Selasa, 04 Januari 2011

TEORI REVA RUBIN

TEORI REVA RUBIN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelaksanaan sosial praktik konsep kebidanan dilahan praktik di puskesmas Pemurus Baru merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat dalam memberikan pelayanan secara menyeluruh serta terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya.
Program kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu program khusus di Puskesmas Pemurus Baru yang merupakan prioritas tertinggi, mengingat bahwa golongan ibu hamil, bayi dan anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit bahkan kematian.
Dalam memberikan pelayanan banyak kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas Pemurus Baru dalam upaya menurunkan angka penyakit dan kematian salah-satunya melakukan kegiatan Ante Natal care(ANC). ANC ini ditunjukan dengan salah satu indikator yang terdapat dalam suatu sistem pemantauaan wilayah program KIA yang berindikator dikesehatan anak dan ibu.
Berdasarkan teori-teori konsep kebidanan yang dipelajari di kelas, penulis mengaplikasikan dan mengidentifikasi pelaksanaan pelayanan kebidananan di Puskesmas Pemurus Baru. Dalam pengaplikasian, penulis mengumpulkan data melalui hasil wawancara dan pengamatan terhadap bidan mengenai teori-teori kebidanan yang digunakan oleh para bidan setempat, peran dan fungsi bidan, profesionalisme bidan, pelayanan mandiri-kolaborasi-rujukan, pemasaran sosial jasa asuhan kebidanan, serta penghargaan dan sanksi terhadap bidan.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui kinerja bidan di lapangan dalam menerapkan konsep dan Asuhan Kebidanan yang dilakukan.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui teori-teori asuhan kebidanan yang dapat diterapkan oleh bidan di Puskesmas Pemurus Baru
b. Mengetahui dan mengidendifikasi bagaimana seorang bidan dalam menjalankan peran dan fungsinya.
c. Mengidentifikasi keprofesionalan seorang bidan dalam memberikan pelayanan di Puskesmas Pemurus Baru.
d. Mengidentifikasi sistem pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, baik di Puskesmas Pemurus Baru maupun ditempat praktik klinik lainnya.
e. Mengetahui bagaimana seorang bidan dapat melakukan pemasaran sosial jasa terhadap masyarakat.
f. Mengetahui dan mengkaji apakah para bidan dipuskesmas pernah atau tidaknya mendapat penghargaan ataupun sanksi selama menjalankan pekerjaannya.

C. Manfaat
1. Manfaat teoritis
Kita dapat membandingkan antara teori yang ada dengan kenyataan yang berada dilapangan.
2. Manfaat praktik
Kita dapat menambahkan wawasan bagi para mahasiswa calom bidan agar dapat melaksanakan perannya dengan baik dikemudian hari.


BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Teori Teori Dalam Kebidanaan
1. Teori Reva Rubin
Penekanan Rubin dalam teori ini adalah pencapaiaan peran ibu. Untuk mencapai peran tersebut seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaian aktivitas dan latihan-latihan. Dalam proses ini wanita diharapkan mampu mengidentifikasi bagaimana seorang mampu mengambil peran seorang ibu. Walaupun proses ini mungkin dapat melibatkan efek yang negatif misalnya dalam intervensi atau tindakan, namun teori ini sangat berarti bagi seorang wanita terutama calon ibu untuk mempelajari peran yang dialaminya kelak sehingga ia mampu beradaptasi dengan perubahan yang akan dihadapinya khususnya perubahan psikososial dalam kehamilan dan setelah melahirkan.

a. Perubahan umum pada ibu hamil :
1) Cenderung lebih tergantung dan membutuhkan perhatian yang lebih untuk dapat berperan sebagai calon ibu dan mampu memperhatikan perkembangan janinnya.
2) Membutuhkan sosialisasi

b. Tahapan sosialisasi
1) Anticipatory stage
Ibu melakukan latihan peran dan memerlukan interaksi dengan anak lain.
2) Honeymoon stage
Ibu mulai memahami sepenuhnya peran dasarnya, pada tahap ini memerlukan bantuan anggota keluarga yang lain.
3) Plateu stage
Ibu akan mencoba sepenuhnya apakah ia telah mampu menjadi ibu ,tahap ini membutuhkan waktu beberapa minggu dan ibu akan melanjutkan sendiri.
4) Disengagement stage
Tahap penyelesaian dimana latihan peran dihentikan, namun peran sebagai orangtua belum jelas.

c. Tahap fase aktivitas penting sebelum menjadi ibu:
1) Taking on
Pada fase ini wanita meniru dan melakukan peran ibu.
2) Taking in
Pada fase ini fantasi wanita tidak hanya meniru tetapi sudah mulai membayangkan peran yang dilakukannya pada tahap sebelumnya.
3) Letting go
Pada fase ini wanita mengingat kembali proses dan aktivitas yang sudah dilakukannya, dan wanita akan meninggalkan perannya pada masa yang lalu.

