (batuk rejan)
4.Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga dari pihak suami dan ibu tidak ada yang menderita penyakit
menurun (asma,DM,hiperensi) dan tidak ada yang menderita penyakit menular
(TBC,hepatitis) penyakit menahun (batuk rejan)
5.Pola kebiasaan sehari-hari
Pola Sebelum masuk rumah sakit Selama masuk rumah sakit
Nutrisi
Ibu mengatakan sebelum sakit anaknya lebih suka jajan dari pada makan.
- Makan 1-2x/kali sehari
- Minum sampai 5-6 gelas
Nasi, lauk pauk,sayur mayur, buah, dan jajanan lain. Dirumah sakit anak Cuma makan sedikit Cuma mau minum sedikit juga
Setengah porsi saja
Istirahat
Ibu mengatakan anaknya tidak suka tidur siang
Tidur malam ± 8-9 jam Di Rumah sakit
- Tidak tidur siang
- Tidur malamnya ± 3-4 jam karena pasien merasa ingin muntah
Aktifitas
Sehari-hari anak sekolah belajar dan bermain dengan teman-temanya Anak hanya terbaring lemas ditempat tidur tidak bisa bangun, aktivitas dibantu orang tua
Eliminasi
- BAB 1x/hari konsistensi lembek dan berwarna kuning
- BAK 4-5 x/hari , warna jernih
- BAB sering kadang sampai 4x, konsistensi encer berampas, warna hitam bercampur sedikit darah
- BAK 6-7x/hari, warna kuning keruh
Personal hygiene - Mandi 2x/hari memakai sabun (pagi dan sore) gosok gigi 2x/hari, keramas 3 hari sekali, ganti baju 2x/hari
- Mandi diseka ibu dengan air hangat 2x/hari, ganti baju 1x/hari,sikat gigi 1x/hari, keramas tidak ada
6.Data psikososial
Hubungan ibu, suami dan anggota keluarga baik-baik saja. Keluarga sangat sayang terhadap
pasien dan keluarga menginginkan pasien lekas sembuh dari penyakitnya. Respon pasien
terhadap tenaga kesehatan sangat kooperatif .
II.DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum : Agak lemah
Kesadaran : Compos mentis
TB : 137 cm
BB sebelum sakit : 33 kg
BB selama sakit : 30 kg
b. Tanda-tanda vital
TD : - Nadi : 140 x/menit
S : 38,5 °C RR : 20 x/menit
2. Pemeriksaan fisik
Kepala : Keadaan rambut bersih, rambut berwarna kecoklatan, tidak ada luka atau bekas
luka, tidak ada ketombe, tidak ada nyeri tekan, dan tidak ada odem.
Muka : Keadaan muka bersih, agak pucat, bentuk simetris, tidak ada odem.
Mata : Bentuk simetris, bersih, konjungtiva anemis, seclera tidak ikterik
Hidung : Bentuk simetris, bersih, tidak ada polip, tidak ada secret, tidak ada pernafasan
cuping hidung, tidak ada nyeri tekan.
Mulut : Bibir agak kering, bentuk simetris, warna bibir agak pucat.
Telinga : Bentuk simetris, bersih tidak ada pengeluaran cairan.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
Dada : Bentuk simetris, bersih, tidak ada tarikan nafas intercosta, tidak ada
pembesaran mamae
Abdomen : Bersih, tidak ada pembesaran hepar, tidak ada nyeri tekan
Punggung : Bersih, bentuk datar tidak lordosis, kifosis dan skeliosis
Genetalia : Bentuk simetris, bersih, tidak ada pengeluaran cairan, tidak ada kelainan
Anus : Keadaan bersih, tidak ada haemoroid
Ekstremitas: Kedua kaki dan tangan lengkap, simetris, tidak ada polidaktili dan dan
sindaktili, bersih,kedua kaki dan tangan lemas
3. Data Tumbuh Kembang
a) Adaptasi social
Anak adalah anak yang periang sehingga banyak sekali yang menyayanginya, meski sakit
tidak terlihat rewel, bersikap kooperatif terhadap orang yang belum dikenal.
b) Bahasa
Dapat bicara secara jelas dan benar meski dengan suara yang pelan, mengerti dan
memahami pertanyaan yang diberikan.
c) Motorik halus
Sesuai perkembangan yakni jika diberi sesuatu atau diajari permainan akan terangsang
untuk mencoba dan mengatasi.
d) Motorik kasar
Kurang dapat berjalan dan hanya tidur ditempat tidur.
4. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
a. Tanggal 30 Desember 2009
Trombosit : 134.000 / mm
b. Tanggal 31 Desember 2009
Leukosit : 1.700 / mm
Trombosit : 136.000 / mm
c. Tanggal 1 Januari 2010
Leukosit : 1.700 / mm
Trombosit : 90.000 / mm
d. Tanggal 2 Januari 2010
Leukosit : 1.600 / mm
Trombosit : 55.000 / mm
e. Tanggal 3 Januari 2010
Jam 00.50
HB : 12,5 gr %
Hematokrit : 38,1 %
Trombosit : 33.000 / mm
Jam 09.33
HB : 11,9 gr %
Hematokrit : 37,3 %
Trombosit : 42.000 / mm
f. Tanggal 4 Januari 2010
Leukosit : 2.600 / mm
Trombosit : 54.000 / mm
g. Tanggal 5 Januari 2010
HB : 12,2gr %
Leukosit : 2.500 / mm
Hematokrit : 37,9 %
Trombosit : 70.000 / mm
III.ASSESMENT
Diagnosa Kebidanan : anak “A” umur 11 tahun dengan DHF derajat II
Masalah : Panas dirumah ± 5 hari lemah, akral terasa dingin
Kebutuhan : Kolaborasi dengan tim medis dalam memberi perawatan
IV. PLANNING
a. Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang penyakit yang diderita pasien sekarang dan
keadaan pasien sekarang seperti :
Keadaan pasien yang masih lemah
TD : - Nadi : 120 x/menit
S : 39 °C RR : 19 x/menit
b. Menganjurkan untuk banyak minum minimal 8 gelas / hari untuk mencegah terjadinya
dehidrasi
c. Mengompres dengan kompres air dingin dengan menggunakan waslap yang dibasahi dengan air biasa lalu dikompres pada kening dan ketiak.
d. Memenuhi nutrisi sesuai diet dirumah sakit
- Diet lunak (bubur) tingi kalori tinggi protein porsi sedang 3x sehari
- Susu
e. Memakaikan pakaiaan yang hangat dan mudah menyeraap keringat
f. Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy
Mengobservasi TTV setiap 6 jam sekali
Memasang infuse RL 24 t/mnt
Memberi injeksi Terfacef 2x1 gr
Rantin 2x25 mg
Po. Imunos F 2x1 tab
Inpepsa syr 3x1 cth
Cholescar 2x1 caps
g. Menjelaskan tentang keadaan pasien sekarang tanggal 5 januari terhadap keluarga setelah berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian therapy
KU membaik,panas berkurang, bibir tidak kering, akral hangat.
Hasil laboratorium
HB : 12,2 gr %
Leukosit : 2.500 / mm
Hematokrit : 37,9 %
Trombosit : 70.000 10 / UL
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil praktik yang kami lakukan di RS.Sari Mulia dapat ditarik kesimpulan bahwa DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (betina), terutama menyerang anak remaja dan dewasa dan sering kali menyebabkan kematian bagi penderita.
B. SARAN
1) Bagi Petugas Kesehatan
Hendaknya dapat mengkaji lebih dalam keadaan pasien agar dapat memberikan asuhan keperawatan
2) Bagi Mahasiswa
Hendaknya dalam mengkaji keadaan pasien kita lebih memperhatikan keadaan dan kenyamanan pasien.
Dan juga dalam melakukan praktik dan memberikan pelayanan kesehatan sarana dan prasarana harus lengkap agar memudahkan tindakan dan pelayanan yang memuaskan dan jangan sampai pasien merasa tidak nyaman atas pelayanan kesehatan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Christantie, 1995. Perawataan pasien DHF. Jakarta : EGC
Jumadi Gaffar, La Ode. 1999. Pengantar keperawatan professional. Jakarta: EGC
Keliat, Annad Budi., 1994. Proses keperawatan. Jakarta : EGC
Khusnudhon Ilahi..Demi sebuah tugas mulia yang ku emban. ku rela membagi kasih..Dan menduakan keluarga yang dicinta..Mengabdikan diri dengan sepenuh hati..untuk melahirkan CUCU SANG ADAM
Selasa, 26 Oktober 2010
PROMOSI KESEHATAN BIDAN TERHADAP WANITA MENOPAUSE
PROMOSI KESEHATAN BIDAN TERHADAP WANITA MENOPAUSE
Dengan makin meningkatnya usia harapan hidup wanita terutama di negara-negara sedang berkembang, maka akan makin banyak didapatkan wanita yang berusia lanjut, dalam arti kata dapat menikmati kehidupan setelah menopause atau setelah masa reproduksinya selesai.
Oleh sebab itulah, seorang bidan yang menangani wanita pada masa ini haruslah mengetahui perubahan hormonal dan metabolik yang terjadi, perubahan cara hidup yang diakibatkannya, serta cara-cara penanganannya.Untuk itu diperlukannya promosi kesehatan dalam menyampaikan perubahan-perubahan tersebut sehingga tidak ada lagi wanita yang menganggap masa menopause sebagai masa yang menakutkan dihari tuanya.
Dalam promosi kesehatan ini ada beberapa hal yang perlu kita sampaikan kepada para wanita mengenai masa menopause hal itu meliputi :
1. Apa itu menopause?
2. Bagaimana tanda dan gejalanya?
3. Bagaimana cara mengatasinya?
I.Pengertian menopause
Menopause berasal dari bahasa Yunani yang berarti berhentinya haid. Terjadi pada usia sekitar 50 tahun. Pada masa inilah terjadilah perdarahan rahim yang terakhir yang masih dikendalikan oleh hormon ovarium. Pramenopause adalah masa sebelum terjadinya menopause, biasanya sekitar 4 sampai 5 tahun sebelumnya. Pada saat ini biasanya telah didapatkan pola haid yang tidak teratur dan keluhan klimakterik yang lain.Pasca-menopause adalah masa 3 sampai 5 tahun setelah terjadinya menopause.Ooforepause adalah saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya. Sebenarnya ada 2 macam menopause yaitu menopause yang fisiologis dan menopause buatan. Pada menopause yang fisiologis maka terjadi kemunduran fungsi hormonal ovarium karena sebab-sebab yang fisiologis sedangkan menopause buatan terjadi karena campur tangan dari luar seperti radiasi, pasca operasi, obat-obatan dll.
Menopause terjadi karena gangguan dalam proses hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hal ini disebabkan karena menghilangnya oosit yang responsive terhadap rangsangan gonadotropin dan oosit gonadotropin. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan dalam produksi hormon ovarium yang selanjutnya akan juga mengganggu mekanisme umpan balik pada poros diatasnya.Yang pertama-tama mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya produksi steroid ovarium terutama estrogen akan menyebabkan pusat siklik hormone di hipotalamus meningkatkan produksi hormon pelepas gonadotropin (Gonadotropin Releasing Hormon = GnRh). Selanjutnya hal ini akan mengakibatkan peningkatan hormone gonadotropin dengan FSH (Follicle Stimulating Hormone) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari LH (Luteinizing Hormone). Kadar hormon inilah yang menjadi petunjuk yang baik untuk menentukan apakah seorang wanita berada dalam proses menopause. Peninggian kadar hormone gonadotropin ini akan terus meningkat dan mencapai maksimum 10-15 tahun setelah menopause dan kemudian akan turun perlahan-lahan dan terus menetap sampai masa senium dengan kadar yang lebih tinggi dari masa reproduksi.
Umumnya menopause terjadi pada usia sekitar 45-50 tahun, sedangkan menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun dikenal sebagai menopause yang terlalu dini (menopause praecox).Menopause yang terjadi terlalu dini dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti penyakit, obat-obatan, pembedahan dan radiasi. Berdasarkan perubahan pada hormone steroid ovarium maka dapat kita kenali beberapa fase pada masa klimakterium. Hormon progesterone yang merupakan produk utama korpus luteum mengalami gangguan pertama kali, sedangkan estrogen mula-mula akan tinggi dan kemudian berangsur-angsur menurun. Estrogen juga dapat dihasilkan oleh organ-organ ekstragenital seperti kelenjar adrenal. Hormone androgen juga mengalami penurunan pada masa klimakterium ini, baik yang dihasilkan oleh ovarium maupun oleh kelenjar adrenal.
Berdasarkan analisis hormonal maka menopause dapat dibagi dalam beberapa fase:
1.Fase hipolutein sampai alutein
Pertama-tama terjadi gangguan pembentukan korpus luteum yang berarti gangguan produksi progesterone dan akibatnya terjadi keadaan dominasi estrogen. Karena itu terjadi gangguan siklus haid yang menjurus terjadinya perdarahan uterus disfungsional. Karena tidak terjadi ovulasi maka hormone folikel akan terus dibentuk, maka terdapat keadaan hiperfolikulin yang berlangsung berbuln-bulan dengan gejala-gejala retensi air, gangguan kestabilan emosi, dismenoragia dengn hyperplasia glandularis kistika.
2. Fase hipofolikulin
Selanjutnya karena berkurangnya folikel yang responsive terhadap rangsang gonadotropin maka hormone folikelpun makin lama makin berkurang, walaupun terdapat sumber estrogen lain. Hal ini akan menyebabkan involusi alat-alat genetalia dan atrofi vagina. Pengaruh estrogen terhadap genetalia dapat dikenali dengan melakukan sediaan usap vagina.
3.Fase poligonadotorpin
Karena tidak adanya hormone steroid ovarium maka hipofise anterior mengeluarkan hormonnya tanpa hambatan. Hal ini akan menyebabkan hiperfungsi beberapa kelenjar yang tergantung dari hipofise.
Pembentukan berlebihan dari unsur tireotropin akan mengakibatkan gangguan kelenjar tiroid dan Basedow klimakterik, penurunan fungsi tiroid akan diikuti dengan miksedema klimakterik. Meningkatnya hormon kortikotropin dan gonadotropin akan menyebabkan kelenjar adrenal seolah-olah merupakan gonad ketiga. Hal ini akan mengakibatkan meningginya hormon pria dan pada saat yang sama menurunnya estrogen dari ovarium. Secara klinis hal ini akan tampak sebagai proses maskulinisasi, rambut melebat, suara berat dan dalam dll. Akibat meningkatnya adrenalin maka dapat pula dimengerti mengapa wanita klimakterik menjadi hipersensitif.
II. Tanda dan Gejala
Perubahan yang paling dirasakan oleh wanita dalam masa menopause adalah perubahan pola haidnya. Selain itu yang ditemukan juga adalah:
1.Gejala vasomotorik : berupa gejala primer defisiensi estrogen. Hal ini diikuti dengan ketidakseimbangan vasomotor sentral. Pada kelompok gejala ini termasuk gejolak panas/”hot flushes”, vertigo, keringat banyak dan parestesia.
2.Gejala konstitusionil : gejala sekunder akibat tidak langsung dari menurunnya kadar estrogen terhadap suatu keadaan. Misalnya mudah tersingung, sakit kepala dan migraine, keluhan kardiovaskuler, nteri otot dan panggul.
3.Gejala psikologis dan neurologis : Meliputi keadaan depresi, kelelahan badan, susah tidur dan rasa khawatir/”anxiety”.
4.Gejala-gejala lain : Termasuk didalamnya gangguan haid, keluhan vaginitis atrofikan seperti dispareuni, fluor albus, pruritus vulva, disuria dan gangguan libido.
PERUBAHAN-PERUBAHAN ORGANIK
Perubahan yang terjadi pada organ reproduksi :
Pada dasarnya terjadi atrofi pada seluruh alat reproduksi pada masa menopause. Lipatan mukosa pada tuba Fallopii ,akin lama makin tipis dan akhirnya menghilang. Uterus akan makin lama makin kecil dan endometriumnya atrofik. Serviks akan mengkerut dan dikelilingi oleh dinding vagina, kanalis servikalis akan menjadi sempit dan pendek, sumbatan pada kanalis ini dapat menyebabkan piometra. Perbandingan ukuran serviks-fundus dapat kembali seperti masa adolesen.
Elastisitas vagina berkurang, rugae menghilang, dinding vagina menipis, sehingga mudah mengalami laserasi dan iritasi. Glikogen berkurang, pertumbuhan Basil Doderlein terhambat dan akibatnya pH meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya uretritis dan terbentuknya karunkula.
Terjadinya atrofi pada jaringan dasar panggul dan membawa akibat hilangnya tonus dan elastisitas daerah ini dan diikuti dengan prolapsus uterovaginal. Atrofi pada perinium dan anus akan mengakibatkan inkotinensia alvi yang ringan. Pada vesika urinaria hilangnya fungsi otot spingter dan detrusor akan mengakibatkan ”stres incontinence”.
Pada payudara akan terjadi peningkatan lemak subkutan dan terjadi ketakteraturan bentuk dan dilatasi kistik dari lobulus mammae dalam masa premenopause. Pada masa pasca-menopause lemak subkutan berkurang, lobulus menghilang, stroma jaringan ikat menebal, puting susu mengecil dan kehilangan daya erektilnya, pigmentasi berkurang dan akhirnya payudara menjadi kecil, datar dan kendor.
Perubahan diluar sistem reproduksi
Kenaikan berat badan ringan didapatkan pada kira-kira 30% wanita yang mencapai masa klimakterik. Penyebaran lemak ini terutama didapatkan pada daerah tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. Penurunan estrogen dikatakan menurunkan aktifitas dan metabolisme umum sehingga intake makanan yang sama akan menimbulkan penimbunan lemak yang bertambah.
Penurunan kadar estrogen akan mengakibatkan peninggian kadar kolesterol dan hal ini membawa resiko aterosklerosis yang lebih besar. Pada fungsi ovarium yang masih baik, hampir tidak didapatkan aterosklerosis. Penyakit jantung koroner dan infark miokard terjadi 1-20 kali lebih sering pada wanita masa klimakterium. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningginya angka aterosklerosis dan hipertensi.
Terdapat peninggian tekanan darah yang terutama pada tekanan darah diastolik. Dua pertiga dari penderita hipertensi esensial adalah wanita berusia 45-70 tahun, dengan sebagian besarnya memulai penyakitnya pada masa klimakterium ini. Setiap serangan gejolak panas yang terjadi disertai dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sisitolik.
85% wanita mengalami osteoporosis, kebanyakan terjadi 10 tahun setelah menopause. Angka kejadiannya 2 kali lebih sering daripada pria usia yang sama. Pemberian estrogen dikatakan dapat menghindarkan terjadinya osteoporosis dan akibat ikutannya. Estrogen terutama bekerja pada proses eksresi kalsium diusus dan ginjal.
Akan juga timbul gejala defeminisasi dan maskulinisasi yang disebabkan berkurangnya estrogen dan efek antiandrogennya. Sebagian memang menunjukkan hiperfungsi parsial dari kelenjar adrenal dengan meningkatnya kadar 17-ketosteroid.
III.Penatalaksanaan
Dasar penatalaksanaan klimakterium seperti dapat dilihat dal skema dibawah ini meliputi :
1. Penatalaksanaan umum meliputi pendidikan dan konseling
2. Pengobatan sistomatik non-hormonal
3. Pengobatan hormonal dan penyesuaian perubahan endokrin
4. Pembedahan
Bukan pengobatan murni Pengobatan non hormonal Pengobatan hormonal
Penerangan Antikoligernik Estrogen (jenis berbeda, rute berbeda)
Psikoterapi Spasmolitika Estrogen-androgen
Sedativa
Hipnotika Estrogen-progesteron
Tranguilizer
Antidepresan
Tonika
Pembedahan
1. Penatalaksanaan Umum
Perlu ditekankan bahwa masa ini bukan berarti berakhirnya suatu kehidupan melainkan justru berarti mulainya suatu tingkat kehidupan yang baru. Proses menjadi tua serta menopause ini sedapat mungkin diterangkan dalam bahasa yang dapat dimengerti. Hubungan erat yang saling percaya antara dokter pasien dan sebaliknya sangat membantu mengatasi masalah ini dan mencegah terjadinya kesalahpahaman. Usaha ini dilakukan pada fase dengan gejala-gejala yang ringan saja. Beberapa peneliti mengatakan bahwa psikoterapi dangkal saja sudah akan sangat banyak menolong.
2. Pengobatan simtomatik non-hormonal
Gejala klimakterium yang cukup berat harus diobati baik secara medikamentosa ataupun dengan cara lain. Pengobatan yang tepat disesuaikan dengan keadaan penderita. Untuk gejala yang ringan maka sering dipakai sedatif, spasmolitika, dan bermacam-macam obat turunannya. Bagi gejala yang berat seperti gejolak panas yang berat, maka sedatif dan obat depresan lainnya tidak banyak pengaruhnya.
3. Pengobatan hormonal
Pada dasarnya menopause adalah suatu defisiensi hormonal yang terjadi secara fisiologis. Tujuan pengobatan adalah mencapai keseimbangan hormonal kembali. Pada umumnya yang harus diobati adalah defisiensi estrogen.
Dengan pengobatan substitusi estrogen dapat ditemukan beberapa keuntungan disamping beberapa kerugian :
a. Pengendalian reaksi vasomotor
b. Pengurangan reaksi emosional
c. Pencegahan dan pengobatan genetalia
d. Pemeliharaan kulit yang baik
e. Pencegahan dan pengendalian osteoporosis
f. Berkurangnya resiko terjadinya aterosklerosis
g. Pencegahan dan pengendalian perdarahan tak teratur.
Mengingat bahwa defisiensi estrogen dalam waktu lama mempunyai pengaruh yang buruk maka pengobatan substitusi adalah pilihan pengobatan yang terbaik. Sedangkan sedatif dan obat tranquilizer merupakan obat yang mempunyai cara kerja yang berlainan sehingga hanya dapat dipakai pada kasus dengan gejala ringan saja.Secara garis besarnya pengobatan sustitusi hormonal mempunyai skema seperti dibawah ini :
Pengobatan dengan estrogen konjugasi 1,25 mg perhari selama 20 hari dengan interval 7-8 hari sebagai pengobatan awal selama bulan pertama, dilanjutkan dengan dosis sama setiap 4 hari untuk 3 minggu dengan interval 7-8 hari selama bulan ke 2 dan kemudian 1,25 mg setiap 7 hari, untuk 3 minggu dengan interval yang sama pada bulan ke 3 dan seterusnya, pengobatan ini merupakan cara yang efektif untuk penanganan kasus-kasus klimakterium.
4. Pembedahan
Sekitar 40-70% wanita dengan perdarahan abnormal pada masa premenopause akan sembuh dengan tindakan kuretase saja dan tidak membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Selanjutnya jika terjadi perdarahan lagi dalam masa 6 bulan dan tidak ada kecurigaan terhadap kemungkinan keganasan/hyperplasia maka pengobatan substitusi masih ada tempatnya. Sedangkan perdarahan berulang setelah 6 bulan maka perlu dilakukan kuretase ulang dan bila dianggap perlu dapat dilakukan histerektomia.
Beberapa hal yang mempercepat menopause :
1. tuberkolosis dan penyakit kronis lain
2. pemakaian obat steroid
3.Obat penurun berat badan
4. olahraga yang terlalu berat
Gizi yang Dibutuhkan oleh Wanita Menopause
Jenis zat-zat gizi yang harus diperhatikan adalah karbohidrat (dikonsumsi 55% lebih jenis yang karbohidrat kompleks), jumlah lemak yang dianjurkan berkisar 20-30%(hindari lemak hewani). Dianjurkan dalam mencegah osteoporosis agar dapat mengonsumsi kalsium disertai dengan vitamin D. Asupan kalsium sebesar 1.000- 1.200 mg dan 500 IU vitamin D per hari dapat meningkatkan efektifitas kalsium dan melindungi tulang terhadap osteoporosis.
Kesehatan perempuan di masa menopause dapat tetap dipelihara melalui pemanfaatan bahan alami yang memiliki kandungan sediaan serupa khasiat hormon estrogen.
Salah satu bahan alami itu adalah tempe. Di samping tempe yaitu tahu, tauco, susu kedelai, kacang tunggak, bengkuang, tokbi hingga biji-bijian seperti gandum, wijen maupun mengandung unsur mineral dan vitamin bermanfaat bagi perawat kesehatan organ tubuh serta alat reproduksi.Tips Untuk Memperlambat Menopause :
Hindari makanan yang instan
Makan makanan yang mengandung fitoestrogen seperti kacang-kacangan, buah pepaya, bengkuang dan lainnya
Olah raga teratur
Terapkan pola hidup sehat.
Menopause adalah proses menjadi tua yang fisiologis, tetapi beberapa wanita tetap saja mengalami kesulitan dalam proses penyesuaian dirinya, sehingga bidan yang menanganinya perlu mengetahui gejala yang bisa timbul, latar belakang dan penanganannya.
Menopause adalah kodrat yang akan dialami oleh setiap wanita, hendaknya dijalani dengan senang hati. Perlu selalu berbagai usaha hidup sehat sampai tua dan akhir hayat, jangan mengobati sendiri bila ada keluhan hendaknya berkonsultasi serta bersedia mentaati apa yang dikatakan oleh dokter memang ahlinya, dan dihindari bertanya pada orang yang bukan ahlinya.
Dengan makin meningkatnya usia harapan hidup wanita terutama di negara-negara sedang berkembang, maka akan makin banyak didapatkan wanita yang berusia lanjut, dalam arti kata dapat menikmati kehidupan setelah menopause atau setelah masa reproduksinya selesai.
Oleh sebab itulah, seorang bidan yang menangani wanita pada masa ini haruslah mengetahui perubahan hormonal dan metabolik yang terjadi, perubahan cara hidup yang diakibatkannya, serta cara-cara penanganannya.Untuk itu diperlukannya promosi kesehatan dalam menyampaikan perubahan-perubahan tersebut sehingga tidak ada lagi wanita yang menganggap masa menopause sebagai masa yang menakutkan dihari tuanya.
Dalam promosi kesehatan ini ada beberapa hal yang perlu kita sampaikan kepada para wanita mengenai masa menopause hal itu meliputi :
1. Apa itu menopause?
2. Bagaimana tanda dan gejalanya?
3. Bagaimana cara mengatasinya?
I.Pengertian menopause
Menopause berasal dari bahasa Yunani yang berarti berhentinya haid. Terjadi pada usia sekitar 50 tahun. Pada masa inilah terjadilah perdarahan rahim yang terakhir yang masih dikendalikan oleh hormon ovarium. Pramenopause adalah masa sebelum terjadinya menopause, biasanya sekitar 4 sampai 5 tahun sebelumnya. Pada saat ini biasanya telah didapatkan pola haid yang tidak teratur dan keluhan klimakterik yang lain.Pasca-menopause adalah masa 3 sampai 5 tahun setelah terjadinya menopause.Ooforepause adalah saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya. Sebenarnya ada 2 macam menopause yaitu menopause yang fisiologis dan menopause buatan. Pada menopause yang fisiologis maka terjadi kemunduran fungsi hormonal ovarium karena sebab-sebab yang fisiologis sedangkan menopause buatan terjadi karena campur tangan dari luar seperti radiasi, pasca operasi, obat-obatan dll.
Menopause terjadi karena gangguan dalam proses hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hal ini disebabkan karena menghilangnya oosit yang responsive terhadap rangsangan gonadotropin dan oosit gonadotropin. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan dalam produksi hormon ovarium yang selanjutnya akan juga mengganggu mekanisme umpan balik pada poros diatasnya.Yang pertama-tama mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya produksi steroid ovarium terutama estrogen akan menyebabkan pusat siklik hormone di hipotalamus meningkatkan produksi hormon pelepas gonadotropin (Gonadotropin Releasing Hormon = GnRh). Selanjutnya hal ini akan mengakibatkan peningkatan hormone gonadotropin dengan FSH (Follicle Stimulating Hormone) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari LH (Luteinizing Hormone). Kadar hormon inilah yang menjadi petunjuk yang baik untuk menentukan apakah seorang wanita berada dalam proses menopause. Peninggian kadar hormone gonadotropin ini akan terus meningkat dan mencapai maksimum 10-15 tahun setelah menopause dan kemudian akan turun perlahan-lahan dan terus menetap sampai masa senium dengan kadar yang lebih tinggi dari masa reproduksi.
Umumnya menopause terjadi pada usia sekitar 45-50 tahun, sedangkan menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun dikenal sebagai menopause yang terlalu dini (menopause praecox).Menopause yang terjadi terlalu dini dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti penyakit, obat-obatan, pembedahan dan radiasi. Berdasarkan perubahan pada hormone steroid ovarium maka dapat kita kenali beberapa fase pada masa klimakterium. Hormon progesterone yang merupakan produk utama korpus luteum mengalami gangguan pertama kali, sedangkan estrogen mula-mula akan tinggi dan kemudian berangsur-angsur menurun. Estrogen juga dapat dihasilkan oleh organ-organ ekstragenital seperti kelenjar adrenal. Hormone androgen juga mengalami penurunan pada masa klimakterium ini, baik yang dihasilkan oleh ovarium maupun oleh kelenjar adrenal.
Berdasarkan analisis hormonal maka menopause dapat dibagi dalam beberapa fase:
1.Fase hipolutein sampai alutein
Pertama-tama terjadi gangguan pembentukan korpus luteum yang berarti gangguan produksi progesterone dan akibatnya terjadi keadaan dominasi estrogen. Karena itu terjadi gangguan siklus haid yang menjurus terjadinya perdarahan uterus disfungsional. Karena tidak terjadi ovulasi maka hormone folikel akan terus dibentuk, maka terdapat keadaan hiperfolikulin yang berlangsung berbuln-bulan dengan gejala-gejala retensi air, gangguan kestabilan emosi, dismenoragia dengn hyperplasia glandularis kistika.
2. Fase hipofolikulin
Selanjutnya karena berkurangnya folikel yang responsive terhadap rangsang gonadotropin maka hormone folikelpun makin lama makin berkurang, walaupun terdapat sumber estrogen lain. Hal ini akan menyebabkan involusi alat-alat genetalia dan atrofi vagina. Pengaruh estrogen terhadap genetalia dapat dikenali dengan melakukan sediaan usap vagina.
3.Fase poligonadotorpin
Karena tidak adanya hormone steroid ovarium maka hipofise anterior mengeluarkan hormonnya tanpa hambatan. Hal ini akan menyebabkan hiperfungsi beberapa kelenjar yang tergantung dari hipofise.
Pembentukan berlebihan dari unsur tireotropin akan mengakibatkan gangguan kelenjar tiroid dan Basedow klimakterik, penurunan fungsi tiroid akan diikuti dengan miksedema klimakterik. Meningkatnya hormon kortikotropin dan gonadotropin akan menyebabkan kelenjar adrenal seolah-olah merupakan gonad ketiga. Hal ini akan mengakibatkan meningginya hormon pria dan pada saat yang sama menurunnya estrogen dari ovarium. Secara klinis hal ini akan tampak sebagai proses maskulinisasi, rambut melebat, suara berat dan dalam dll. Akibat meningkatnya adrenalin maka dapat pula dimengerti mengapa wanita klimakterik menjadi hipersensitif.
II. Tanda dan Gejala
Perubahan yang paling dirasakan oleh wanita dalam masa menopause adalah perubahan pola haidnya. Selain itu yang ditemukan juga adalah:
1.Gejala vasomotorik : berupa gejala primer defisiensi estrogen. Hal ini diikuti dengan ketidakseimbangan vasomotor sentral. Pada kelompok gejala ini termasuk gejolak panas/”hot flushes”, vertigo, keringat banyak dan parestesia.
2.Gejala konstitusionil : gejala sekunder akibat tidak langsung dari menurunnya kadar estrogen terhadap suatu keadaan. Misalnya mudah tersingung, sakit kepala dan migraine, keluhan kardiovaskuler, nteri otot dan panggul.
3.Gejala psikologis dan neurologis : Meliputi keadaan depresi, kelelahan badan, susah tidur dan rasa khawatir/”anxiety”.
4.Gejala-gejala lain : Termasuk didalamnya gangguan haid, keluhan vaginitis atrofikan seperti dispareuni, fluor albus, pruritus vulva, disuria dan gangguan libido.
PERUBAHAN-PERUBAHAN ORGANIK
Perubahan yang terjadi pada organ reproduksi :
Pada dasarnya terjadi atrofi pada seluruh alat reproduksi pada masa menopause. Lipatan mukosa pada tuba Fallopii ,akin lama makin tipis dan akhirnya menghilang. Uterus akan makin lama makin kecil dan endometriumnya atrofik. Serviks akan mengkerut dan dikelilingi oleh dinding vagina, kanalis servikalis akan menjadi sempit dan pendek, sumbatan pada kanalis ini dapat menyebabkan piometra. Perbandingan ukuran serviks-fundus dapat kembali seperti masa adolesen.
Elastisitas vagina berkurang, rugae menghilang, dinding vagina menipis, sehingga mudah mengalami laserasi dan iritasi. Glikogen berkurang, pertumbuhan Basil Doderlein terhambat dan akibatnya pH meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya uretritis dan terbentuknya karunkula.
Terjadinya atrofi pada jaringan dasar panggul dan membawa akibat hilangnya tonus dan elastisitas daerah ini dan diikuti dengan prolapsus uterovaginal. Atrofi pada perinium dan anus akan mengakibatkan inkotinensia alvi yang ringan. Pada vesika urinaria hilangnya fungsi otot spingter dan detrusor akan mengakibatkan ”stres incontinence”.
Pada payudara akan terjadi peningkatan lemak subkutan dan terjadi ketakteraturan bentuk dan dilatasi kistik dari lobulus mammae dalam masa premenopause. Pada masa pasca-menopause lemak subkutan berkurang, lobulus menghilang, stroma jaringan ikat menebal, puting susu mengecil dan kehilangan daya erektilnya, pigmentasi berkurang dan akhirnya payudara menjadi kecil, datar dan kendor.
Perubahan diluar sistem reproduksi
Kenaikan berat badan ringan didapatkan pada kira-kira 30% wanita yang mencapai masa klimakterik. Penyebaran lemak ini terutama didapatkan pada daerah tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. Penurunan estrogen dikatakan menurunkan aktifitas dan metabolisme umum sehingga intake makanan yang sama akan menimbulkan penimbunan lemak yang bertambah.
Penurunan kadar estrogen akan mengakibatkan peninggian kadar kolesterol dan hal ini membawa resiko aterosklerosis yang lebih besar. Pada fungsi ovarium yang masih baik, hampir tidak didapatkan aterosklerosis. Penyakit jantung koroner dan infark miokard terjadi 1-20 kali lebih sering pada wanita masa klimakterium. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningginya angka aterosklerosis dan hipertensi.
Terdapat peninggian tekanan darah yang terutama pada tekanan darah diastolik. Dua pertiga dari penderita hipertensi esensial adalah wanita berusia 45-70 tahun, dengan sebagian besarnya memulai penyakitnya pada masa klimakterium ini. Setiap serangan gejolak panas yang terjadi disertai dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sisitolik.
85% wanita mengalami osteoporosis, kebanyakan terjadi 10 tahun setelah menopause. Angka kejadiannya 2 kali lebih sering daripada pria usia yang sama. Pemberian estrogen dikatakan dapat menghindarkan terjadinya osteoporosis dan akibat ikutannya. Estrogen terutama bekerja pada proses eksresi kalsium diusus dan ginjal.
Akan juga timbul gejala defeminisasi dan maskulinisasi yang disebabkan berkurangnya estrogen dan efek antiandrogennya. Sebagian memang menunjukkan hiperfungsi parsial dari kelenjar adrenal dengan meningkatnya kadar 17-ketosteroid.
III.Penatalaksanaan
Dasar penatalaksanaan klimakterium seperti dapat dilihat dal skema dibawah ini meliputi :
1. Penatalaksanaan umum meliputi pendidikan dan konseling
2. Pengobatan sistomatik non-hormonal
3. Pengobatan hormonal dan penyesuaian perubahan endokrin
4. Pembedahan
Bukan pengobatan murni Pengobatan non hormonal Pengobatan hormonal
Penerangan Antikoligernik Estrogen (jenis berbeda, rute berbeda)
Psikoterapi Spasmolitika Estrogen-androgen
Sedativa
Hipnotika Estrogen-progesteron
Tranguilizer
Antidepresan
Tonika
Pembedahan
1. Penatalaksanaan Umum
Perlu ditekankan bahwa masa ini bukan berarti berakhirnya suatu kehidupan melainkan justru berarti mulainya suatu tingkat kehidupan yang baru. Proses menjadi tua serta menopause ini sedapat mungkin diterangkan dalam bahasa yang dapat dimengerti. Hubungan erat yang saling percaya antara dokter pasien dan sebaliknya sangat membantu mengatasi masalah ini dan mencegah terjadinya kesalahpahaman. Usaha ini dilakukan pada fase dengan gejala-gejala yang ringan saja. Beberapa peneliti mengatakan bahwa psikoterapi dangkal saja sudah akan sangat banyak menolong.
2. Pengobatan simtomatik non-hormonal
Gejala klimakterium yang cukup berat harus diobati baik secara medikamentosa ataupun dengan cara lain. Pengobatan yang tepat disesuaikan dengan keadaan penderita. Untuk gejala yang ringan maka sering dipakai sedatif, spasmolitika, dan bermacam-macam obat turunannya. Bagi gejala yang berat seperti gejolak panas yang berat, maka sedatif dan obat depresan lainnya tidak banyak pengaruhnya.
3. Pengobatan hormonal
Pada dasarnya menopause adalah suatu defisiensi hormonal yang terjadi secara fisiologis. Tujuan pengobatan adalah mencapai keseimbangan hormonal kembali. Pada umumnya yang harus diobati adalah defisiensi estrogen.
Dengan pengobatan substitusi estrogen dapat ditemukan beberapa keuntungan disamping beberapa kerugian :
a. Pengendalian reaksi vasomotor
b. Pengurangan reaksi emosional
c. Pencegahan dan pengobatan genetalia
d. Pemeliharaan kulit yang baik
e. Pencegahan dan pengendalian osteoporosis
f. Berkurangnya resiko terjadinya aterosklerosis
g. Pencegahan dan pengendalian perdarahan tak teratur.
Mengingat bahwa defisiensi estrogen dalam waktu lama mempunyai pengaruh yang buruk maka pengobatan substitusi adalah pilihan pengobatan yang terbaik. Sedangkan sedatif dan obat tranquilizer merupakan obat yang mempunyai cara kerja yang berlainan sehingga hanya dapat dipakai pada kasus dengan gejala ringan saja.Secara garis besarnya pengobatan sustitusi hormonal mempunyai skema seperti dibawah ini :
Pengobatan dengan estrogen konjugasi 1,25 mg perhari selama 20 hari dengan interval 7-8 hari sebagai pengobatan awal selama bulan pertama, dilanjutkan dengan dosis sama setiap 4 hari untuk 3 minggu dengan interval 7-8 hari selama bulan ke 2 dan kemudian 1,25 mg setiap 7 hari, untuk 3 minggu dengan interval yang sama pada bulan ke 3 dan seterusnya, pengobatan ini merupakan cara yang efektif untuk penanganan kasus-kasus klimakterium.
4. Pembedahan
Sekitar 40-70% wanita dengan perdarahan abnormal pada masa premenopause akan sembuh dengan tindakan kuretase saja dan tidak membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Selanjutnya jika terjadi perdarahan lagi dalam masa 6 bulan dan tidak ada kecurigaan terhadap kemungkinan keganasan/hyperplasia maka pengobatan substitusi masih ada tempatnya. Sedangkan perdarahan berulang setelah 6 bulan maka perlu dilakukan kuretase ulang dan bila dianggap perlu dapat dilakukan histerektomia.
Beberapa hal yang mempercepat menopause :
1. tuberkolosis dan penyakit kronis lain
2. pemakaian obat steroid
3.Obat penurun berat badan
4. olahraga yang terlalu berat
Gizi yang Dibutuhkan oleh Wanita Menopause
Jenis zat-zat gizi yang harus diperhatikan adalah karbohidrat (dikonsumsi 55% lebih jenis yang karbohidrat kompleks), jumlah lemak yang dianjurkan berkisar 20-30%(hindari lemak hewani). Dianjurkan dalam mencegah osteoporosis agar dapat mengonsumsi kalsium disertai dengan vitamin D. Asupan kalsium sebesar 1.000- 1.200 mg dan 500 IU vitamin D per hari dapat meningkatkan efektifitas kalsium dan melindungi tulang terhadap osteoporosis.
Kesehatan perempuan di masa menopause dapat tetap dipelihara melalui pemanfaatan bahan alami yang memiliki kandungan sediaan serupa khasiat hormon estrogen.
Salah satu bahan alami itu adalah tempe. Di samping tempe yaitu tahu, tauco, susu kedelai, kacang tunggak, bengkuang, tokbi hingga biji-bijian seperti gandum, wijen maupun mengandung unsur mineral dan vitamin bermanfaat bagi perawat kesehatan organ tubuh serta alat reproduksi.Tips Untuk Memperlambat Menopause :
Hindari makanan yang instan
Makan makanan yang mengandung fitoestrogen seperti kacang-kacangan, buah pepaya, bengkuang dan lainnya
Olah raga teratur
Terapkan pola hidup sehat.
Menopause adalah proses menjadi tua yang fisiologis, tetapi beberapa wanita tetap saja mengalami kesulitan dalam proses penyesuaian dirinya, sehingga bidan yang menanganinya perlu mengetahui gejala yang bisa timbul, latar belakang dan penanganannya.
Menopause adalah kodrat yang akan dialami oleh setiap wanita, hendaknya dijalani dengan senang hati. Perlu selalu berbagai usaha hidup sehat sampai tua dan akhir hayat, jangan mengobati sendiri bila ada keluhan hendaknya berkonsultasi serta bersedia mentaati apa yang dikatakan oleh dokter memang ahlinya, dan dihindari bertanya pada orang yang bukan ahlinya.