d. Periode adaptasi psikososial pasa waktu post partum :
1) Periode taking in
Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan. Pada umumnya ibu masih pasif dan tergantung, perhatiannya tertuju pada kekwatiran akan tubuhnya dan ia akan mengulang ulang pengalamannya waktu bersalin dan melahirkan.
2) Periode taking hold
Periode ini berlangsung 2-4 hari post partum. Pada tahap ini ibu menjadi perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua yang sukses dan meningkatkan tanggung jawab terhadap bayi diantaranya dengan berusaha keras untuk menguasai tentang keterampilan perawatan bayi,serta mulai berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, BAK, BAB, kekuatan dan ketahan tubuhnya
3) Periode letting go
Terjadi setelah ibu pulang kerumah, dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga. Ibu bertanggung jawab terhadap perawatan bayinya dan beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang sangat tergantung yang menyebabkan berkurangnya hak ibu,kebebasan,dan hubungan sosial. Periode ini umumnya defresi post partum terjadi disebabkan oleh pengalaman waktu hamil yang bermasalah,proses persalinan dan keraguan akan kemampuan untuk mengatasi dan membesarkan anak.


2. Teori Ramona T. Mercer
Dalam teori ini mercer lebih menekankan pada stress ante partum dalam mencapai peran ibu. Mercer mengidentifikasi seorang wanita pada hari awal post partum menunjukan bahwa wanita lebih mendekatkan diri pada bayi dari pada tugasnya sebagai seorang ibu.

a. Ada 4 step dalam pelaksanaan peran ibu dalam mercer :
1) Anticipatory
Adalah suatu masa sebelum wanita menjadi ibu dimana wanita memulai penyesuaian sosial dan psikososial terhadap peran barunya nanti.
2) Tahap formal
Dimulai dengan peran sesungguhnya seoranng ibu. Pada masa ini bimbingan peran secara formal dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sistem sosial dari wanita.
3) Tahap informal
Dimulai pada saat wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan peran ibu yang tidak disampaikan oleh sosial sistem.
4) Tahap personal
Pada tahap ini wanita telah mahir melaksanakan perannya sebagai ibu. Ia telah mampu menentukan caranya sendiri dalam melaksanakan peran barunya itu.

b. 11 faktor yang mempengaruhi wanita dalam pencapaian peran ibu :
    1) Faktor ibu
         a) Umur ibu pada waktu melahirkan
         b) Persepsi ibu pada waktu melahirkan anak pertama kali
         c) Memisahkan ibu dan anak secepatnya
         d) Stress sosial
         e) Dukungan sosial
         f) Konsep diri
         g) Sifat pribadi
         h) Sikaf dalam membesarkan anak
         i) Status kesehatan ibu

    2) Faktor bayi
        a) Temperamen
        b) Kesehatan bayi

c. Faktor soosial support mercer mengidentifikasi 4 faktor pendukung :
1) Emosional support
Perasaan mencintai,penuh perhatian,percaya dan mengerti
2) Informational support
Informasi yang menjelaskan tentang pelaksanaan peran dan evaluasai diri
3) Pertolongan yang langsung seperti membantu merawat bayi, memberikan dukungan dana.
4) Appraisal support
Membantu individu untuk menolong dirinya sendiri dengan memberikan informasi yang berguna dan berhubungan dengan masalah atau situasi.


3. Teori Ernestine Wiedenbatch
Mengembangkan teorinya secara induktive berdasarkan pengalaman dan observasinya dalam praktik. Konsep yang luas menurut wiedenbatch yang nyata ditemukan dalam keperawatan yaitu :
a. The agent : perawat,bidan
Filosofi wiedenbatch tentang asuhan dan tindakan kebidanan dapat dilihat pada perawatan maternitas dimana kebutuhan ibu dan bayi dikembangkan menjadi kebutuhan yang lebih luas yaitu kebutuhan ibu dan ayah dalam persiapan menjadi orang tua.
b. The recepient : wanita,keluarga,masyarakat
Menurut wiedenbatch individu yang berkompeten dan mampu menentukan kebutuhannya akan bantuan.
c. The goal : goal dari intervensi
Goal yang akan dicapai dapat diperkirakan bila kebutuhan sudah diketahui dengan mempertimbangkan tingkah laku fisikemosional atau fisiological yang berbeda dari kebutuhan normal.
d. The means : Metode untuk mencapai tujuan