PROMOSI KESEHATAN BIDAN TERHADAP WANITA MENOPAUSE
PROMOSI KESEHATAN BIDAN TERHADAP WANITA MENOPAUSE
Dengan makin meningkatnya usia harapan hidup wanita terutama di negara-negara sedang berkembang, maka akan makin banyak didapatkan wanita yang berusia lanjut, dalam arti kata dapat menikmati kehidupan setelah menopause atau setelah masa reproduksinya selesai.
Oleh sebab itulah, seorang bidan yang menangani wanita pada masa ini haruslah mengetahui perubahan hormonal dan metabolik yang terjadi, perubahan cara hidup yang diakibatkannya, serta cara-cara penanganannya.Untuk itu diperlukannya promosi kesehatan dalam menyampaikan perubahan-perubahan tersebut sehingga tidak ada lagi wanita yang menganggap masa menopause sebagai masa yang menakutkan dihari tuanya.
Dalam promosi kesehatan ini ada beberapa hal yang perlu kita sampaikan kepada para wanita mengenai masa menopause hal itu meliputi :
1. Apa itu menopause?
2. Bagaimana tanda dan gejalanya?
3. Bagaimana cara mengatasinya?
I.Pengertian menopause
Menopause berasal dari bahasa Yunani yang berarti berhentinya haid. Terjadi pada usia sekitar 50 tahun. Pada masa inilah terjadilah perdarahan rahim yang terakhir yang masih dikendalikan oleh hormon ovarium. Pramenopause adalah masa sebelum terjadinya menopause, biasanya sekitar 4 sampai 5 tahun sebelumnya. Pada saat ini biasanya telah didapatkan pola haid yang tidak teratur dan keluhan klimakterik yang lain.Pasca-menopause adalah masa 3 sampai 5 tahun setelah terjadinya menopause.Ooforepause adalah saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya. Sebenarnya ada 2 macam menopause yaitu menopause yang fisiologis dan menopause buatan. Pada menopause yang fisiologis maka terjadi kemunduran fungsi hormonal ovarium karena sebab-sebab yang fisiologis sedangkan menopause buatan terjadi karena campur tangan dari luar seperti radiasi, pasca operasi, obat-obatan dll.
Menopause terjadi karena gangguan dalam proses hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hal ini disebabkan karena menghilangnya oosit yang responsive terhadap rangsangan gonadotropin dan oosit gonadotropin. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan dalam produksi hormon ovarium yang selanjutnya akan juga mengganggu mekanisme umpan balik pada poros diatasnya.Yang pertama-tama mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya produksi steroid ovarium terutama estrogen akan menyebabkan pusat siklik hormone di hipotalamus meningkatkan produksi hormon pelepas gonadotropin (Gonadotropin Releasing Hormon = GnRh). Selanjutnya hal ini akan mengakibatkan peningkatan hormone gonadotropin dengan FSH (Follicle Stimulating Hormone) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari LH (Luteinizing Hormone). Kadar hormon inilah yang menjadi petunjuk yang baik untuk menentukan apakah seorang wanita berada dalam proses menopause. Peninggian kadar hormone gonadotropin ini akan terus meningkat dan mencapai maksimum 10-15 tahun setelah menopause dan kemudian akan turun perlahan-lahan dan terus menetap sampai masa senium dengan kadar yang lebih tinggi dari masa reproduksi.
Umumnya menopause terjadi pada usia sekitar 45-50 tahun, sedangkan menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun dikenal sebagai menopause yang terlalu dini (menopause praecox).Menopause yang terjadi terlalu dini dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti penyakit, obat-obatan, pembedahan dan radiasi. Berdasarkan perubahan pada hormone steroid ovarium maka dapat kita kenali beberapa fase pada masa klimakterium. Hormon progesterone yang merupakan produk utama korpus luteum mengalami gangguan pertama kali, sedangkan estrogen mula-mula akan tinggi dan kemudian berangsur-angsur menurun. Estrogen juga dapat dihasilkan oleh organ-organ ekstragenital seperti kelenjar adrenal. Hormone androgen juga mengalami penurunan pada masa klimakterium ini, baik yang dihasilkan oleh ovarium maupun oleh kelenjar adrenal.
Berdasarkan analisis hormonal maka menopause dapat dibagi dalam beberapa fase:
1.Fase hipolutein sampai alutein
Pertama-tama terjadi gangguan pembentukan korpus luteum yang berarti gangguan produksi progesterone dan akibatnya terjadi keadaan dominasi estrogen. Karena itu terjadi gangguan siklus haid yang menjurus terjadinya perdarahan uterus disfungsional. Karena tidak terjadi ovulasi maka hormone folikel akan terus dibentuk, maka terdapat keadaan hiperfolikulin yang berlangsung berbuln-bulan dengan gejala-gejala retensi air, gangguan kestabilan emosi, dismenoragia dengn hyperplasia glandularis kistika.
2. Fase hipofolikulin
Selanjutnya karena berkurangnya folikel yang responsive terhadap rangsang gonadotropin maka hormone folikelpun makin lama makin berkurang, walaupun terdapat sumber estrogen lain. Hal ini akan menyebabkan involusi alat-alat genetalia dan atrofi vagina. Pengaruh estrogen terhadap genetalia dapat dikenali dengan melakukan sediaan usap vagina.
3.Fase poligonadotorpin
Karena tidak adanya hormone steroid ovarium maka hipofise anterior mengeluarkan hormonnya tanpa hambatan. Hal ini akan menyebabkan hiperfungsi beberapa kelenjar yang tergantung dari hipofise.
Pembentukan berlebihan dari unsur tireotropin akan mengakibatkan gangguan kelenjar tiroid dan Basedow klimakterik, penurunan fungsi tiroid akan diikuti dengan miksedema klimakterik. Meningkatnya hormon kortikotropin dan gonadotropin akan menyebabkan kelenjar adrenal seolah-olah merupakan gonad ketiga. Hal ini akan mengakibatkan meningginya hormon pria dan pada saat yang sama menurunnya estrogen dari ovarium. Secara klinis hal ini akan tampak sebagai proses maskulinisasi, rambut melebat, suara berat dan dalam dll. Akibat meningkatnya adrenalin maka dapat pula dimengerti mengapa wanita klimakterik menjadi hipersensitif.
II. Tanda dan Gejala
Perubahan yang paling dirasakan oleh wanita dalam masa menopause adalah perubahan pola haidnya. Selain itu yang ditemukan juga adalah:
1.Gejala vasomotorik : berupa gejala primer defisiensi estrogen. Hal ini diikuti dengan ketidakseimbangan vasomotor sentral. Pada kelompok gejala ini termasuk gejolak panas/”hot flushes”, vertigo, keringat banyak dan parestesia.
2.Gejala konstitusionil : gejala sekunder akibat tidak langsung dari menurunnya kadar estrogen terhadap suatu keadaan. Misalnya mudah tersingung, sakit kepala dan migraine, keluhan kardiovaskuler, nteri otot dan panggul.
3.Gejala psikologis dan neurologis : Meliputi keadaan depresi, kelelahan badan, susah tidur dan rasa khawatir/”anxiety”.
4.Gejala-gejala lain : Termasuk didalamnya gangguan haid, keluhan vaginitis atrofikan seperti dispareuni, fluor albus, pruritus vulva, disuria dan gangguan libido.
PERUBAHAN-PERUBAHAN ORGANIK
Perubahan yang terjadi pada organ reproduksi :
Pada dasarnya terjadi atrofi pada seluruh alat reproduksi pada masa menopause. Lipatan mukosa pada tuba Fallopii ,akin lama makin tipis dan akhirnya menghilang. Uterus akan makin lama makin kecil dan endometriumnya atrofik. Serviks akan mengkerut dan dikelilingi oleh dinding vagina, kanalis servikalis akan menjadi sempit dan pendek, sumbatan pada kanalis ini dapat menyebabkan piometra. Perbandingan ukuran serviks-fundus dapat kembali seperti masa adolesen.
Elastisitas vagina berkurang, rugae menghilang, dinding vagina menipis, sehingga mudah mengalami laserasi dan iritasi. Glikogen berkurang, pertumbuhan Basil Doderlein terhambat dan akibatnya pH meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya uretritis dan terbentuknya karunkula.
Terjadinya atrofi pada jaringan dasar panggul dan membawa akibat hilangnya tonus dan elastisitas daerah ini dan diikuti dengan prolapsus uterovaginal. Atrofi pada perinium dan anus akan mengakibatkan inkotinensia alvi yang ringan. Pada vesika urinaria hilangnya fungsi otot spingter dan detrusor akan mengakibatkan ”stres incontinence”.
Pada payudara akan terjadi peningkatan lemak subkutan dan terjadi ketakteraturan bentuk dan dilatasi kistik dari lobulus mammae dalam masa premenopause. Pada masa pasca-menopause lemak subkutan berkurang, lobulus menghilang, stroma jaringan ikat menebal, puting susu mengecil dan kehilangan daya erektilnya, pigmentasi berkurang dan akhirnya payudara menjadi kecil, datar dan kendor.
Perubahan diluar sistem reproduksi
Kenaikan berat badan ringan didapatkan pada kira-kira 30% wanita yang mencapai masa klimakterik. Penyebaran lemak ini terutama didapatkan pada daerah tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. Penurunan estrogen dikatakan menurunkan aktifitas dan metabolisme umum sehingga intake makanan yang sama akan menimbulkan penimbunan lemak yang bertambah.
Penurunan kadar estrogen akan mengakibatkan peninggian kadar kolesterol dan hal ini membawa resiko aterosklerosis yang lebih besar. Pada fungsi ovarium yang masih baik, hampir tidak didapatkan aterosklerosis. Penyakit jantung koroner dan infark miokard terjadi 1-20 kali lebih sering pada wanita masa klimakterium. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningginya angka aterosklerosis dan hipertensi.
Terdapat peninggian tekanan darah yang terutama pada tekanan darah diastolik. Dua pertiga dari penderita hipertensi esensial adalah wanita berusia 45-70 tahun, dengan sebagian besarnya memulai penyakitnya pada masa klimakterium ini. Setiap serangan gejolak panas yang terjadi disertai dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sisitolik.
85% wanita mengalami osteoporosis, kebanyakan terjadi 10 tahun setelah menopause. Angka kejadiannya 2 kali lebih sering daripada pria usia yang sama. Pemberian estrogen dikatakan dapat menghindarkan terjadinya osteoporosis dan akibat ikutannya. Estrogen terutama bekerja pada proses eksresi kalsium diusus dan ginjal.
Akan juga timbul gejala defeminisasi dan maskulinisasi yang disebabkan berkurangnya estrogen dan efek antiandrogennya. Sebagian memang menunjukkan hiperfungsi parsial dari kelenjar adrenal dengan meningkatnya kadar 17-ketosteroid.
III.Penatalaksanaan
Dasar penatalaksanaan klimakterium seperti dapat dilihat dal skema dibawah ini meliputi :
1. Penatalaksanaan umum meliputi pendidikan dan konseling
2. Pengobatan sistomatik non-hormonal
3. Pengobatan hormonal dan penyesuaian perubahan endokrin
4. Pembedahan
Bukan pengobatan murni Pengobatan non hormonal Pengobatan hormonal
Penerangan Antikoligernik Estrogen (jenis berbeda, rute berbeda)
Psikoterapi Spasmolitika Estrogen-androgen
Sedativa
Hipnotika Estrogen-progesteron
Tranguilizer
Antidepresan
Tonika
Pembedahan
1. Penatalaksanaan Umum
Perlu ditekankan bahwa masa ini bukan berarti berakhirnya suatu kehidupan melainkan justru berarti mulainya suatu tingkat kehidupan yang baru. Proses menjadi tua serta menopause ini sedapat mungkin diterangkan dalam bahasa yang dapat dimengerti. Hubungan erat yang saling percaya antara dokter pasien dan sebaliknya sangat membantu mengatasi masalah ini dan mencegah terjadinya kesalahpahaman. Usaha ini dilakukan pada fase dengan gejala-gejala yang ringan saja. Beberapa peneliti mengatakan bahwa psikoterapi dangkal saja sudah akan sangat banyak menolong.
2. Pengobatan simtomatik non-hormonal
Gejala klimakterium yang cukup berat harus diobati baik secara medikamentosa ataupun dengan cara lain. Pengobatan yang tepat disesuaikan dengan keadaan penderita. Untuk gejala yang ringan maka sering dipakai sedatif, spasmolitika, dan bermacam-macam obat turunannya. Bagi gejala yang berat seperti gejolak panas yang berat, maka sedatif dan obat depresan lainnya tidak banyak pengaruhnya.
3. Pengobatan hormonal
Pada dasarnya menopause adalah suatu defisiensi hormonal yang terjadi secara fisiologis. Tujuan pengobatan adalah mencapai keseimbangan hormonal kembali. Pada umumnya yang harus diobati adalah defisiensi estrogen.
Dengan pengobatan substitusi estrogen dapat ditemukan beberapa keuntungan disamping beberapa kerugian :
a. Pengendalian reaksi vasomotor
b. Pengurangan reaksi emosional
c. Pencegahan dan pengobatan genetalia
d. Pemeliharaan kulit yang baik
e. Pencegahan dan pengendalian osteoporosis
f. Berkurangnya resiko terjadinya aterosklerosis
g. Pencegahan dan pengendalian perdarahan tak teratur.
Mengingat bahwa defisiensi estrogen dalam waktu lama mempunyai pengaruh yang buruk maka pengobatan substitusi adalah pilihan pengobatan yang terbaik. Sedangkan sedatif dan obat tranquilizer merupakan obat yang mempunyai cara kerja yang berlainan sehingga hanya dapat dipakai pada kasus dengan gejala ringan saja.Secara garis besarnya pengobatan sustitusi hormonal mempunyai skema seperti dibawah ini :
Pengobatan dengan estrogen konjugasi 1,25 mg perhari selama 20 hari dengan interval 7-8 hari sebagai pengobatan awal selama bulan pertama, dilanjutkan dengan dosis sama setiap 4 hari untuk 3 minggu dengan interval 7-8 hari selama bulan ke 2 dan kemudian 1,25 mg setiap 7 hari, untuk 3 minggu dengan interval yang sama pada bulan ke 3 dan seterusnya, pengobatan ini merupakan cara yang efektif untuk penanganan kasus-kasus klimakterium.
4. Pembedahan
Sekitar 40-70% wanita dengan perdarahan abnormal pada masa premenopause akan sembuh dengan tindakan kuretase saja dan tidak membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Selanjutnya jika terjadi perdarahan lagi dalam masa 6 bulan dan tidak ada kecurigaan terhadap kemungkinan keganasan/hyperplasia maka pengobatan substitusi masih ada tempatnya. Sedangkan perdarahan berulang setelah 6 bulan maka perlu dilakukan kuretase ulang dan bila dianggap perlu dapat dilakukan histerektomia.
Beberapa hal yang mempercepat menopause :
1. tuberkolosis dan penyakit kronis lain
2. pemakaian obat steroid
3.Obat penurun berat badan
4. olahraga yang terlalu berat
Gizi yang Dibutuhkan oleh Wanita Menopause
Jenis zat-zat gizi yang harus diperhatikan adalah karbohidrat (dikonsumsi 55% lebih jenis yang karbohidrat kompleks), jumlah lemak yang dianjurkan berkisar 20-30%(hindari lemak hewani). Dianjurkan dalam mencegah osteoporosis agar dapat mengonsumsi kalsium disertai dengan vitamin D. Asupan kalsium sebesar 1.000- 1.200 mg dan 500 IU vitamin D per hari dapat meningkatkan efektifitas kalsium dan melindungi tulang terhadap osteoporosis.
Kesehatan perempuan di masa menopause dapat tetap dipelihara melalui pemanfaatan bahan alami yang memiliki kandungan sediaan serupa khasiat hormon estrogen.
Salah satu bahan alami itu adalah tempe. Di samping tempe yaitu tahu, tauco, susu kedelai, kacang tunggak, bengkuang, tokbi hingga biji-bijian seperti gandum, wijen maupun mengandung unsur mineral dan vitamin bermanfaat bagi perawat kesehatan organ tubuh serta alat reproduksi.Tips Untuk Memperlambat Menopause :
Hindari makanan yang instan
Makan makanan yang mengandung fitoestrogen seperti kacang-kacangan, buah pepaya, bengkuang dan lainnya
Olah raga teratur
Terapkan pola hidup sehat.
Menopause adalah proses menjadi tua yang fisiologis, tetapi beberapa wanita tetap saja mengalami kesulitan dalam proses penyesuaian dirinya, sehingga bidan yang menanganinya perlu mengetahui gejala yang bisa timbul, latar belakang dan penanganannya.
Menopause adalah kodrat yang akan dialami oleh setiap wanita, hendaknya dijalani dengan senang hati. Perlu selalu berbagai usaha hidup sehat sampai tua dan akhir hayat, jangan mengobati sendiri bila ada keluhan hendaknya berkonsultasi serta bersedia mentaati apa yang dikatakan oleh dokter memang ahlinya, dan dihindari bertanya pada orang yang bukan ahlinya.
Dengan makin meningkatnya usia harapan hidup wanita terutama di negara-negara sedang berkembang, maka akan makin banyak didapatkan wanita yang berusia lanjut, dalam arti kata dapat menikmati kehidupan setelah menopause atau setelah masa reproduksinya selesai.
Oleh sebab itulah, seorang bidan yang menangani wanita pada masa ini haruslah mengetahui perubahan hormonal dan metabolik yang terjadi, perubahan cara hidup yang diakibatkannya, serta cara-cara penanganannya.Untuk itu diperlukannya promosi kesehatan dalam menyampaikan perubahan-perubahan tersebut sehingga tidak ada lagi wanita yang menganggap masa menopause sebagai masa yang menakutkan dihari tuanya.
Dalam promosi kesehatan ini ada beberapa hal yang perlu kita sampaikan kepada para wanita mengenai masa menopause hal itu meliputi :
1. Apa itu menopause?
2. Bagaimana tanda dan gejalanya?
3. Bagaimana cara mengatasinya?
I.Pengertian menopause
Menopause berasal dari bahasa Yunani yang berarti berhentinya haid. Terjadi pada usia sekitar 50 tahun. Pada masa inilah terjadilah perdarahan rahim yang terakhir yang masih dikendalikan oleh hormon ovarium. Pramenopause adalah masa sebelum terjadinya menopause, biasanya sekitar 4 sampai 5 tahun sebelumnya. Pada saat ini biasanya telah didapatkan pola haid yang tidak teratur dan keluhan klimakterik yang lain.Pasca-menopause adalah masa 3 sampai 5 tahun setelah terjadinya menopause.Ooforepause adalah saat ovarium kehilangan sama sekali fungsi hormonalnya. Sebenarnya ada 2 macam menopause yaitu menopause yang fisiologis dan menopause buatan. Pada menopause yang fisiologis maka terjadi kemunduran fungsi hormonal ovarium karena sebab-sebab yang fisiologis sedangkan menopause buatan terjadi karena campur tangan dari luar seperti radiasi, pasca operasi, obat-obatan dll.
Menopause terjadi karena gangguan dalam proses hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hal ini disebabkan karena menghilangnya oosit yang responsive terhadap rangsangan gonadotropin dan oosit gonadotropin. Keadaan ini akan menyebabkan gangguan dalam produksi hormon ovarium yang selanjutnya akan juga mengganggu mekanisme umpan balik pada poros diatasnya.Yang pertama-tama mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya produksi steroid ovarium terutama estrogen akan menyebabkan pusat siklik hormone di hipotalamus meningkatkan produksi hormon pelepas gonadotropin (Gonadotropin Releasing Hormon = GnRh). Selanjutnya hal ini akan mengakibatkan peningkatan hormone gonadotropin dengan FSH (Follicle Stimulating Hormone) mengalami kenaikan yang lebih tinggi dari LH (Luteinizing Hormone). Kadar hormon inilah yang menjadi petunjuk yang baik untuk menentukan apakah seorang wanita berada dalam proses menopause. Peninggian kadar hormone gonadotropin ini akan terus meningkat dan mencapai maksimum 10-15 tahun setelah menopause dan kemudian akan turun perlahan-lahan dan terus menetap sampai masa senium dengan kadar yang lebih tinggi dari masa reproduksi.
Umumnya menopause terjadi pada usia sekitar 45-50 tahun, sedangkan menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun dikenal sebagai menopause yang terlalu dini (menopause praecox).Menopause yang terjadi terlalu dini dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti penyakit, obat-obatan, pembedahan dan radiasi. Berdasarkan perubahan pada hormone steroid ovarium maka dapat kita kenali beberapa fase pada masa klimakterium. Hormon progesterone yang merupakan produk utama korpus luteum mengalami gangguan pertama kali, sedangkan estrogen mula-mula akan tinggi dan kemudian berangsur-angsur menurun. Estrogen juga dapat dihasilkan oleh organ-organ ekstragenital seperti kelenjar adrenal. Hormone androgen juga mengalami penurunan pada masa klimakterium ini, baik yang dihasilkan oleh ovarium maupun oleh kelenjar adrenal.
Berdasarkan analisis hormonal maka menopause dapat dibagi dalam beberapa fase:
1.Fase hipolutein sampai alutein
Pertama-tama terjadi gangguan pembentukan korpus luteum yang berarti gangguan produksi progesterone dan akibatnya terjadi keadaan dominasi estrogen. Karena itu terjadi gangguan siklus haid yang menjurus terjadinya perdarahan uterus disfungsional. Karena tidak terjadi ovulasi maka hormone folikel akan terus dibentuk, maka terdapat keadaan hiperfolikulin yang berlangsung berbuln-bulan dengan gejala-gejala retensi air, gangguan kestabilan emosi, dismenoragia dengn hyperplasia glandularis kistika.
2. Fase hipofolikulin
Selanjutnya karena berkurangnya folikel yang responsive terhadap rangsang gonadotropin maka hormone folikelpun makin lama makin berkurang, walaupun terdapat sumber estrogen lain. Hal ini akan menyebabkan involusi alat-alat genetalia dan atrofi vagina. Pengaruh estrogen terhadap genetalia dapat dikenali dengan melakukan sediaan usap vagina.
3.Fase poligonadotorpin
Karena tidak adanya hormone steroid ovarium maka hipofise anterior mengeluarkan hormonnya tanpa hambatan. Hal ini akan menyebabkan hiperfungsi beberapa kelenjar yang tergantung dari hipofise.
Pembentukan berlebihan dari unsur tireotropin akan mengakibatkan gangguan kelenjar tiroid dan Basedow klimakterik, penurunan fungsi tiroid akan diikuti dengan miksedema klimakterik. Meningkatnya hormon kortikotropin dan gonadotropin akan menyebabkan kelenjar adrenal seolah-olah merupakan gonad ketiga. Hal ini akan mengakibatkan meningginya hormon pria dan pada saat yang sama menurunnya estrogen dari ovarium. Secara klinis hal ini akan tampak sebagai proses maskulinisasi, rambut melebat, suara berat dan dalam dll. Akibat meningkatnya adrenalin maka dapat pula dimengerti mengapa wanita klimakterik menjadi hipersensitif.
II. Tanda dan Gejala
Perubahan yang paling dirasakan oleh wanita dalam masa menopause adalah perubahan pola haidnya. Selain itu yang ditemukan juga adalah:
1.Gejala vasomotorik : berupa gejala primer defisiensi estrogen. Hal ini diikuti dengan ketidakseimbangan vasomotor sentral. Pada kelompok gejala ini termasuk gejolak panas/”hot flushes”, vertigo, keringat banyak dan parestesia.
2.Gejala konstitusionil : gejala sekunder akibat tidak langsung dari menurunnya kadar estrogen terhadap suatu keadaan. Misalnya mudah tersingung, sakit kepala dan migraine, keluhan kardiovaskuler, nteri otot dan panggul.
3.Gejala psikologis dan neurologis : Meliputi keadaan depresi, kelelahan badan, susah tidur dan rasa khawatir/”anxiety”.
4.Gejala-gejala lain : Termasuk didalamnya gangguan haid, keluhan vaginitis atrofikan seperti dispareuni, fluor albus, pruritus vulva, disuria dan gangguan libido.
PERUBAHAN-PERUBAHAN ORGANIK
Perubahan yang terjadi pada organ reproduksi :
Pada dasarnya terjadi atrofi pada seluruh alat reproduksi pada masa menopause. Lipatan mukosa pada tuba Fallopii ,akin lama makin tipis dan akhirnya menghilang. Uterus akan makin lama makin kecil dan endometriumnya atrofik. Serviks akan mengkerut dan dikelilingi oleh dinding vagina, kanalis servikalis akan menjadi sempit dan pendek, sumbatan pada kanalis ini dapat menyebabkan piometra. Perbandingan ukuran serviks-fundus dapat kembali seperti masa adolesen.
Elastisitas vagina berkurang, rugae menghilang, dinding vagina menipis, sehingga mudah mengalami laserasi dan iritasi. Glikogen berkurang, pertumbuhan Basil Doderlein terhambat dan akibatnya pH meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya uretritis dan terbentuknya karunkula.
Terjadinya atrofi pada jaringan dasar panggul dan membawa akibat hilangnya tonus dan elastisitas daerah ini dan diikuti dengan prolapsus uterovaginal. Atrofi pada perinium dan anus akan mengakibatkan inkotinensia alvi yang ringan. Pada vesika urinaria hilangnya fungsi otot spingter dan detrusor akan mengakibatkan ”stres incontinence”.
Pada payudara akan terjadi peningkatan lemak subkutan dan terjadi ketakteraturan bentuk dan dilatasi kistik dari lobulus mammae dalam masa premenopause. Pada masa pasca-menopause lemak subkutan berkurang, lobulus menghilang, stroma jaringan ikat menebal, puting susu mengecil dan kehilangan daya erektilnya, pigmentasi berkurang dan akhirnya payudara menjadi kecil, datar dan kendor.
Perubahan diluar sistem reproduksi
Kenaikan berat badan ringan didapatkan pada kira-kira 30% wanita yang mencapai masa klimakterik. Penyebaran lemak ini terutama didapatkan pada daerah tungkai atas, pinggul, perut bawah dan lengan atas. Penurunan estrogen dikatakan menurunkan aktifitas dan metabolisme umum sehingga intake makanan yang sama akan menimbulkan penimbunan lemak yang bertambah.
Penurunan kadar estrogen akan mengakibatkan peninggian kadar kolesterol dan hal ini membawa resiko aterosklerosis yang lebih besar. Pada fungsi ovarium yang masih baik, hampir tidak didapatkan aterosklerosis. Penyakit jantung koroner dan infark miokard terjadi 1-20 kali lebih sering pada wanita masa klimakterium. Hal ini mungkin disebabkan oleh meningginya angka aterosklerosis dan hipertensi.
Terdapat peninggian tekanan darah yang terutama pada tekanan darah diastolik. Dua pertiga dari penderita hipertensi esensial adalah wanita berusia 45-70 tahun, dengan sebagian besarnya memulai penyakitnya pada masa klimakterium ini. Setiap serangan gejolak panas yang terjadi disertai dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan sisitolik.
85% wanita mengalami osteoporosis, kebanyakan terjadi 10 tahun setelah menopause. Angka kejadiannya 2 kali lebih sering daripada pria usia yang sama. Pemberian estrogen dikatakan dapat menghindarkan terjadinya osteoporosis dan akibat ikutannya. Estrogen terutama bekerja pada proses eksresi kalsium diusus dan ginjal.
Akan juga timbul gejala defeminisasi dan maskulinisasi yang disebabkan berkurangnya estrogen dan efek antiandrogennya. Sebagian memang menunjukkan hiperfungsi parsial dari kelenjar adrenal dengan meningkatnya kadar 17-ketosteroid.
III.Penatalaksanaan
Dasar penatalaksanaan klimakterium seperti dapat dilihat dal skema dibawah ini meliputi :
1. Penatalaksanaan umum meliputi pendidikan dan konseling
2. Pengobatan sistomatik non-hormonal
3. Pengobatan hormonal dan penyesuaian perubahan endokrin
4. Pembedahan
Bukan pengobatan murni Pengobatan non hormonal Pengobatan hormonal
Penerangan Antikoligernik Estrogen (jenis berbeda, rute berbeda)
Psikoterapi Spasmolitika Estrogen-androgen
Sedativa
Hipnotika Estrogen-progesteron
Tranguilizer
Antidepresan
Tonika
Pembedahan
1. Penatalaksanaan Umum
Perlu ditekankan bahwa masa ini bukan berarti berakhirnya suatu kehidupan melainkan justru berarti mulainya suatu tingkat kehidupan yang baru. Proses menjadi tua serta menopause ini sedapat mungkin diterangkan dalam bahasa yang dapat dimengerti. Hubungan erat yang saling percaya antara dokter pasien dan sebaliknya sangat membantu mengatasi masalah ini dan mencegah terjadinya kesalahpahaman. Usaha ini dilakukan pada fase dengan gejala-gejala yang ringan saja. Beberapa peneliti mengatakan bahwa psikoterapi dangkal saja sudah akan sangat banyak menolong.
2. Pengobatan simtomatik non-hormonal
Gejala klimakterium yang cukup berat harus diobati baik secara medikamentosa ataupun dengan cara lain. Pengobatan yang tepat disesuaikan dengan keadaan penderita. Untuk gejala yang ringan maka sering dipakai sedatif, spasmolitika, dan bermacam-macam obat turunannya. Bagi gejala yang berat seperti gejolak panas yang berat, maka sedatif dan obat depresan lainnya tidak banyak pengaruhnya.
3. Pengobatan hormonal
Pada dasarnya menopause adalah suatu defisiensi hormonal yang terjadi secara fisiologis. Tujuan pengobatan adalah mencapai keseimbangan hormonal kembali. Pada umumnya yang harus diobati adalah defisiensi estrogen.
Dengan pengobatan substitusi estrogen dapat ditemukan beberapa keuntungan disamping beberapa kerugian :
a. Pengendalian reaksi vasomotor
b. Pengurangan reaksi emosional
c. Pencegahan dan pengobatan genetalia
d. Pemeliharaan kulit yang baik
e. Pencegahan dan pengendalian osteoporosis
f. Berkurangnya resiko terjadinya aterosklerosis
g. Pencegahan dan pengendalian perdarahan tak teratur.
Mengingat bahwa defisiensi estrogen dalam waktu lama mempunyai pengaruh yang buruk maka pengobatan substitusi adalah pilihan pengobatan yang terbaik. Sedangkan sedatif dan obat tranquilizer merupakan obat yang mempunyai cara kerja yang berlainan sehingga hanya dapat dipakai pada kasus dengan gejala ringan saja.Secara garis besarnya pengobatan sustitusi hormonal mempunyai skema seperti dibawah ini :
Pengobatan dengan estrogen konjugasi 1,25 mg perhari selama 20 hari dengan interval 7-8 hari sebagai pengobatan awal selama bulan pertama, dilanjutkan dengan dosis sama setiap 4 hari untuk 3 minggu dengan interval 7-8 hari selama bulan ke 2 dan kemudian 1,25 mg setiap 7 hari, untuk 3 minggu dengan interval yang sama pada bulan ke 3 dan seterusnya, pengobatan ini merupakan cara yang efektif untuk penanganan kasus-kasus klimakterium.
4. Pembedahan
Sekitar 40-70% wanita dengan perdarahan abnormal pada masa premenopause akan sembuh dengan tindakan kuretase saja dan tidak membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Selanjutnya jika terjadi perdarahan lagi dalam masa 6 bulan dan tidak ada kecurigaan terhadap kemungkinan keganasan/hyperplasia maka pengobatan substitusi masih ada tempatnya. Sedangkan perdarahan berulang setelah 6 bulan maka perlu dilakukan kuretase ulang dan bila dianggap perlu dapat dilakukan histerektomia.
Beberapa hal yang mempercepat menopause :
1. tuberkolosis dan penyakit kronis lain
2. pemakaian obat steroid
3.Obat penurun berat badan
4. olahraga yang terlalu berat
Gizi yang Dibutuhkan oleh Wanita Menopause
Jenis zat-zat gizi yang harus diperhatikan adalah karbohidrat (dikonsumsi 55% lebih jenis yang karbohidrat kompleks), jumlah lemak yang dianjurkan berkisar 20-30%(hindari lemak hewani). Dianjurkan dalam mencegah osteoporosis agar dapat mengonsumsi kalsium disertai dengan vitamin D. Asupan kalsium sebesar 1.000- 1.200 mg dan 500 IU vitamin D per hari dapat meningkatkan efektifitas kalsium dan melindungi tulang terhadap osteoporosis.
Kesehatan perempuan di masa menopause dapat tetap dipelihara melalui pemanfaatan bahan alami yang memiliki kandungan sediaan serupa khasiat hormon estrogen.
Salah satu bahan alami itu adalah tempe. Di samping tempe yaitu tahu, tauco, susu kedelai, kacang tunggak, bengkuang, tokbi hingga biji-bijian seperti gandum, wijen maupun mengandung unsur mineral dan vitamin bermanfaat bagi perawat kesehatan organ tubuh serta alat reproduksi.Tips Untuk Memperlambat Menopause :
Hindari makanan yang instan
Makan makanan yang mengandung fitoestrogen seperti kacang-kacangan, buah pepaya, bengkuang dan lainnya
Olah raga teratur
Terapkan pola hidup sehat.
Menopause adalah proses menjadi tua yang fisiologis, tetapi beberapa wanita tetap saja mengalami kesulitan dalam proses penyesuaian dirinya, sehingga bidan yang menanganinya perlu mengetahui gejala yang bisa timbul, latar belakang dan penanganannya.
Menopause adalah kodrat yang akan dialami oleh setiap wanita, hendaknya dijalani dengan senang hati. Perlu selalu berbagai usaha hidup sehat sampai tua dan akhir hayat, jangan mengobati sendiri bila ada keluhan hendaknya berkonsultasi serta bersedia mentaati apa yang dikatakan oleh dokter memang ahlinya, dan dihindari bertanya pada orang yang bukan ahlinya.
HIV
HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ T cell dan macrophage, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh "tuan rumah" - dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS.
HIV adalah anggota dari genus lentivirus [1], bagian dari keluarga retroviridae [2] yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia: HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih "virulent" dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat (Reeves and Doms, 2002). Kedua spesies berawal di Afrika barat dan tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis.
HIV-1 telah berevolusi dari sebuah simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte (Gao et al., 1999).HIV-2 melompat spesies dari sebuah strain SIV yang berbeda, ditemukan dalam sooty mangabeys, monyet dunia lama Guinea-Bissau (Reeves and Doms, 2002).
HIV-1 memiliki 3 kelompok atau grup yang telah berhasil diidentifikasi berdasarkan perbedaan pada envelope-nya yaitu M, N, dan O (Thomson dkk, 2002). Kelompok M yang paling besar prevalensinya dan dibagi kedalam 8 subtipe berdasarkan seluruh genomnya, yang masing-masing berbeda secara geografis (Carr dkk, 1998). Subtipe yang paling besar prevalensinya adalah subtipe B (banyak ditemukan di Afrika dan Asia), subtipe A dan D (banyak ditemukan di Afrika), dan C (banyak ditemukan di Afrika dan Asia); subtipe-subtipe ini merupakan bagian dari kelompok M dari HIV-1. Ko-infeksi dengan subtipe yang berrbeda meningkatkan sirkulasi bentuk rekombinan (CRFs)
Penularan
HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan seks oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. UNAIDS transmission. Penggunaan pelindung fisik seperti kondom latex dianjurkan untuk mengurangi penularan HIV melalui seks. Belakangan ini, diusulkan bahwa penyunatan dapat mengurangi risiko penyebaran virus HIV [3], tetapi banyak ahli percaya bahwa hal ini masih terlalu awal untuk merekomendasikan penyunatan lelaki dalam rangka mencegah HIV [4].
Di Asia, wabah HIV terutama disebabkan oleh para pengguna obat bius lewat jarum suntik, hubungan seks baik antarpria maupun dengan pekerja seks komersial, dan pelanggannya, serta pasangan seks mereka. Pencegahannya masih kurang memadai.
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS.
Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati
Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2. Dermatitis generalisata yang gatal
3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan
kondom
2. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
4. Bayi yang ibunya positif HIV
HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ; menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama, dan sedapat mungkin tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengobati AIDS, tetapi yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup.
Struktur
HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya "spherical"
HIV adalah anggota dari genus lentivirus [1], bagian dari keluarga retroviridae [2] yang ditandai dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel-host awal yang mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia: HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 adalah yang lebih "virulent" dan lebih mudah menular, dan merupakan sumber dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia; HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat (Reeves and Doms, 2002). Kedua spesies berawal di Afrika barat dan tengah, melompat dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis.
HIV-1 telah berevolusi dari sebuah simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse, Pan troglodyte troglodyte (Gao et al., 1999).HIV-2 melompat spesies dari sebuah strain SIV yang berbeda, ditemukan dalam sooty mangabeys, monyet dunia lama Guinea-Bissau (Reeves and Doms, 2002).
HIV-1 memiliki 3 kelompok atau grup yang telah berhasil diidentifikasi berdasarkan perbedaan pada envelope-nya yaitu M, N, dan O (Thomson dkk, 2002). Kelompok M yang paling besar prevalensinya dan dibagi kedalam 8 subtipe berdasarkan seluruh genomnya, yang masing-masing berbeda secara geografis (Carr dkk, 1998). Subtipe yang paling besar prevalensinya adalah subtipe B (banyak ditemukan di Afrika dan Asia), subtipe A dan D (banyak ditemukan di Afrika), dan C (banyak ditemukan di Afrika dan Asia); subtipe-subtipe ini merupakan bagian dari kelompok M dari HIV-1. Ko-infeksi dengan subtipe yang berrbeda meningkatkan sirkulasi bentuk rekombinan (CRFs)
Penularan
HIV menular melalui hubungan kelamin dan hubungan seks oral, atau melalui anus, transfusi darah, penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan, dan antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. UNAIDS transmission. Penggunaan pelindung fisik seperti kondom latex dianjurkan untuk mengurangi penularan HIV melalui seks. Belakangan ini, diusulkan bahwa penyunatan dapat mengurangi risiko penyebaran virus HIV [3], tetapi banyak ahli percaya bahwa hal ini masih terlalu awal untuk merekomendasikan penyunatan lelaki dalam rangka mencegah HIV [4].
Di Asia, wabah HIV terutama disebabkan oleh para pengguna obat bius lewat jarum suntik, hubungan seks baik antarpria maupun dengan pekerja seks komersial, dan pelanggannya, serta pasangan seks mereka. Pencegahannya masih kurang memadai.
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS.
Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati
Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2. Dermatitis generalisata yang gatal
3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan
kondom
2. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
4. Bayi yang ibunya positif HIV
HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ; menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama, dan sedapat mungkin tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengobati AIDS, tetapi yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup.
Struktur
HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya "spherical"
Kamis, 28 Januari 2010
BAYI BARU LAHIR
PENDAHULUAN
Sebagai seorang bidan harus mampu memahami tentang beberapa adaptasi atau perubahan fisiologi bayi baru lahir (BBL). Hal ini sebagai dasar dalam memberikan asuhan kebidanan yang tepat. Setelah lahir, BBL harus mampu beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung (plasenta) menjadi mandiri secara fisiologi. Setelah lahir, bayi harus mendapatkan oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya sendiri, mendapatkan nutrisi per oral untuk mempertahankan kadar gula darah yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit /infeksi.
Periode adaptasi ini disebut sebagai periode transisi, yaitu dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Periode ini berlagsung sampai 1 bulan atau lebih. Transisi yang paling cepat terjadi adalah pada sistem pernapasan, sirkulasi darah, termoregulasi, dan kemampuan dalam mengambil dan menggunakan glukosa.
Kesehatan bayi pada kelanjutan perkembangan dan pertumbuhannya sangat ditentukan oleh kesehatannya saat lahir dan hari-hari pertama kehidupan di luar rahim. Masa transisi dari fetus ke kehidupan neonatal merupakan periode yang sangat kritis. Bayi akan mengalami berbagai perubahan fisiologis untuk beradaptasi dengan lingkungan luar rahim. Salah satu proses adaptasi fisiologis yang harus dilakukan bayi dan diidentifikasi oleh perawat selama periode transisi ini adalah adaptasi sistem gastrointestinal. Feeding yang segera setelah kelahiran sangat penting dalam hubungannya untuk mendukung proses adaptasi kehidupan ekstra-uterisistem gastro-intestinal bayi baru lahir (BBL) karena bermanfaat untuk merangsang peristaltik usus sehingga isi usus dapat segera dikeluarkan. Feeding yang sangat tepat adalah kolostrum. Efek laksatif dari kolostrum memdukung mempercepat evakuasi mekonium. Kegagalan dalam membersihkan mekonium dengan cepat mempertinggi reabsorbsi usus terhadap bilirubin sehingga dapat meningkatkan level bilirubin indirect. Keadaan ini dapat berpengaruh tidak baik terhadap kesehatan bayi baru lahir akibat peningkatan bilirubin indirect.
KONSEP-KONSEP ESENSIAL
1. Pada periode pascapartum, bayi baru lahir mengalami perubahan biofisiologis dan perilaku
yang kompleks akibat transisi ke kehidupan ekstrauterin.
2. Asuhan keperawatan BBL didasarkan pada pengetahuan tentang perubahan-perubahan
biofisiologis ini dan pengaruh bayi pada unit keluarga.
3. Beberapa jam pertama setelah lahir menampilkan suatu periode penyesuaian kritis bagi BBL.
pada sebagian besar lingkungan, perawat memberikan perawatan langsung kepada bayi
segera setelah lahir.
4. Setelah periode transisi, perawat terus mengevaluasi BBL dengan interval yang periodic dan
menyesuaikan rencana asuhan keperawatan sesuai dengan hasil temuan terbaru.
5. Perawat harus terampil menyeimbangkan kebutuhan keluarga akan privasi dengan kebutuhan
memantau transisi bayi ke kehidupan ekstrauterin
TUJUAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
Priode pascapartum awal
• Mencapai dan mempertahankan jalan nafas dan mendukung pernafasan.
• Mempertahankan kehangatan dan mencegah hipotermia
• Memastikan keamanan dan mencegah cedera atau infeksi
• Mengidentifikasi masalah-masalah actual atau potensial yang memerlukan perhatian segera
Perawatan lanjutan
• Melanjutkan perlindungan dari cedera atau infeksi dan mengidentifikasi masalah-masalah
actual dan potensial yang memerlukan perhatian
• Memfasilitasi terbinanya hubungan dekat orang tua-bayi
• Memberikan informasi kepada orang tua tentang perawatan bayi baru lahir.
• Membantu oaring tua dalam mengembangkan sikap sehat tentang praktik membesarkan
anak
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADAPTASI BAYI BARU LAHIR
1. Pengalaman antepartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya, terpajan zat toksik dan sikap
orang tua terhadap kehamilan dan pengasuhan anak)
2. Pengalaman intrapartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya, lama persalinan, tipe analgesic,
atau anestesia intrapartum)
3. Kapasitas fisiologis bayi baru lahir untuk melakukan transisi ke kehidupan ekstrauterin
4. Kemampuan petugas kesehatan untuk mengkaji dan merespons masalah dengan tepat pada
saat terjadi.
MENGETAHUI BAYI ANDA SEHAT ATAU TIDAK SETELAH LAHIR
Tanda-tanda bayi lahir sehat :
a. Segera menangis.
b. Pernafasan teratur.
c. Banyak bergerak.
d. Warna kulit merah muda.
e. Berat badan 2,5 kg atau lebih.
Bagaimana perawatan bayi dalam 4 minggu sesudah kelahiran?
a. Berilah ASI pada 30 menit pertama bayi lahir. Karena pada saat bayi lahir, pemberian makanan melalui ari-ari terputus sehingga harus segera diganti dengan ASI.
b. Jagalah suhu kamarnya agar bayi tidak kedinginan, karena dalam kandungan ibu, bayi mendapatkan kehangatan sesuai dengan suhu tubuh ibu.
c. Atur pertukaran udara dengan baik, karena bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya dengan baik.
d. Cucilah tangan bersih-bersih sebelum ibu merawat bayi, jagalah tempat tidur bayi dan popok tetap bersih, jangan biarkan orang lain memegang bayi bila tidak perlu. Bila bayi anda menderita demam, diare, susah bernafas, kejang-kejang segera bawa ke dokter.
e. Bila berat lahir bayi kurang dari 1,5 kg atau terdapat kelainan, segera ke Puskesmas atau dokter. Berat lahir bayi akan menurun 10% dan dalam 2 minggu akan kembali ke berat badan semula.
Apa yang harus dilakukan apabila kulit bayi menjadi kuning?
Bayi cukup bulan kadang-kadang kuning kulitnya dalam hari ke 2-3, hal ini tidak berbahaya karena biasanya akan menghilang dalam waktu 1 minggu. Jemurlah bayi pada pagi hari sebelum jam 10.00 pagi selama 15-30 menit. Hal ini akan mempercepat hilangnya warna kuning pada bayi. Bila kuning timbul dalam 24 jam setelah lahir atau berlangsung lebih dari 1 minggu, segera bawa ke Puskesmas atau dokter.
Pada bayi berat lahir rendah (BBLR) tetaplah berikan ASI karena beratnya cepat bertambah dan menjadi normal.
Apa tanda-tanda penyakit/kelainan pada bayi baru lahir yang harus segera mendapat pertolongan?
a. Tidak mau minum.
b. Mulut mencucur seperti mulut ikan.
c. Kejang-kejang.
d. Nafas cepat dan sesak.
d. Nafas cepat dan sesak.
e. Diare yang terus menerus.
Keadaan atau penyakit apa yang sering menyebabkan kematian pada bayi baru lahir?
Keadaan atau penyakit yang sering menyebakan kematian pada bayi baru lahir antara lain :
a. Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Berat lahir kurang dari 2,5 kg.
b. Tetanus pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum).
c. Penyakit Diare.
d. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
Bagaimana mencegah timbulnya kejadian bayi dengan berat lahir rendah?
a. Menjaga agar ibu hamil makan lebih banyak atau 1 kali lebih sering daripada sebelum hamil.
b. Memeriksakan kehamilan secara teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu:
- 3 bulan pertama kehamilan : minimal 1 kali.
- 3 bulan kedua kehamilan : minimal 1 kali.
- 3 bulan ketiga kehamilan : minimal 2 kali.
Bila berat badan ibu naik di bawah 1 kg perbulan, perlu segera ke Puskesmas atau dokter.
c. Menghindari kerja berat yang melelahkan dan mendapat istirahat yang cukup selama kehamilan.
Bagaimana upaya pencegahan diare pada bayi baru lahir?
a. Segera berikan ASI pada bayi baru lahir dan jangan berikan makanan tambahan lain, karena ASI terjamin kebersihannnya sehingga dengan pemberian ASI dapat mencegah diare dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi.
b. Gunakan air bersih untuk merawat bayi.
c. Buanglah kotoran bayi pada tempatnya.
Mengapa bayi kadang-kadang muntah?
Muntah atau sering disebut gumoh ialah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh makanan yang baru dimakan. Muntah dalam jumlah sedikit tidak membahayakan terutama pada bayi di bawah 6 bulan.
Bagaimana cara mencegah terjadinya muntah (gumoh)?
a. Perbaiki cara menyusui sehingga tidak terlalu banyak udara yang tertelan. Pada waktu menyusui perlu diperhatikan bibir bayi harus mencakup rapat puting dan sebagain areola payudara ibu.
b. Untuk mengeluarkan udara yang tertelan, bayi ditegakkan dan ditepuk-tepuk punggungnya atau sambil ditelungkupkan pada pangkun ibunya atau ditidurkan miring ke sebelah kanan.
c. Perlakukan bayi secara halus, karena muntah dapat disebabkan karena gangguan psikologik misalnya apabaila bayi diperlakukan secara kasar.
Apakah kolik itu dan apa tanda-tandanya?
Kolik adalah suatu keadaan dimana bayi tampak kesakitan dan menangis terus menerus, biasanya terjadi pada bayi berusia 3 bulan. Penyebabnya bermacam-macam seperti terlalu lapar, gangguan emosi dan lain sebagainya.
Tanda-tanda bayi kolik ialah:
- Perut bayi tegang dan kembung.
- Bayi menangis terus menerus kadang-kadang sampai berjam-jam.
- Wajah bayi kemerahan atau pucat kebiruan.
- Kaki dingin dan tangan mengepal.
Bagaimana cara menanggulangi kolik?
Cara menanggulanginya, gosoklah perut bayi dengan sedikit minyak kayu putih atau minyak telon atau yang sejenisnya. Bila tidak ada perbaikan, bawalah ke Puskesmas atau
dokter.
Mengapa lidah bayi kadang-kadang putih?
Lidah bayi berwarna putih karena adanya sisa ASI di mulut bayi, yang semakin lama semakin tebal. Kalau hal ini dibiarkan, dapat menyebabkan bayi sulit makan. Bagaimana mencegah agar lidah bayi tidak putih ? Untuk mencegahnya berilah bayi minum air putih dengan sendok teh setiap habis menyusu.
Masalah-masalah seperti disebut di atas, wajar ditemui pada bayi baru lahir. Penyebabnya, bisa karena faktor hormon sang ibu, pengeluaran hasil sel atau kelenjar (sekresi) yang aktif, atau faktor eksresi yaitu pembuangan sisa-sisa kotoran/racun dalam tubuh. Tapi bisa juga karena ada sesuatu yang tak harmonis dalam tubuh si kecil. Kendati wajar dan lumrah, tetap saja harus diwaspadai, apakah cairan yang dikeluarkan bayi masih dalam batasan normal atau tidak. Nah, berikut hal-hal yang kerap dicemaskan orang tua disertai penjelasannya.
Darah dan keputihan dari vagina
Pada beberapa bayi perempuan yang baru lahir, kadang ditemui bercak darah keluar dari vaginanya seperti wanita tengah haid. Bahkan selain darah, kadang si kecil mengalami keputihan.Penyebabnya tak lain pengaruh hormon estrogen ibu saat bayi masih di kandungan, terutama pada trimester ketiga kehamilan. Hal itu bisa terjadi karena kendati masih bayi, ia sudah memiliki rahim dan kelenjarnya sudah bekerja. Karena penyebabnya adalah pengaruh hormonal sang ibu, maka tak perlu diobati. Diamkan saja sampai pengaruh hormon si ibu hilang atau habis dengan sendirinya.Kapan hilangnya, tergantung kadar hormon si ibu. Biasanya tak sampai 2 bulan.
Pengaruh hormonal dari ibu ini sebenarnya tak jadi masalah, hingga tak perlu kelewat cemas. Pada bayi lelaki, pengaruh hormonal dari ibu akan terlihat pada payudaranya yang agak besar seakan membengkak. Tak perlu dipijat-pijat, nanti bengkaknya juga akan hilang dengan sendirinya.
Lendir
Akibat ada lendir, napas si kecil jadi terdengar berisik. Suara grok, grok, grok, yang dikeluarkannya membuat ibu khawatir. Bunyi itu, berasal dari cairan yang berada di paru-paru, karena organ ini memproduksi lendir juga. Bunyi yang dikeluarkan bayi, pertanda sekresinya berlebihan. Pada bayi yang berbakat alergi, semisal ibunya makan seafood hingga bayinya alergi, maka produksi lendir pun akan meningkat. Karena itu, ibu harus memperhatikan benar, apa saja yang bisa jadi pencetus alergi anak hingga napas keras karena lendir yang berlebihan tadi bisa dihindari. Selain alergi, peningkatan lendir juga bisa terjadi karena ada infeksi semisal tertular flu dari lingkungan sekitarnya.
Sekresi lendir yang berlebih juga dapat mengganggu makan dan minum bayi. Kondisi saluran napas dan saluran makan anak usia 3-6 bulan masih dalam keadaan terbuka hingga ia pun akan muntah karena makanan atau minuman yang ditelannya tak bisa masuk dengan baik. Beda dengan bayi usia 6 bulan ke atas di mana kedua saluran tadi tak terbuka kedua-duanya. Saat si bayi minum atau makan, maka saluran napasnya akan menutup.
Nah, bunyi napas yang kasar tadi, sejauh tak mengganggu makan-minum, tak ada demam atau infeksi, tak mengganggu aktivitas bayi, tak perlu dikhawatirkan. Sebab pada prinsipnya tubuh bayi memproduksi banyak lendir, hanya saja dia tak bisa mengeluarkannya seperti dengan batuk karena refleksnya belum baik.Letakkan bayi dalam posisi tengkurap lalu tepuk-tepuk punggungnya. Kalau lendirnya banyak, dengan cara ini dia akan muntah. Lakukan cara ini sebelum bayi minum apa pun. Posisi tidur tengkurap juga bagus, karena posisi saluran napas jadi lebih rendah hingga lendir pun akan turun ke arah mulut.
Tinja
Begitu tinja si kecil berwarna hijau tua dan agak kehitaman, orang tua umumnya langsung cemas. Padahal, itu normal-normal saja. Ini bisa terjadi karena bayi minum cairan ketuban dan disekresikan tubuh untuk kemudian dikeluarkan kembali ke dalam air ketuban dalam plasenta ibu. Begitu lahir, bila si bayi buang air besar maka kotoran awal yang keluar akan berupa kotoran kala dia masih di kandungan, yang disebut meconium. Jadi, tak perlu cemas dan panik. Biasanya meconium akan berlangsung selama 2-3 hari. Setelah itu, kotorannya akan berwarna hijau, walaupun sudah tak ada lagi kaitannya dengan air ketuban. Warna hijau ini diberikan pada makanan oleh empedu yang terdapat di usus dua belas jari. Adanya warna empedu pada tinja yang keluar sebenarnya pertanda bagus. Berarti empedu itu bekerja mencerna lemak makanan yang ada dalam usus.
Kecuali, jika warna tinja putih seperti dempul. Ini patut dicurigai karena mungkin ada yang tak normal atau mungkin terjadi sumbatan pada empedunya. Begitu juga bila terdapat darah pada tinja, harus diwaspadai sebagai indikasi ada infeksi. Segera bawa anak ke dokter.
Normalnya, pada bayi baru lahir karena ia mendapatkan ASI, maka frekuensi BAB-nya dalam sehari bisa 6-8 kali dalam bentuk cair dan ada ampasnya. Hal ini normal. Kecuali hanya cairan atau berlendir saja, maka harus segera dibawa ke dokter karena kemungkinan terjadi infeksi. Biasanya setelah mendapat makanan padat, pola buang air besarnya bisa berubah, misal, 3 kali sehari.
Urin
Umumnya, urin bayi baru lahir tak putih bening warnanya, melainkan kuning agak pekat. Bisa juga kemerahan seperti darah. Ini dipengaruhi minuman si bayi. Ada beberapa produk susu formula yang mengandung suatu zat tertentu yang sebetulnya memang baik untuk tubuh, tapi bisa menyebabkan warna urin berubah karena mungkin kadarnya terlalu tinggi. Jadi, tak usah buru-buru cemas. Kalau karena pengaruh susu formula, sebetulnya tak berbahaya karena hanya suatu reaksi tubuh. Walaupun demikian, ada baiknya untuk penggunaan susu tersebut selanjutnya dikonsultasikan pada dokter.
Lain hal kalau warna urin merah bukan dikarenakan konsumsi yang diminum si bayi, maka ibu harus waspada. Misal, bayi tak minum susu formula. Bisa jadi darah yang ada di urinnya karena ada perdarahan, entah akibat infeksi ataupun kekurangan vitamin K.
Keringat
Banyak orang tua mengeluh, mengapa keringat si kecil begitu banyak. Padahal, memang begitulah yang terjadi pada bayi baru lahir. Pada beberapa bagian tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki, keringatnya banyak sekali. Penyebabnya, di daerah tersebut memang banyak kelenjar keringatnya. Malah kalau ia banyak berkeringat, itu pertanda kelenjar keringatnya berfungsi dengan baik. Sebab, pengeluaran keringat, termasuk proses eksresi, yaitu membuang sisa-sisa garam, juga racun dalam tubuh. Selain itu, untuk mengeluarkan panas dalam badan dan membuat suhu permukaan kulit jadi turun. Umumnya, makin meningkat usia bayi, keringatnya akan berkurang.
Penyebab lain dari keringat berlebihan adalah konsumsi susu sapi. Protein susu sapi dalam badan akan diubah oleh tubuh menjadi protein. Nah, saat pengubahan itu, banyak menimbulkan panas yang akan dibuang dalam bentuk keringat.
Air mata
Orang tua juga kadang khawatir bila mata bayinya selalu tampak belekan atau berair terus. Produksi air mata pada bayi sebetulnya sudah ada. Kalau pada orang dewasa, bila ia menangis akan terasa ada air mata yang masuk ke dalam saluran hidung, seperti orang yang pilek. Nah, pada beberapa bayi, kalau produksi air matanya berlebihan, sementara saluran yang ada ke hidung belum sempurna dan belum dapat dipakai dengan baik, maka bayi akan mengeluarkan air mata hanya dari matanya. Saluran hidung ini umumnya akan membaik bila bayi menginjak usia 1 bulan. Lain hal jika ia mengalami radang di hidung hingga salurannya tetap tersumbat dan akibatnya air matanya menjadi meningkat.
Muntah
Jika hanya gumoh, tak perlu dirisaukan. Gumoh terjadi karena ada udara di dalam lambung yang terdorong keluar kala makanan masuk ke dalam lambung bayi. Yang harus dikhawatirkan adalah muntah, yaitu cairan yang keluar lebih banyak dari gumoh. Muntah bukan sekresi ataupun eksresi, tapi memang ada sesuatu yang tak normal. Harusnya makanan dan minuman masuk dari mulut ke lambung, lalu ke usus dua belas jari. Nah, jika muntah, berarti ada sesuatu yang menganggu. Umumnya karena ada masalah pada pintu masuk lambung, misal, sudutnya tak tepat, sementara tekanan dari lambung tinggi. Akibatnya, dia akan balik lagi yang disebut reflaks. Bisa juga ada masalah pada pintu keluar lambung hingga menyebabkan lambung terganggu kala akan mengeluarkan isinya ke usus dua belas jari. Penyebab lain adalah infeksi, semisal radang tenggorokan yang bisa menimbulkan reaksi muntah. Namun demikian, muntah pada bayi baru lahir jarang sekali terjadi.
Walaupun sebagian besar proses persalinan terfokus pada ibu tetapi karena proses tersebut merupakan proses pengeluaran hasil kehamilan (bayi), maka penatalaksanaan suatu persalinan baru dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang dilahirkan juga berada dalam kondisi yang optimal. Memberikan pertolongan dengan segera, aman dan betrsih pada bayi baru lahir adalah bagian esensial dari asuhan bayi baru lahir. Sebagian besar kesakitan dan kematian bayi baru lahir disebabkan oleh asfiksia, hipotermia dan/atau infeksi. Kesakitan dan kematian bayi barulahir dapat dicegah bila asfiksia segera dikenali dan ditatalaksana serta dilakukan pencegahan hipotermia dan infeksi.
Penatalaksanaan awal bayi baru lahir
Penatalaksanaan awal bayi baru lahir meliputi:
• Pencegahan infeksi
• Penilaian awal
• Pencegahan kehilangan panas
• Rangsangan taktil
• Asuhan tali pusat
• Memulai pemberian ASI
• Pemberian profilaksis terhadap gangguan pada mata
Pencegahan infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Saat melakukan penanganan bayi baru lahir, pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi berikut ini:
• Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi
• Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
• Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru. Jangan pernah menggunakan bola karet penghisap untuk lebih dari satu bayi.
• Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih.
• Pastikan bahwa timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci setiap kali setrilah digunakan.
ADAPTASI /PERUBAHAN FISIOLOGI PADA BBL
Bayi adalah individu baru yang lahir di dunia. Dalam keadaannya yang terbatas, maka individu baru ini sangatlah membutuhkan perawatan dari orang lain.
Pengertian Bayi Baru Lahir Normal
Janin yang lahir melalui proses persalinan dan telah mampu hidup di luar kandungan.
Karakteristik Bayi Baru Lahir Normal
a. Usia 36-42 minggu.
b. Berat badan lahir 2500-4000 gr.
c. Dapat bernafas dengan teratur dan normal.
d. Organ fisik lengkap dan dapat berfungsi dengan baik.
Adaptasi Fisik Bayi Baru Lahir Normal
Segera setelah lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna (dalam kandungan Ibu)yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya. Saat ini bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui sistem sirkulasi pernafasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit
Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim disebut Periode Transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem tubuh. Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa. Perubahan Sistem Pernafasan. Interaksi antara sistem pernafasan, kardiovaskuler dan susunan syaraf pusat menimbulkan pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
1. Perubahan sistim pernapasan / respirasi
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.
a. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabnga dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini terus berlanjit sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolusnakan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
b. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
1). Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
2). Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru - paru secara mekanis.
Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat
menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang
diperlukan untuk kehidupan.
3). Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang
pernafasan. Berurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi
sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan
janin.
4). Perubahan suhu
Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
c. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1). Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2). Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin /sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru – paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkandinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.
d. Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi melewati jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang dilahirkan secar sectio sesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus BBL. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah.
e. Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara.Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
2. Perubahan pada sistem peredaran darah
Perubahan Dalam Sistem Peredaran Darah.
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan besar :
a. Penutupan a). foramen ovale pada atrium jantung
b). Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam system pembuluh darah
1) Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2) Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan pada atrium kiri, toramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri, foramen ovali secara fungsional akan menutup.
Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
Perbedaan sirkulasi darah fetus dan bayi
a. sirkulasi darah fetus
1). Struktur tambahan pada sirkulasi fetus
a). Vena umbulicalis : membawa darah yang telah mengalami deoksigenasi dari plasenta ke permukaan dalam hepar
b). Ductus venosus : meninggalkan vena umbilicalis sebelum mencapai hepar dan mengalirkan sebagian besar darah baru yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior.
c). Foramen ovale : merupakan lubang yang memungkinkan darah lewat atrium dextra ke dalam ventriculus sinistra
d). Ductus arteriosus : merupakan bypass yang terbentang dari venrtriculuc dexter dan aorta desendens
e). Arteri hypogastrica : dua pembuluh darah yang mengembalikan darah dari fetus ke plasenta. Pada feniculus umbulicalis, arteri ini dikenal sebagai ateri umbilicalis. Di dalam tubuh fetus arteri tersebut dikenal sebagai arteri hypogastica.
2). Sistem sirkulasi fetus
a). Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke permukaan dalam hepar. Vena hepatica meninggalkan hepar dan mengembalikan darah ke vena cava inferior
b). Ductus venosus : adalah cabang – cabang dari vena umbilicalis dan mengalirkan sejumlah besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior
c). Vena cava inferior : telah mengalirkan darah yang telah beredar dalam ekstremitas inferior dan badan fetus, menerima darah dari vena hepatica dan ductus venosus dan membawanya ke atrium dextrum
d). Foramen ovale : memungkinkan lewatnya sebagian besar darah yang mengalami oksigenasi dalam ventriculus dextra untuk menuju ke atrium sinistra, dari sini darah melewati valvula mitralis ke ventriculuc sinister dan kemudian melaui aorta masuk kedalam cabang ascendensnya untuk memasok darah bagi kepala dan ekstremitas superior. Dengan demikian hepar, jantung dan serebrum menerima darah baru yang mengalami oksigenasi
e). Vena cava superior : mengembalikan darah dari kepala dan ekstremitas superior ke atrium dextrum. Darah ini bersama sisa aliran yang dibawa oleh vena cava inferior melewati valvula tricuspidallis masuk ke dalam venriculus dexter
f). Arteria pulmonalis : mengalirkan darah campuran ke paru - paru yang nonfungsional, yang hanya memerlukan nutrien sedikit
g). Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas inferior
h). Arteria hypogastrica : merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa darah kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan nutrien yang dipasok dari peredaran darah maternal
b. Perubahan pada saat lahir
1). Penghentian pasokan darah dari plasenta
2). Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru
3). Penutupan foramen ovale
4). Fibrosis
a). Vena umbilicalis
b). Ductus venosus
c). Arteriae hypogastrica
d). Ductus arteriosus
3. Pengaturan suhu
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin , pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada BBlL
4. Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam).
Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. melalui penggunaan ASI
b. melaui penggunaan cadangan glikogen
c. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup, akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi).Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup.Bayi yang sehat akan menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati, selama bulan-bulan terakhir dalam rahim. Bayi yang mengalami hipotermia, pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan cadangan glikogen dalam jam-jam pertama kelahiran. Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai dalam 3-4 jam pertama kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua persediaan glikogen digunakan pada jam pertama, maka otak dalam keadaan berisiko. Bayi yang lahir kurang bulan (prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim dan stres janin merpakan risiko utama, karena simpanan energi berkurang (digunakan sebelum lahir).
Gejala hipoglikemi dapat tidak jelas dan tidak khas,meliputi; kejang-kejang halus, sianosis,, apneu, tangis lemah, letargi,lunglai dan menolak makanan. Hipoglikemi juga dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemi adalah kerusakan yang meluas di seluruh di sel-sel otak.
5. Perubahan sistem gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat lair.
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.
6. Sistem kekebalan tubuh/ imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahana tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
a. perlindungan oleh kulit membran mukosa
b. fungsi saringan saluran napas
c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
PERAWATAN BAYI
Perawatan bayi menyangkut banyak hal. Dimulai ketika mengangkat bayi, saat mengganti baju, memandikan, atau memberinya makan, peganglah dengan erat dan penuh percaya diri. Bicaralah secara perlahan dan lembut, sambil melakukan kontak mata.
Mengangkat bayi

Menggendong dan merangkul bayi akan membuatnya merasa aman dan dicintai. Mungkin tidak mudah pada awalnya, namun Anda akan semakin terbiasa dengan sering melakukannya.
• Berdiri menghadap ke arahnya, susupkan satu tangan ke bawah kepala dan lehernya, dan tangan lain ke pantat.
• Angkat perlahan dan lembut kearah dada, putar kepalanya kearah lekukan siku, lalu sangga tubuhnya dengan lengan Anda.
• Saat meletakkannya, pegang kepala dan pantatnya. Tarik terlebih dahulu tangan dari pantat, kemudian tarik tangan yg dibawah kepala.
Menggendong bayi

Termasuk dalam perawatan bayi termasuk juga menggendong bayi. Bayi baru lahir belum dapat menegakkan kepalanya. Anda harus menyangganya agar tidak terkulai. Gunakan gendongan agar ia dekat dengan tubuh Anda, sementara tangan Anda bisa melakukan pekerjaan lain.
Memakaikan baju
Kebanyakan bayi tidak menyukai baju yang dimasukkan melalui kepala. Ada baiknya Anda membeli baju yang berkancing atau bertali depan atau samping.
Mengganti popok
Untuk menghindari ruam popok, gantilah sesegera mungkin ketika basah atau kotor.Perlu diketahui, perawatan bayi baru lahir perlu mengganti popok 10 hingga 12 kali sehari.
Perawatan bayi dari ujung kepala sampai ujung kaki
Dalam melakukan perawatan bayi baru lahir sebenarnya tidak perlu dimandikan setiap hari. Diantara waktu mandi, bersihkan tubuh bayi dengan mengelapnya dari ujung kepala sampai kaki. Caranya, buka baju bayi sebentar, bersihkan bagian yang perlu, seperti wajah, tangan, dan bagian kemaluan. Jangan membersihkan bagian dalam hidung atau kuping, karena lender dan selaput keduanya dapat membersihkan sendiri. Usaplah bagian yang kotor dengan kapas basah.
Memandikan

Termasuk dalam perawatan bayi adalah memandikannya dengan benar :
• Siapkan terlebih dahulu keperluan mandi,
• Isi air hangat ke bak mandi, periksa suhunya dengan sikut.
• Buka baju, bungkus dengan handuk di pangkuan Anda. Usap matanya dengan kapas yang telah dibasahi dengan air matang dingin. Bersihkan daerah sekitar wajah dan mulut.
• Keramasi rambutnya, pegang kepalanya di atas bak mandi. Keringkan. Lepaskan handuk, letakkan satu tangan di bawah pundaknya, dan tangan lain di pantat, lalu masukkan bayi secara perlahan ke bak mandi.
• Tahan leher dan pundaknya, sabuni dan bilas dengan tangan Anda yang bebas. Pegang pantatnya dan angkat. Bungkus dengan handuk, tepuk-tepuk agar kering. Biarkan bayi terbungkus handuk saat Anda memakaikan baju dan popoknya.
Menidurkan

Waktu tidur bayi berbeda-beda. Rata-rata bayi baru lahir akan bangun selama 6-8 jam setiap 24 jam, dan biasanya tidur di siang hari 3-5 jam.
Menangis
Menangis adalah cara bayi Anda memberitahu kebutuhannya. Secara bertahap, Anda akan belajar membedakan tangisannya. Antara tangisan lapar atau lelah. Dengan demikian Anda bisa memberikan perawatan bayi dengan benar. Bila tidak berhenti juga, cobalah untuk menghubungi dokter Anda.
TIPS MERAWAT BAYI BARU LAHIR
Jadi orang tua baru biasanya merasa gamang dan seperti tak tahu berbuat apa ketika harus mulai merawat si kecil yang baru lahir. Berikut ini 4 hal utama perawatan bayi baru lahir yang sering membuat orang tua gamang.
Membersihkan Tali Pusat
Benda yang menempel pusar si kecil ini sering membuat kita serba kikuk. Takut merawatnya dan menyakiti bayi. Benda itu adalah sisa tali pusatyang akan lepas dengan sendirinya sekitar 7- 14 hari( meski ada juga yang sampai hampir sebulan ) setelah bayi lahir. Tak ada yang menakutkan, yang penting bagaimana kita merawat kebersihannya agar terhindar dari infeksi..
Cara benar merawat tali pusat si kecil.
* Usahakan tali pusat dan daerah sekitarnya selalu dalam keadaan kering dan bersih. Tali pusat yang lembab bisa memancing jamur dan infeksi, juga membuat lama terlepas.
* Bila si kecil buang air besar, lepaskan dan lipat popoknya ke arah belakang, sehingga tali pusat terhindar ke arah belakang, sehingga tali pusat terhindar dari kotoran maupun air seni.
Setiap kali mandi, beri perhatian khusus pada tali pusat.
1. Setelah seluruh tubuh bayi (termasuk bagian tali pusat) dikeringkan dengan handuk lembut, bersihkan sisa tali pusat dengan kapasyang telah dicelup air matang. Lakukan dengan lembut mulai dari pangkal ( bagian yang menempel di perut ) hingga ujungnya.
2. Bungkus dengan kain kasa kering. Tidak perlu mengikatnya, cukup dengan dilipat, agar masih tetap ada udara yang keluar masuk.
* Selalu pantau kondisi tali pusat. Bila terlihat tanda-tanda iritasi, kemerahan, berdarah atau berbau tak sedap, segera periksakan ke dokter.
Penting diingat! Jangan sekali-kali menarik-narik atau mendorong masuk sisa tali pusat.
Menggunting Kuku

Kuku bayi memang kelihatan mungil, tipis dan lembut. Makanya, banyak orang tua ngeri memotong kuku bayinya, karena takut melukai jari si kecil.Sebenarnya, kuku lebih tahan serangan kuman. Tetapi, kalau kuku selalu dalam keadaan lembap, jamur serta kuman senang bersarang di sana. Belum lagi kalau kebersihannya kurang terjaga, sementara bayi gemar memasukkan jarinya ke mulutyang membuat kukunya terus-menerus lembab. Itu sebabnya, kuku si kecil harus selalu dalam keadaan kering. Perhatikan beberapa hal saat menggunting kuku si kecil.
* Amati selalu panjang kuku si kecil, mengingat pertumbuhan kuku bayi jauh lebih cepat dari orang dewasa.
* Potong atau gunting bila terlihat panjang dan tajam. Meski tipis dan lemah, kuku yang panjang bisa menggores wajah si kecil.
* Potong atau gunting kuku si kecil setelah mandi, karena masih lunak sehingga mudah digunting. Tetapi, kalau bayi anda termasukyang tak bisa diam, lakukan saat ia tidur lelap di siang hari.
Caranya :
1. Gunakan pemotong kuku atau gunting yang dirancang khusus untuk bayi.
2. Sebelum digunakan, tak ada salahnya dibersihkan dulu dengan alkohol 70%.
3. Pegang salah satu telapak tangan si kecil dengan tangan kiri anda (sebaliknya bila anda kidal), lalu lebarkan jarak antar jari-jarinya.
4. Gunting kuku si kecil dengan tangan kanan anda secara perlahan.
5. Bersihkan kotoran yang ada di balik kuku dengan kapas yang dibasahi air hangat.
* Jangan terlalu sering menggunting kuku bayi, karena akan mempermudah terjadinya kerusakan kulit di sekitar kuku.
* Meski sudah super hati-hati, terkadang terjadi juga sedikit luka di kulit bayi saat anda memotong kukunya. Tak perlu panik. Segera bersihkan darah dengan kapas dan beri obat antiseptik. Jika perlu, kenakan sarung tangan.
Penting diingat! Jangan ikuti keinginan untuk mengelupas apalagi memotong kuku bayi dengan gigi Anda. Kuman yang ada dalam mulut Anda bisa berpindah ke kulit bayi. Selain itu, tanpa sadar Anda bisa terlalu dalam memotong kukunya.
Membersihkan Telinga.
Membersihkan telinga bayi tidak serumit yang anda duga. Yang penting, anda tetap tenang meski si kecil selalu menggerak-gerakkan kepalanya. Anda tidak perlu memasukkan bola kapas atau kapas berantai ke dalam lubang telinganya. Cukup bersihkan bagian luar serta daun telinga si kecil.
Telinga bayi sebaiknya di bersihkan dengan cara:
* Lakukan bersamaan waktu ia mandi.
* Basahi waslap dengan air hangat dan beri sabun bayi sedikit. Angkat sedikit kepala si kecil, lalu usap daun telinga serta bagian belakang telinganya. Bilas sampai bersih.
* Gunakan kapas bulat atau kapas berantai yang dicelup air hangat, lalu bersihkan bagian luar hingga lubang telinga si kecil, termasuk ceruk-ceruk ( lekukan) pada daun telinganya.
* Keringkan dengan handuk kecil lembut.
Cairan lilin di telinga si kecil sebenarnya normal, bahkan berguna sebagai penghalang masuknya kotoran dari luar. Jadi, tak perlu terlalu dirisaukan, kecuali kotoran itu sampai mengeras dan menutupi lubang telinga si kecil.
Catatan: Penting diingat! Cairan lilin di telinga bayi sebenarnya normal, bahkan berguna sebagai penghalang masuknya kotoran dari luar. Jadi, tak perlu terlalu dirisaukan, kecuali kotoran itu sampai mengeras dan menutupi lubang telinga bayi.
Membersihkan Mata.
Adakalanya, mata si kecil terlihat redup dan terdapat kotoran menempel di kelopaknya. Jangan khawatir, mudah kok membersihkannya.
* Bersihkan mata si kecil bersamaan dengan waktu mandinya, atau setiap pagi dan sore hari.Sebelum membersihkan, bersihkan dulu tangan anda agar kalau ada kuman di sana tidak berpindah ke mata si kecil.
* Gunakan kapas bulat yang sudah dicelup air hangat.
* Usapkan perlahan mata si kecil (lakukan dari arah tengah ke luar). Jangan bolak-balik.
* Ganti kapas setiap kali usap. Selain agar kotoran mata yang menempel di kapas tak mengenai matanya lagi, juga agar mata si kecil tidak terkontaminasi kuman dari satu ke mat yan lain.
Terkadang air mata si kecil terus menerus keluar. Hal ini karena ada sumbatan di saluran air mata. Atasi dengan memijat secara halus bagian pangkal hidung si kecil.Penting diingat! Kalau kotoran mata si kecil tak juga hilang meski selalu dibersihkan, segera bawa ke dokter, karena bisa jadi matanya terinfeksi kuman
Pengkajian fisik keperawatan pada bayi baru lahir merupakan pengkajian fisik yang di lakukan oleh perawat untuk menilai status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru lahir, kemudian 24 jam setelah lahir dan pada waktu pulang dari rumah sakit. Tujuan secara umum pengkajian fisik pada bayi adalah menilai status adaptasi atau penyesuaian kehidupan intra uteri ke dalam kehidupan ekstra uteri dan mencari kelainan pada bayi. Adapun pengkajian fisik yang dapat di lakukan pada bayi antara lain:
Penilaian Apgar Score
Pengkajian ini memiliki kemampuan laju jantung, kemampuan bernafas, kekuatan tonus otot, kemampuan reflex dan warna kulit. Penilaian apgar score ini di temukan oleh Dr.Virgina Apgar, penilaian ini dapat di lakukan pada menit pertama setelah lahir dengan penilaian sebagai berikut:
7-10 (beradaptasi baik)
4-6 (asfiksia ringan hingga sedang)
0-3 (asfiksia berat)
Kemudian penilaian berikutnya setelah 5 menit.
Pemeriksaan Cairan Amnion
Pemeriksaan cairan amnion ini di lakukan untuk menilai ada tidaknya kelainan pada cairan amnion tentang jumlah volumenya, apabila volumenya lebih dari 2000 ml bayi mengalami polihidramnion atau di sebut hidramnion sedangkan apabila jumlahnya kurang dari 500 ml maka bayi mengalami oligohidramnion.
Pemeriksaan Placenta
Pada pemeriksaan placenta ini di lakukan untuk menentukan keadaan placenta seperti adanya pengkapuran, nekrosis, beratnya dan jumlah korion. Pemeriksaan ini penting dalam menentukan terjadi kembar identik atau tidak.
Pemeriksaan Tali Pusat
Pemeriksaan tali pusat ini menilai ada tidaknya kelainan dalam tali pusat seperti adanya vena dan arteri, adanya tali simpul pada tali pusat atau tidak.
Pengukuran Antropometri
Pada pemeriksaan bayi baru lahir perlu di lakukan pengukuran antropometri seperti berat badan, dimana pengukuran berat badan yang normal adalah 2500-3500 gram, pengukuran panjang badan secara normal, panjang bayi baru lahir adalah 45-50 cm, pengukuran lingkar kepala normalnya adalah 33-35 cm, pengukuran lingkar dada normalnya adalah 30-33 cm.
Pemeriksaan Kepala
Pemeriksaan Dada dan Punggung
Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan Tulang Belakang dan Ekstremitas
Pemeriksaan Genitalia
Pemeriksaan Anus dan Rectum
Pemeriksaan Kulit
Pemeriksaan Refleks
Anda merasa gamang dan seperti tak tahu harus berbuat apa ketika harus mulai merawat bayi yang baru lahir? Jangan bingung! Namanya juga orang tua baru, kan? Nah, berikut ini empat hal utama perawatan bayi baru lahir yang sering membuat orang tua gamang.
CONTOH BLANGKO ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL
HASIL ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL
PADA NY “ Y “ GESTASI 8 – 10 MINGGU DENGAN MUAL DAN MUNTAH
………………………….
TGL 23 – 1 – 2007
No Register : 103476
Tgl Kunjungan : Tanggal 23 Januari 2007
Tgl Pengkajian : Tanggal 23 Januari 2007
IDENTITAS ISTERI / SUAMI
1. Nama : Ny “ S “ / Tn “ D “
2. Umur : 30 tahun / 34 tahun
3. Suku : Makassar / Makasar
4. Agama : Islam / Islam
5. Pendidikan : SMA / SMA
6. Pekerjaan : IRT / Wiraswasta
7. Alamat : BTN Mutiara Permai
DATA SUBJEKTIF ( S )
1. Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah keguguran
2. Ibu mengatakan HPHT tanggal 17 - 11 – 2006
3. Ibu mengatakan umur kehamilannya 2 bulan lebih
4. Ibu mengatakan tidak pernah merasakan nyeri perut yang hebat selama hamil
5. Ibu mengatakan belum mendapatkan imunisasi TT
6. Ibu mengatakan merasakan mual dan muntah sejak 2 minggu yang lalu dan lebih sering dirasakan pada waktu pagi hari
DATA OBJEKTIF ( O )
1. Keadaan umum ibu nampak cemas
2. BB : 55 Kg Sebelum hamil 56 Kg
3. TB : 158 cm
4. Tanda –tanda vital
Tekanan darah : 100 / 70 mmHg
Nadi : 80 x / menit
Suhu : 36,8 ° C
Pernapasan : 24 x / menit
5. HTP : Tanggal 24 – 8 – 2007
6. Umur kehamilan : 9 minggu 5 hari
7. Konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterus
8. Ekspresi wajah nampak cemas dan tidak ada oedema pada wajah
9. Bibir tampak agak kering , tidak ada caries gigi
10. Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
11. Payudara simetris kiri dan kanan, putting susu terbentuk, areola hiperpigmentasi, tidak ada massa atau nyeri tekan.
12 Tonus otot perut tampak tegang, tampak linea nigra dan tidak ada bekas operasi
13. Palpasi
Leopold I : 2 jari atas symfisis ( 10 cm)
Leopold II : Ball 14. DJJ : belum terdengar
15. Tidak ada oedema dan varises pada tungkai.
16. Refleks patella ( + ) ki /ka
ASSESMENT ( A )
Diagnosa Aktual : GI PO AO, Gestasi minggu, intra uterin, dengan masalah aktual mual dan muntah
Masalah potensial : Hiperemesis Gravidarum
PLANNING ( P )
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaan kehamilannya
2. Memberikan HE kepada ibu tentang :
a. Gizi ibu hamil
b. Istirahat yang cukup
c. Hygiene ibu hamil
d. Menganjurkan pada ibu untuk menghindari keadaan atau makanan yang merangsang
muntah.
e. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi atau makan biskuit kering / roti dengan
minum teh hangat sebelu bangun tidur di pagi hari.
f. Penatalaksanaan pemberian obat yaitu : B Complex dan Calsium
g. Menganjurkan kepada ibu untuk datang follow up minggu depan tanggal 30 Januari 2007
REFERENSI
http://en.seenow.com/popular
www.AsianBrain.com
www.AnneAhira.com
Soegijanto soegeng,Asuhan neonatus,bayi dan anak. 2002.
Dedeh Sri Rahayu,Asuahan keperawatan anak dan neonatus, 2009.
Sebagai seorang bidan harus mampu memahami tentang beberapa adaptasi atau perubahan fisiologi bayi baru lahir (BBL). Hal ini sebagai dasar dalam memberikan asuhan kebidanan yang tepat. Setelah lahir, BBL harus mampu beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung (plasenta) menjadi mandiri secara fisiologi. Setelah lahir, bayi harus mendapatkan oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya sendiri, mendapatkan nutrisi per oral untuk mempertahankan kadar gula darah yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit /infeksi.
Periode adaptasi ini disebut sebagai periode transisi, yaitu dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim. Periode ini berlagsung sampai 1 bulan atau lebih. Transisi yang paling cepat terjadi adalah pada sistem pernapasan, sirkulasi darah, termoregulasi, dan kemampuan dalam mengambil dan menggunakan glukosa.
Kesehatan bayi pada kelanjutan perkembangan dan pertumbuhannya sangat ditentukan oleh kesehatannya saat lahir dan hari-hari pertama kehidupan di luar rahim. Masa transisi dari fetus ke kehidupan neonatal merupakan periode yang sangat kritis. Bayi akan mengalami berbagai perubahan fisiologis untuk beradaptasi dengan lingkungan luar rahim. Salah satu proses adaptasi fisiologis yang harus dilakukan bayi dan diidentifikasi oleh perawat selama periode transisi ini adalah adaptasi sistem gastrointestinal. Feeding yang segera setelah kelahiran sangat penting dalam hubungannya untuk mendukung proses adaptasi kehidupan ekstra-uterisistem gastro-intestinal bayi baru lahir (BBL) karena bermanfaat untuk merangsang peristaltik usus sehingga isi usus dapat segera dikeluarkan. Feeding yang sangat tepat adalah kolostrum. Efek laksatif dari kolostrum memdukung mempercepat evakuasi mekonium. Kegagalan dalam membersihkan mekonium dengan cepat mempertinggi reabsorbsi usus terhadap bilirubin sehingga dapat meningkatkan level bilirubin indirect. Keadaan ini dapat berpengaruh tidak baik terhadap kesehatan bayi baru lahir akibat peningkatan bilirubin indirect.
KONSEP-KONSEP ESENSIAL
1. Pada periode pascapartum, bayi baru lahir mengalami perubahan biofisiologis dan perilaku
yang kompleks akibat transisi ke kehidupan ekstrauterin.
2. Asuhan keperawatan BBL didasarkan pada pengetahuan tentang perubahan-perubahan
biofisiologis ini dan pengaruh bayi pada unit keluarga.
3. Beberapa jam pertama setelah lahir menampilkan suatu periode penyesuaian kritis bagi BBL.
pada sebagian besar lingkungan, perawat memberikan perawatan langsung kepada bayi
segera setelah lahir.
4. Setelah periode transisi, perawat terus mengevaluasi BBL dengan interval yang periodic dan
menyesuaikan rencana asuhan keperawatan sesuai dengan hasil temuan terbaru.
5. Perawat harus terampil menyeimbangkan kebutuhan keluarga akan privasi dengan kebutuhan
memantau transisi bayi ke kehidupan ekstrauterin
TUJUAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
Priode pascapartum awal
• Mencapai dan mempertahankan jalan nafas dan mendukung pernafasan.
• Mempertahankan kehangatan dan mencegah hipotermia
• Memastikan keamanan dan mencegah cedera atau infeksi
• Mengidentifikasi masalah-masalah actual atau potensial yang memerlukan perhatian segera
Perawatan lanjutan
• Melanjutkan perlindungan dari cedera atau infeksi dan mengidentifikasi masalah-masalah
actual dan potensial yang memerlukan perhatian
• Memfasilitasi terbinanya hubungan dekat orang tua-bayi
• Memberikan informasi kepada orang tua tentang perawatan bayi baru lahir.
• Membantu oaring tua dalam mengembangkan sikap sehat tentang praktik membesarkan
anak
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ADAPTASI BAYI BARU LAHIR
1. Pengalaman antepartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya, terpajan zat toksik dan sikap
orang tua terhadap kehamilan dan pengasuhan anak)
2. Pengalaman intrapartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya, lama persalinan, tipe analgesic,
atau anestesia intrapartum)
3. Kapasitas fisiologis bayi baru lahir untuk melakukan transisi ke kehidupan ekstrauterin
4. Kemampuan petugas kesehatan untuk mengkaji dan merespons masalah dengan tepat pada
saat terjadi.
MENGETAHUI BAYI ANDA SEHAT ATAU TIDAK SETELAH LAHIR
Tanda-tanda bayi lahir sehat :
a. Segera menangis.
b. Pernafasan teratur.
c. Banyak bergerak.
d. Warna kulit merah muda.
e. Berat badan 2,5 kg atau lebih.
Bagaimana perawatan bayi dalam 4 minggu sesudah kelahiran?
a. Berilah ASI pada 30 menit pertama bayi lahir. Karena pada saat bayi lahir, pemberian makanan melalui ari-ari terputus sehingga harus segera diganti dengan ASI.
b. Jagalah suhu kamarnya agar bayi tidak kedinginan, karena dalam kandungan ibu, bayi mendapatkan kehangatan sesuai dengan suhu tubuh ibu.
c. Atur pertukaran udara dengan baik, karena bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya dengan baik.
d. Cucilah tangan bersih-bersih sebelum ibu merawat bayi, jagalah tempat tidur bayi dan popok tetap bersih, jangan biarkan orang lain memegang bayi bila tidak perlu. Bila bayi anda menderita demam, diare, susah bernafas, kejang-kejang segera bawa ke dokter.
e. Bila berat lahir bayi kurang dari 1,5 kg atau terdapat kelainan, segera ke Puskesmas atau dokter. Berat lahir bayi akan menurun 10% dan dalam 2 minggu akan kembali ke berat badan semula.
Apa yang harus dilakukan apabila kulit bayi menjadi kuning?
Bayi cukup bulan kadang-kadang kuning kulitnya dalam hari ke 2-3, hal ini tidak berbahaya karena biasanya akan menghilang dalam waktu 1 minggu. Jemurlah bayi pada pagi hari sebelum jam 10.00 pagi selama 15-30 menit. Hal ini akan mempercepat hilangnya warna kuning pada bayi. Bila kuning timbul dalam 24 jam setelah lahir atau berlangsung lebih dari 1 minggu, segera bawa ke Puskesmas atau dokter.
Pada bayi berat lahir rendah (BBLR) tetaplah berikan ASI karena beratnya cepat bertambah dan menjadi normal.
Apa tanda-tanda penyakit/kelainan pada bayi baru lahir yang harus segera mendapat pertolongan?
a. Tidak mau minum.
b. Mulut mencucur seperti mulut ikan.
c. Kejang-kejang.
d. Nafas cepat dan sesak.
d. Nafas cepat dan sesak.
e. Diare yang terus menerus.
Keadaan atau penyakit apa yang sering menyebabkan kematian pada bayi baru lahir?
Keadaan atau penyakit yang sering menyebakan kematian pada bayi baru lahir antara lain :
a. Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Berat lahir kurang dari 2,5 kg.
b. Tetanus pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum).
c. Penyakit Diare.
d. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut.
Bagaimana mencegah timbulnya kejadian bayi dengan berat lahir rendah?
a. Menjaga agar ibu hamil makan lebih banyak atau 1 kali lebih sering daripada sebelum hamil.
b. Memeriksakan kehamilan secara teratur, minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu:
- 3 bulan pertama kehamilan : minimal 1 kali.
- 3 bulan kedua kehamilan : minimal 1 kali.
- 3 bulan ketiga kehamilan : minimal 2 kali.
Bila berat badan ibu naik di bawah 1 kg perbulan, perlu segera ke Puskesmas atau dokter.
c. Menghindari kerja berat yang melelahkan dan mendapat istirahat yang cukup selama kehamilan.
Bagaimana upaya pencegahan diare pada bayi baru lahir?
a. Segera berikan ASI pada bayi baru lahir dan jangan berikan makanan tambahan lain, karena ASI terjamin kebersihannnya sehingga dengan pemberian ASI dapat mencegah diare dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi.
b. Gunakan air bersih untuk merawat bayi.
c. Buanglah kotoran bayi pada tempatnya.
Mengapa bayi kadang-kadang muntah?
Muntah atau sering disebut gumoh ialah keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh makanan yang baru dimakan. Muntah dalam jumlah sedikit tidak membahayakan terutama pada bayi di bawah 6 bulan.
Bagaimana cara mencegah terjadinya muntah (gumoh)?
a. Perbaiki cara menyusui sehingga tidak terlalu banyak udara yang tertelan. Pada waktu menyusui perlu diperhatikan bibir bayi harus mencakup rapat puting dan sebagain areola payudara ibu.
b. Untuk mengeluarkan udara yang tertelan, bayi ditegakkan dan ditepuk-tepuk punggungnya atau sambil ditelungkupkan pada pangkun ibunya atau ditidurkan miring ke sebelah kanan.
c. Perlakukan bayi secara halus, karena muntah dapat disebabkan karena gangguan psikologik misalnya apabaila bayi diperlakukan secara kasar.
Apakah kolik itu dan apa tanda-tandanya?
Kolik adalah suatu keadaan dimana bayi tampak kesakitan dan menangis terus menerus, biasanya terjadi pada bayi berusia 3 bulan. Penyebabnya bermacam-macam seperti terlalu lapar, gangguan emosi dan lain sebagainya.
Tanda-tanda bayi kolik ialah:
- Perut bayi tegang dan kembung.
- Bayi menangis terus menerus kadang-kadang sampai berjam-jam.
- Wajah bayi kemerahan atau pucat kebiruan.
- Kaki dingin dan tangan mengepal.
Bagaimana cara menanggulangi kolik?
Cara menanggulanginya, gosoklah perut bayi dengan sedikit minyak kayu putih atau minyak telon atau yang sejenisnya. Bila tidak ada perbaikan, bawalah ke Puskesmas atau
dokter.
Mengapa lidah bayi kadang-kadang putih?
Lidah bayi berwarna putih karena adanya sisa ASI di mulut bayi, yang semakin lama semakin tebal. Kalau hal ini dibiarkan, dapat menyebabkan bayi sulit makan. Bagaimana mencegah agar lidah bayi tidak putih ? Untuk mencegahnya berilah bayi minum air putih dengan sendok teh setiap habis menyusu.
Masalah-masalah seperti disebut di atas, wajar ditemui pada bayi baru lahir. Penyebabnya, bisa karena faktor hormon sang ibu, pengeluaran hasil sel atau kelenjar (sekresi) yang aktif, atau faktor eksresi yaitu pembuangan sisa-sisa kotoran/racun dalam tubuh. Tapi bisa juga karena ada sesuatu yang tak harmonis dalam tubuh si kecil. Kendati wajar dan lumrah, tetap saja harus diwaspadai, apakah cairan yang dikeluarkan bayi masih dalam batasan normal atau tidak. Nah, berikut hal-hal yang kerap dicemaskan orang tua disertai penjelasannya.
Darah dan keputihan dari vagina
Pada beberapa bayi perempuan yang baru lahir, kadang ditemui bercak darah keluar dari vaginanya seperti wanita tengah haid. Bahkan selain darah, kadang si kecil mengalami keputihan.Penyebabnya tak lain pengaruh hormon estrogen ibu saat bayi masih di kandungan, terutama pada trimester ketiga kehamilan. Hal itu bisa terjadi karena kendati masih bayi, ia sudah memiliki rahim dan kelenjarnya sudah bekerja. Karena penyebabnya adalah pengaruh hormonal sang ibu, maka tak perlu diobati. Diamkan saja sampai pengaruh hormon si ibu hilang atau habis dengan sendirinya.Kapan hilangnya, tergantung kadar hormon si ibu. Biasanya tak sampai 2 bulan.
Pengaruh hormonal dari ibu ini sebenarnya tak jadi masalah, hingga tak perlu kelewat cemas. Pada bayi lelaki, pengaruh hormonal dari ibu akan terlihat pada payudaranya yang agak besar seakan membengkak. Tak perlu dipijat-pijat, nanti bengkaknya juga akan hilang dengan sendirinya.
Lendir
Akibat ada lendir, napas si kecil jadi terdengar berisik. Suara grok, grok, grok, yang dikeluarkannya membuat ibu khawatir. Bunyi itu, berasal dari cairan yang berada di paru-paru, karena organ ini memproduksi lendir juga. Bunyi yang dikeluarkan bayi, pertanda sekresinya berlebihan. Pada bayi yang berbakat alergi, semisal ibunya makan seafood hingga bayinya alergi, maka produksi lendir pun akan meningkat. Karena itu, ibu harus memperhatikan benar, apa saja yang bisa jadi pencetus alergi anak hingga napas keras karena lendir yang berlebihan tadi bisa dihindari. Selain alergi, peningkatan lendir juga bisa terjadi karena ada infeksi semisal tertular flu dari lingkungan sekitarnya.
Sekresi lendir yang berlebih juga dapat mengganggu makan dan minum bayi. Kondisi saluran napas dan saluran makan anak usia 3-6 bulan masih dalam keadaan terbuka hingga ia pun akan muntah karena makanan atau minuman yang ditelannya tak bisa masuk dengan baik. Beda dengan bayi usia 6 bulan ke atas di mana kedua saluran tadi tak terbuka kedua-duanya. Saat si bayi minum atau makan, maka saluran napasnya akan menutup.
Nah, bunyi napas yang kasar tadi, sejauh tak mengganggu makan-minum, tak ada demam atau infeksi, tak mengganggu aktivitas bayi, tak perlu dikhawatirkan. Sebab pada prinsipnya tubuh bayi memproduksi banyak lendir, hanya saja dia tak bisa mengeluarkannya seperti dengan batuk karena refleksnya belum baik.Letakkan bayi dalam posisi tengkurap lalu tepuk-tepuk punggungnya. Kalau lendirnya banyak, dengan cara ini dia akan muntah. Lakukan cara ini sebelum bayi minum apa pun. Posisi tidur tengkurap juga bagus, karena posisi saluran napas jadi lebih rendah hingga lendir pun akan turun ke arah mulut.
Tinja
Begitu tinja si kecil berwarna hijau tua dan agak kehitaman, orang tua umumnya langsung cemas. Padahal, itu normal-normal saja. Ini bisa terjadi karena bayi minum cairan ketuban dan disekresikan tubuh untuk kemudian dikeluarkan kembali ke dalam air ketuban dalam plasenta ibu. Begitu lahir, bila si bayi buang air besar maka kotoran awal yang keluar akan berupa kotoran kala dia masih di kandungan, yang disebut meconium. Jadi, tak perlu cemas dan panik. Biasanya meconium akan berlangsung selama 2-3 hari. Setelah itu, kotorannya akan berwarna hijau, walaupun sudah tak ada lagi kaitannya dengan air ketuban. Warna hijau ini diberikan pada makanan oleh empedu yang terdapat di usus dua belas jari. Adanya warna empedu pada tinja yang keluar sebenarnya pertanda bagus. Berarti empedu itu bekerja mencerna lemak makanan yang ada dalam usus.
Kecuali, jika warna tinja putih seperti dempul. Ini patut dicurigai karena mungkin ada yang tak normal atau mungkin terjadi sumbatan pada empedunya. Begitu juga bila terdapat darah pada tinja, harus diwaspadai sebagai indikasi ada infeksi. Segera bawa anak ke dokter.
Normalnya, pada bayi baru lahir karena ia mendapatkan ASI, maka frekuensi BAB-nya dalam sehari bisa 6-8 kali dalam bentuk cair dan ada ampasnya. Hal ini normal. Kecuali hanya cairan atau berlendir saja, maka harus segera dibawa ke dokter karena kemungkinan terjadi infeksi. Biasanya setelah mendapat makanan padat, pola buang air besarnya bisa berubah, misal, 3 kali sehari.
Urin
Umumnya, urin bayi baru lahir tak putih bening warnanya, melainkan kuning agak pekat. Bisa juga kemerahan seperti darah. Ini dipengaruhi minuman si bayi. Ada beberapa produk susu formula yang mengandung suatu zat tertentu yang sebetulnya memang baik untuk tubuh, tapi bisa menyebabkan warna urin berubah karena mungkin kadarnya terlalu tinggi. Jadi, tak usah buru-buru cemas. Kalau karena pengaruh susu formula, sebetulnya tak berbahaya karena hanya suatu reaksi tubuh. Walaupun demikian, ada baiknya untuk penggunaan susu tersebut selanjutnya dikonsultasikan pada dokter.
Lain hal kalau warna urin merah bukan dikarenakan konsumsi yang diminum si bayi, maka ibu harus waspada. Misal, bayi tak minum susu formula. Bisa jadi darah yang ada di urinnya karena ada perdarahan, entah akibat infeksi ataupun kekurangan vitamin K.
Keringat
Banyak orang tua mengeluh, mengapa keringat si kecil begitu banyak. Padahal, memang begitulah yang terjadi pada bayi baru lahir. Pada beberapa bagian tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki, keringatnya banyak sekali. Penyebabnya, di daerah tersebut memang banyak kelenjar keringatnya. Malah kalau ia banyak berkeringat, itu pertanda kelenjar keringatnya berfungsi dengan baik. Sebab, pengeluaran keringat, termasuk proses eksresi, yaitu membuang sisa-sisa garam, juga racun dalam tubuh. Selain itu, untuk mengeluarkan panas dalam badan dan membuat suhu permukaan kulit jadi turun. Umumnya, makin meningkat usia bayi, keringatnya akan berkurang.
Penyebab lain dari keringat berlebihan adalah konsumsi susu sapi. Protein susu sapi dalam badan akan diubah oleh tubuh menjadi protein. Nah, saat pengubahan itu, banyak menimbulkan panas yang akan dibuang dalam bentuk keringat.
Air mata
Orang tua juga kadang khawatir bila mata bayinya selalu tampak belekan atau berair terus. Produksi air mata pada bayi sebetulnya sudah ada. Kalau pada orang dewasa, bila ia menangis akan terasa ada air mata yang masuk ke dalam saluran hidung, seperti orang yang pilek. Nah, pada beberapa bayi, kalau produksi air matanya berlebihan, sementara saluran yang ada ke hidung belum sempurna dan belum dapat dipakai dengan baik, maka bayi akan mengeluarkan air mata hanya dari matanya. Saluran hidung ini umumnya akan membaik bila bayi menginjak usia 1 bulan. Lain hal jika ia mengalami radang di hidung hingga salurannya tetap tersumbat dan akibatnya air matanya menjadi meningkat.
Muntah
Jika hanya gumoh, tak perlu dirisaukan. Gumoh terjadi karena ada udara di dalam lambung yang terdorong keluar kala makanan masuk ke dalam lambung bayi. Yang harus dikhawatirkan adalah muntah, yaitu cairan yang keluar lebih banyak dari gumoh. Muntah bukan sekresi ataupun eksresi, tapi memang ada sesuatu yang tak normal. Harusnya makanan dan minuman masuk dari mulut ke lambung, lalu ke usus dua belas jari. Nah, jika muntah, berarti ada sesuatu yang menganggu. Umumnya karena ada masalah pada pintu masuk lambung, misal, sudutnya tak tepat, sementara tekanan dari lambung tinggi. Akibatnya, dia akan balik lagi yang disebut reflaks. Bisa juga ada masalah pada pintu keluar lambung hingga menyebabkan lambung terganggu kala akan mengeluarkan isinya ke usus dua belas jari. Penyebab lain adalah infeksi, semisal radang tenggorokan yang bisa menimbulkan reaksi muntah. Namun demikian, muntah pada bayi baru lahir jarang sekali terjadi.
Walaupun sebagian besar proses persalinan terfokus pada ibu tetapi karena proses tersebut merupakan proses pengeluaran hasil kehamilan (bayi), maka penatalaksanaan suatu persalinan baru dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang dilahirkan juga berada dalam kondisi yang optimal. Memberikan pertolongan dengan segera, aman dan betrsih pada bayi baru lahir adalah bagian esensial dari asuhan bayi baru lahir. Sebagian besar kesakitan dan kematian bayi baru lahir disebabkan oleh asfiksia, hipotermia dan/atau infeksi. Kesakitan dan kematian bayi barulahir dapat dicegah bila asfiksia segera dikenali dan ditatalaksana serta dilakukan pencegahan hipotermia dan infeksi.
Penatalaksanaan awal bayi baru lahir
Penatalaksanaan awal bayi baru lahir meliputi:
• Pencegahan infeksi
• Penilaian awal
• Pencegahan kehilangan panas
• Rangsangan taktil
• Asuhan tali pusat
• Memulai pemberian ASI
• Pemberian profilaksis terhadap gangguan pada mata
Pencegahan infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Saat melakukan penanganan bayi baru lahir, pastikan untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi berikut ini:
• Cuci tangan secara seksama sebelum dan setelah melakukan kontak dengan bayi
• Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan.
• Pastikan bahwa semua peralatan, termasuk klem gunting dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril. Jika menggunakan bola karet penghisap, pakai yang bersih dan baru. Jangan pernah menggunakan bola karet penghisap untuk lebih dari satu bayi.
• Pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut serta kain yang digunakan untuk bayi, telah dalam keadaan bersih.
• Pastikan bahwa timbangan, pita pengukur, thermometer, stetoskop dan benda-benda lainnya yang akan bersentuhan dengan bayi dalam keadaan bersih (dekontaminasi dan cuci setiap kali setrilah digunakan.
ADAPTASI /PERUBAHAN FISIOLOGI PADA BBL
Bayi adalah individu baru yang lahir di dunia. Dalam keadaannya yang terbatas, maka individu baru ini sangatlah membutuhkan perawatan dari orang lain.
Pengertian Bayi Baru Lahir Normal
Janin yang lahir melalui proses persalinan dan telah mampu hidup di luar kandungan.
Karakteristik Bayi Baru Lahir Normal
a. Usia 36-42 minggu.
b. Berat badan lahir 2500-4000 gr.
c. Dapat bernafas dengan teratur dan normal.
d. Organ fisik lengkap dan dapat berfungsi dengan baik.
Adaptasi Fisik Bayi Baru Lahir Normal
Segera setelah lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang semula berada dalam lingkungan interna (dalam kandungan Ibu)yang hangat dan segala kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya. Saat ini bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui sistem sirkulasi pernafasannya sendiri yang baru, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit
Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim disebut Periode Transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem tubuh. Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil serta menggunakan glukosa. Perubahan Sistem Pernafasan. Interaksi antara sistem pernafasan, kardiovaskuler dan susunan syaraf pusat menimbulkan pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah :
1. Perubahan sistim pernapasan / respirasi
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.
a. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabnga dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini terus berlanjit sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolusnakan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
b. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
1). Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang
merangsang pusat pernafasan di otak.
2). Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru selama
persalinan, yang merangsang masuknya udara ke dalam paru - paru secara mekanis.
Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat
menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang
diperlukan untuk kehidupan.
3). Penimbunan karbondioksida (CO2)
Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang
pernafasan. Berurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi
sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan
janin.
4). Perubahan suhu
Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.
c. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas
Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1). Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2). Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin /sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru – paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkandinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu.
d. Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi melewati jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang dilahirkan secar sectio sesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus BBL. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah.
e. Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler
Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara.Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
2. Perubahan pada sistem peredaran darah
Perubahan Dalam Sistem Peredaran Darah.
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan besar :
a. Penutupan a). foramen ovale pada atrium jantung
b). Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam system pembuluh darah
1) Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2) Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan pada atrium kiri, toramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri, foramen ovali secara fungsional akan menutup.
Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
Perbedaan sirkulasi darah fetus dan bayi
a. sirkulasi darah fetus
1). Struktur tambahan pada sirkulasi fetus
a). Vena umbulicalis : membawa darah yang telah mengalami deoksigenasi dari plasenta ke permukaan dalam hepar
b). Ductus venosus : meninggalkan vena umbilicalis sebelum mencapai hepar dan mengalirkan sebagian besar darah baru yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior.
c). Foramen ovale : merupakan lubang yang memungkinkan darah lewat atrium dextra ke dalam ventriculus sinistra
d). Ductus arteriosus : merupakan bypass yang terbentang dari venrtriculuc dexter dan aorta desendens
e). Arteri hypogastrica : dua pembuluh darah yang mengembalikan darah dari fetus ke plasenta. Pada feniculus umbulicalis, arteri ini dikenal sebagai ateri umbilicalis. Di dalam tubuh fetus arteri tersebut dikenal sebagai arteri hypogastica.
2). Sistem sirkulasi fetus
a). Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke permukaan dalam hepar. Vena hepatica meninggalkan hepar dan mengembalikan darah ke vena cava inferior
b). Ductus venosus : adalah cabang – cabang dari vena umbilicalis dan mengalirkan sejumlah besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior
c). Vena cava inferior : telah mengalirkan darah yang telah beredar dalam ekstremitas inferior dan badan fetus, menerima darah dari vena hepatica dan ductus venosus dan membawanya ke atrium dextrum
d). Foramen ovale : memungkinkan lewatnya sebagian besar darah yang mengalami oksigenasi dalam ventriculus dextra untuk menuju ke atrium sinistra, dari sini darah melewati valvula mitralis ke ventriculuc sinister dan kemudian melaui aorta masuk kedalam cabang ascendensnya untuk memasok darah bagi kepala dan ekstremitas superior. Dengan demikian hepar, jantung dan serebrum menerima darah baru yang mengalami oksigenasi
e). Vena cava superior : mengembalikan darah dari kepala dan ekstremitas superior ke atrium dextrum. Darah ini bersama sisa aliran yang dibawa oleh vena cava inferior melewati valvula tricuspidallis masuk ke dalam venriculus dexter
f). Arteria pulmonalis : mengalirkan darah campuran ke paru - paru yang nonfungsional, yang hanya memerlukan nutrien sedikit
g). Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas inferior
h). Arteria hypogastrica : merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa darah kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan nutrien yang dipasok dari peredaran darah maternal
b. Perubahan pada saat lahir
1). Penghentian pasokan darah dari plasenta
2). Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru
3). Penutupan foramen ovale
4). Fibrosis
a). Vena umbilicalis
b). Ductus venosus
c). Arteriae hypogastrica
d). Ductus arteriosus
3. Pengaturan suhu
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin , pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada BBlL
4. Metabolisme Glukosa
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam).
Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
a. melalui penggunaan ASI
b. melaui penggunaan cadangan glikogen
c. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak.
BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup, akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi).Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup.Bayi yang sehat akan menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati, selama bulan-bulan terakhir dalam rahim. Bayi yang mengalami hipotermia, pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan cadangan glikogen dalam jam-jam pertama kelahiran. Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai dalam 3-4 jam pertama kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua persediaan glikogen digunakan pada jam pertama, maka otak dalam keadaan berisiko. Bayi yang lahir kurang bulan (prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim dan stres janin merpakan risiko utama, karena simpanan energi berkurang (digunakan sebelum lahir).
Gejala hipoglikemi dapat tidak jelas dan tidak khas,meliputi; kejang-kejang halus, sianosis,, apneu, tangis lemah, letargi,lunglai dan menolak makanan. Hipoglikemi juga dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemi adalah kerusakan yang meluas di seluruh di sel-sel otak.
5. Perubahan sistem gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat lair.
Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.
6. Sistem kekebalan tubuh/ imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahana tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
a. perlindungan oleh kulit membran mukosa
b. fungsi saringan saluran napas
c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
PERAWATAN BAYI
Perawatan bayi menyangkut banyak hal. Dimulai ketika mengangkat bayi, saat mengganti baju, memandikan, atau memberinya makan, peganglah dengan erat dan penuh percaya diri. Bicaralah secara perlahan dan lembut, sambil melakukan kontak mata.
Mengangkat bayi

Menggendong dan merangkul bayi akan membuatnya merasa aman dan dicintai. Mungkin tidak mudah pada awalnya, namun Anda akan semakin terbiasa dengan sering melakukannya.
• Berdiri menghadap ke arahnya, susupkan satu tangan ke bawah kepala dan lehernya, dan tangan lain ke pantat.
• Angkat perlahan dan lembut kearah dada, putar kepalanya kearah lekukan siku, lalu sangga tubuhnya dengan lengan Anda.
• Saat meletakkannya, pegang kepala dan pantatnya. Tarik terlebih dahulu tangan dari pantat, kemudian tarik tangan yg dibawah kepala.
Menggendong bayi

Termasuk dalam perawatan bayi termasuk juga menggendong bayi. Bayi baru lahir belum dapat menegakkan kepalanya. Anda harus menyangganya agar tidak terkulai. Gunakan gendongan agar ia dekat dengan tubuh Anda, sementara tangan Anda bisa melakukan pekerjaan lain.
Memakaikan baju
Kebanyakan bayi tidak menyukai baju yang dimasukkan melalui kepala. Ada baiknya Anda membeli baju yang berkancing atau bertali depan atau samping.
Mengganti popok
Untuk menghindari ruam popok, gantilah sesegera mungkin ketika basah atau kotor.Perlu diketahui, perawatan bayi baru lahir perlu mengganti popok 10 hingga 12 kali sehari.
Perawatan bayi dari ujung kepala sampai ujung kaki
Dalam melakukan perawatan bayi baru lahir sebenarnya tidak perlu dimandikan setiap hari. Diantara waktu mandi, bersihkan tubuh bayi dengan mengelapnya dari ujung kepala sampai kaki. Caranya, buka baju bayi sebentar, bersihkan bagian yang perlu, seperti wajah, tangan, dan bagian kemaluan. Jangan membersihkan bagian dalam hidung atau kuping, karena lender dan selaput keduanya dapat membersihkan sendiri. Usaplah bagian yang kotor dengan kapas basah.
Memandikan
Termasuk dalam perawatan bayi adalah memandikannya dengan benar :
• Siapkan terlebih dahulu keperluan mandi,
• Isi air hangat ke bak mandi, periksa suhunya dengan sikut.
• Buka baju, bungkus dengan handuk di pangkuan Anda. Usap matanya dengan kapas yang telah dibasahi dengan air matang dingin. Bersihkan daerah sekitar wajah dan mulut.
• Keramasi rambutnya, pegang kepalanya di atas bak mandi. Keringkan. Lepaskan handuk, letakkan satu tangan di bawah pundaknya, dan tangan lain di pantat, lalu masukkan bayi secara perlahan ke bak mandi.
• Tahan leher dan pundaknya, sabuni dan bilas dengan tangan Anda yang bebas. Pegang pantatnya dan angkat. Bungkus dengan handuk, tepuk-tepuk agar kering. Biarkan bayi terbungkus handuk saat Anda memakaikan baju dan popoknya.
Menidurkan

Waktu tidur bayi berbeda-beda. Rata-rata bayi baru lahir akan bangun selama 6-8 jam setiap 24 jam, dan biasanya tidur di siang hari 3-5 jam.
Menangis
Menangis adalah cara bayi Anda memberitahu kebutuhannya. Secara bertahap, Anda akan belajar membedakan tangisannya. Antara tangisan lapar atau lelah. Dengan demikian Anda bisa memberikan perawatan bayi dengan benar. Bila tidak berhenti juga, cobalah untuk menghubungi dokter Anda.
TIPS MERAWAT BAYI BARU LAHIR
Jadi orang tua baru biasanya merasa gamang dan seperti tak tahu berbuat apa ketika harus mulai merawat si kecil yang baru lahir. Berikut ini 4 hal utama perawatan bayi baru lahir yang sering membuat orang tua gamang.
Membersihkan Tali Pusat
Benda yang menempel pusar si kecil ini sering membuat kita serba kikuk. Takut merawatnya dan menyakiti bayi. Benda itu adalah sisa tali pusatyang akan lepas dengan sendirinya sekitar 7- 14 hari( meski ada juga yang sampai hampir sebulan ) setelah bayi lahir. Tak ada yang menakutkan, yang penting bagaimana kita merawat kebersihannya agar terhindar dari infeksi..
Cara benar merawat tali pusat si kecil.
* Usahakan tali pusat dan daerah sekitarnya selalu dalam keadaan kering dan bersih. Tali pusat yang lembab bisa memancing jamur dan infeksi, juga membuat lama terlepas.
* Bila si kecil buang air besar, lepaskan dan lipat popoknya ke arah belakang, sehingga tali pusat terhindar ke arah belakang, sehingga tali pusat terhindar dari kotoran maupun air seni.
Setiap kali mandi, beri perhatian khusus pada tali pusat.
1. Setelah seluruh tubuh bayi (termasuk bagian tali pusat) dikeringkan dengan handuk lembut, bersihkan sisa tali pusat dengan kapasyang telah dicelup air matang. Lakukan dengan lembut mulai dari pangkal ( bagian yang menempel di perut ) hingga ujungnya.
2. Bungkus dengan kain kasa kering. Tidak perlu mengikatnya, cukup dengan dilipat, agar masih tetap ada udara yang keluar masuk.
* Selalu pantau kondisi tali pusat. Bila terlihat tanda-tanda iritasi, kemerahan, berdarah atau berbau tak sedap, segera periksakan ke dokter.
Penting diingat! Jangan sekali-kali menarik-narik atau mendorong masuk sisa tali pusat.
Menggunting Kuku

Kuku bayi memang kelihatan mungil, tipis dan lembut. Makanya, banyak orang tua ngeri memotong kuku bayinya, karena takut melukai jari si kecil.Sebenarnya, kuku lebih tahan serangan kuman. Tetapi, kalau kuku selalu dalam keadaan lembap, jamur serta kuman senang bersarang di sana. Belum lagi kalau kebersihannya kurang terjaga, sementara bayi gemar memasukkan jarinya ke mulutyang membuat kukunya terus-menerus lembab. Itu sebabnya, kuku si kecil harus selalu dalam keadaan kering. Perhatikan beberapa hal saat menggunting kuku si kecil.
* Amati selalu panjang kuku si kecil, mengingat pertumbuhan kuku bayi jauh lebih cepat dari orang dewasa.
* Potong atau gunting bila terlihat panjang dan tajam. Meski tipis dan lemah, kuku yang panjang bisa menggores wajah si kecil.
* Potong atau gunting kuku si kecil setelah mandi, karena masih lunak sehingga mudah digunting. Tetapi, kalau bayi anda termasukyang tak bisa diam, lakukan saat ia tidur lelap di siang hari.
Caranya :
1. Gunakan pemotong kuku atau gunting yang dirancang khusus untuk bayi.
2. Sebelum digunakan, tak ada salahnya dibersihkan dulu dengan alkohol 70%.
3. Pegang salah satu telapak tangan si kecil dengan tangan kiri anda (sebaliknya bila anda kidal), lalu lebarkan jarak antar jari-jarinya.
4. Gunting kuku si kecil dengan tangan kanan anda secara perlahan.
5. Bersihkan kotoran yang ada di balik kuku dengan kapas yang dibasahi air hangat.
* Jangan terlalu sering menggunting kuku bayi, karena akan mempermudah terjadinya kerusakan kulit di sekitar kuku.
* Meski sudah super hati-hati, terkadang terjadi juga sedikit luka di kulit bayi saat anda memotong kukunya. Tak perlu panik. Segera bersihkan darah dengan kapas dan beri obat antiseptik. Jika perlu, kenakan sarung tangan.
Penting diingat! Jangan ikuti keinginan untuk mengelupas apalagi memotong kuku bayi dengan gigi Anda. Kuman yang ada dalam mulut Anda bisa berpindah ke kulit bayi. Selain itu, tanpa sadar Anda bisa terlalu dalam memotong kukunya.
Membersihkan Telinga.
Membersihkan telinga bayi tidak serumit yang anda duga. Yang penting, anda tetap tenang meski si kecil selalu menggerak-gerakkan kepalanya. Anda tidak perlu memasukkan bola kapas atau kapas berantai ke dalam lubang telinganya. Cukup bersihkan bagian luar serta daun telinga si kecil.
Telinga bayi sebaiknya di bersihkan dengan cara:
* Lakukan bersamaan waktu ia mandi.
* Basahi waslap dengan air hangat dan beri sabun bayi sedikit. Angkat sedikit kepala si kecil, lalu usap daun telinga serta bagian belakang telinganya. Bilas sampai bersih.
* Gunakan kapas bulat atau kapas berantai yang dicelup air hangat, lalu bersihkan bagian luar hingga lubang telinga si kecil, termasuk ceruk-ceruk ( lekukan) pada daun telinganya.
* Keringkan dengan handuk kecil lembut.
Cairan lilin di telinga si kecil sebenarnya normal, bahkan berguna sebagai penghalang masuknya kotoran dari luar. Jadi, tak perlu terlalu dirisaukan, kecuali kotoran itu sampai mengeras dan menutupi lubang telinga si kecil.
Catatan: Penting diingat! Cairan lilin di telinga bayi sebenarnya normal, bahkan berguna sebagai penghalang masuknya kotoran dari luar. Jadi, tak perlu terlalu dirisaukan, kecuali kotoran itu sampai mengeras dan menutupi lubang telinga bayi.
Membersihkan Mata.
Adakalanya, mata si kecil terlihat redup dan terdapat kotoran menempel di kelopaknya. Jangan khawatir, mudah kok membersihkannya.
* Bersihkan mata si kecil bersamaan dengan waktu mandinya, atau setiap pagi dan sore hari.Sebelum membersihkan, bersihkan dulu tangan anda agar kalau ada kuman di sana tidak berpindah ke mata si kecil.
* Gunakan kapas bulat yang sudah dicelup air hangat.
* Usapkan perlahan mata si kecil (lakukan dari arah tengah ke luar). Jangan bolak-balik.
* Ganti kapas setiap kali usap. Selain agar kotoran mata yang menempel di kapas tak mengenai matanya lagi, juga agar mata si kecil tidak terkontaminasi kuman dari satu ke mat yan lain.
Terkadang air mata si kecil terus menerus keluar. Hal ini karena ada sumbatan di saluran air mata. Atasi dengan memijat secara halus bagian pangkal hidung si kecil.Penting diingat! Kalau kotoran mata si kecil tak juga hilang meski selalu dibersihkan, segera bawa ke dokter, karena bisa jadi matanya terinfeksi kuman
Pengkajian fisik keperawatan pada bayi baru lahir merupakan pengkajian fisik yang di lakukan oleh perawat untuk menilai status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru lahir, kemudian 24 jam setelah lahir dan pada waktu pulang dari rumah sakit. Tujuan secara umum pengkajian fisik pada bayi adalah menilai status adaptasi atau penyesuaian kehidupan intra uteri ke dalam kehidupan ekstra uteri dan mencari kelainan pada bayi. Adapun pengkajian fisik yang dapat di lakukan pada bayi antara lain:
Penilaian Apgar Score
Pengkajian ini memiliki kemampuan laju jantung, kemampuan bernafas, kekuatan tonus otot, kemampuan reflex dan warna kulit. Penilaian apgar score ini di temukan oleh Dr.Virgina Apgar, penilaian ini dapat di lakukan pada menit pertama setelah lahir dengan penilaian sebagai berikut:
7-10 (beradaptasi baik)
4-6 (asfiksia ringan hingga sedang)
0-3 (asfiksia berat)
Kemudian penilaian berikutnya setelah 5 menit.
Pemeriksaan Cairan Amnion
Pemeriksaan cairan amnion ini di lakukan untuk menilai ada tidaknya kelainan pada cairan amnion tentang jumlah volumenya, apabila volumenya lebih dari 2000 ml bayi mengalami polihidramnion atau di sebut hidramnion sedangkan apabila jumlahnya kurang dari 500 ml maka bayi mengalami oligohidramnion.
Pemeriksaan Placenta
Pada pemeriksaan placenta ini di lakukan untuk menentukan keadaan placenta seperti adanya pengkapuran, nekrosis, beratnya dan jumlah korion. Pemeriksaan ini penting dalam menentukan terjadi kembar identik atau tidak.
Pemeriksaan Tali Pusat
Pemeriksaan tali pusat ini menilai ada tidaknya kelainan dalam tali pusat seperti adanya vena dan arteri, adanya tali simpul pada tali pusat atau tidak.
Pengukuran Antropometri
Pada pemeriksaan bayi baru lahir perlu di lakukan pengukuran antropometri seperti berat badan, dimana pengukuran berat badan yang normal adalah 2500-3500 gram, pengukuran panjang badan secara normal, panjang bayi baru lahir adalah 45-50 cm, pengukuran lingkar kepala normalnya adalah 33-35 cm, pengukuran lingkar dada normalnya adalah 30-33 cm.
Pemeriksaan Kepala
Pemeriksaan Dada dan Punggung
Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan Tulang Belakang dan Ekstremitas
Pemeriksaan Genitalia
Pemeriksaan Anus dan Rectum
Pemeriksaan Kulit
Pemeriksaan Refleks
Anda merasa gamang dan seperti tak tahu harus berbuat apa ketika harus mulai merawat bayi yang baru lahir? Jangan bingung! Namanya juga orang tua baru, kan? Nah, berikut ini empat hal utama perawatan bayi baru lahir yang sering membuat orang tua gamang.
CONTOH BLANGKO ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL
HASIL ASUHAN KEBIDANAN ANTENATAL
PADA NY “ Y “ GESTASI 8 – 10 MINGGU DENGAN MUAL DAN MUNTAH
………………………….
TGL 23 – 1 – 2007
No Register : 103476
Tgl Kunjungan : Tanggal 23 Januari 2007
Tgl Pengkajian : Tanggal 23 Januari 2007
IDENTITAS ISTERI / SUAMI
1. Nama : Ny “ S “ / Tn “ D “
2. Umur : 30 tahun / 34 tahun
3. Suku : Makassar / Makasar
4. Agama : Islam / Islam
5. Pendidikan : SMA / SMA
6. Pekerjaan : IRT / Wiraswasta
7. Alamat : BTN Mutiara Permai
DATA SUBJEKTIF ( S )
1. Ibu mengatakan ini kehamilan pertama dan tidak pernah keguguran
2. Ibu mengatakan HPHT tanggal 17 - 11 – 2006
3. Ibu mengatakan umur kehamilannya 2 bulan lebih
4. Ibu mengatakan tidak pernah merasakan nyeri perut yang hebat selama hamil
5. Ibu mengatakan belum mendapatkan imunisasi TT
6. Ibu mengatakan merasakan mual dan muntah sejak 2 minggu yang lalu dan lebih sering dirasakan pada waktu pagi hari
DATA OBJEKTIF ( O )
1. Keadaan umum ibu nampak cemas
2. BB : 55 Kg Sebelum hamil 56 Kg
3. TB : 158 cm
4. Tanda –tanda vital
Tekanan darah : 100 / 70 mmHg
Nadi : 80 x / menit
Suhu : 36,8 ° C
Pernapasan : 24 x / menit
5. HTP : Tanggal 24 – 8 – 2007
6. Umur kehamilan : 9 minggu 5 hari
7. Konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterus
8. Ekspresi wajah nampak cemas dan tidak ada oedema pada wajah
9. Bibir tampak agak kering , tidak ada caries gigi
10. Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis
11. Payudara simetris kiri dan kanan, putting susu terbentuk, areola hiperpigmentasi, tidak ada massa atau nyeri tekan.
12 Tonus otot perut tampak tegang, tampak linea nigra dan tidak ada bekas operasi
13. Palpasi
Leopold I : 2 jari atas symfisis ( 10 cm)
Leopold II : Ball 14. DJJ : belum terdengar
15. Tidak ada oedema dan varises pada tungkai.
16. Refleks patella ( + ) ki /ka
ASSESMENT ( A )
Diagnosa Aktual : GI PO AO, Gestasi minggu, intra uterin, dengan masalah aktual mual dan muntah
Masalah potensial : Hiperemesis Gravidarum
PLANNING ( P )
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaan kehamilannya
2. Memberikan HE kepada ibu tentang :
a. Gizi ibu hamil
b. Istirahat yang cukup
c. Hygiene ibu hamil
d. Menganjurkan pada ibu untuk menghindari keadaan atau makanan yang merangsang
muntah.
e. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi atau makan biskuit kering / roti dengan
minum teh hangat sebelu bangun tidur di pagi hari.
f. Penatalaksanaan pemberian obat yaitu : B Complex dan Calsium
g. Menganjurkan kepada ibu untuk datang follow up minggu depan tanggal 30 Januari 2007
REFERENSI
http://en.seenow.com/popular
www.AsianBrain.com
www.AnneAhira.com
Soegijanto soegeng,Asuhan neonatus,bayi dan anak. 2002.
Dedeh Sri Rahayu,Asuahan keperawatan anak dan neonatus, 2009.
Langganan:
Postingan (Atom)