Untuk mencapai tujuan dari asuhan kebidanan wiedenbatch menentukan beberapa tahap :
1) Identifikasi kebutuhan klien
2) Ministration/memberikan dukungan dalam mencari pertolongan yang dibutuhkan
3) Validation : bantuan yang diberikan sungguh merupakan bantuan yang dibutuhkan
4) Co-ordination dengan ketenangan yang akan direncanakan untuk memberikan bantuan

e. The framework : organisasi sosial,lingkungan professional


4. Teori Ela-Joy Lehreman
Teori ini menginginkan agar bidan dapat melihat semua aspek dalam memberi asuhan pada wanita hamil dan pertolongna persalinan.
a. Ela – Joy Lerhman mengemukakan 8 konsep penting dalam pelayanan antenatal:
1) Asuhan yang berkesinambungan
Maksudnya yaitu asuhan yang dilakukan dalam pelayanan antenatal.
2) Keluarga sebagai pusat asuhan kebidanan
Maksudnya tidak terfokus pada ibu saja,tetapi kepada anggota keluarga misalkan suami atau orang tua si ibu.
3) Pendidikan dan Konseling merupakan bagian dari asuhan
Maksudnya bidan memberikan pendidikan dan penyuluhan kepada pasien sebagai bentuk Asuhan pelayanan kebidanan.
4) Tidak ada intervensi dalam asuhan
Maksudnya tidak ada tindakan yang dilakukan di luar wewenang bidan tindakan yang dapat merugikan pasien.
5) Fleksibilitas dalam asuhan
Maksudnya dalam memberikan layanan tidak harus selalu mengikuti aturan yang ditetapkan secara berurutan tetapi harus melihat situasi dan kondisi saat itu.
6) Keterlibatan dalam asuhan
Maksudnya bidan secara penuh melibatkan diri dalam proses asuhan kebidanan pada layanan antenatal.
7) Advokasi Klien
Maksudnya dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh bidan ke pasien harus dengan persetujuan,dan pasien berhak meminta haknya untuk di pertanggung jawabkan sesuai dengan hukum yang berlaku sebaliknya juga dengan bidan apabila si pasien bersikeras tidak mau mengikuti prosedur yang tekah di sampaikan bidan maka bidan berhak membuat pernyataan tertulis dari pasien sebagai bukti yang dapat membela bidan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
8) Waktu
Maksudnya dalam dalam pemberian peleyananasuan kebidanan harus tepatguna,tidak membuang waktu atau tergesa–gesa karena dapat merugikan pasien.

b. Dari konsep diatas Morten menambahkan 3 komponen dalam peleyanan antenatal yaitu :
1) Teknik terapeutik roses komunikasi
Teknik ini dilakukan dengan komunikasi yang efektif sesuai dengan kebutuhan pasien, untuk meringankan beban pasien.
2) Pemberdayaan (Empowerment,proses pemberian kekuasan dan kekuatan.
Pemberian kekuasaan penuh terhadap tindakan yang akan dilakukan kepada pasien dan memberikan dorongan semangat kepada pasien agar lebih percaya diri.
3) Hubungan sesame (Relationship)
Membina hubungan baik antara bidan dan pasien agar tercipta rasa kepercayaan pasien terhadap bidan.


5. Teori Jean Ball
Teori korsi goyang – keseimbangan emosional ibu tujuan asuhan yang diberikan pada ibu adalah agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu baik fisik maupun psikologis. Psikologis yang dimaksud tidak hanya pengaruh emosional tetapi juga proses emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk menjadi orang tua tercapai. Kehamilan, persalinan dan masa post partum adalah masa untuk mengadopsi peran baru.

a. Teori ball :
1) Teori perubahan
2) Teori stress,coping dan support
3) Teori dasar

b. Teori korsi goyang,kursi dibentuk 3 elemen :
1) Pelayanan meternitas
2) Pandangan masyarakat terhadap keluarga
3) Sisi penyanggah/support terhadap kepribadian wanita

B. Peran Dan Fungsi Bidan
Dalam melaksanakn profesinnya bidan memiliki peran sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti.
1. Peran sebagai pelaksana
Sebagai pelaksana, bidan memiliki tiga katagori tugas, yaitu tugas mandiri, tugas kolaborasi, dan tugas ketergantungan.
a. Tugas Mandiri
Tugas mandiri yaitu melaksanakan secara individu oleh bidan tanpa kerjasama dengan orang lain dan bertanggung jawab sendiri. Tugas mandiri diberikan kepada :
1) Anak remaja/wanita pranikah
2) Kehamilan normal
3) Persalinan
4) BBL, bayi dan balita
5) WUS-KB
6) Masa klimaktorium dan menopause
7) Lansia

Tugas-tugas mandiri bidan, yaitu :
1) Menetapkan manajemen kebidanan pada setipa asuhan kebidanan yang diberikan
2) Member pelayanan dasar pernikahan pada anak remaja dan wanita dengan melibatkan mereka sebagai klien
3) Member asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal
4) Member asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien/keluarga
5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
6) Memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien/keluarga
7) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana
8) Memberikan asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sisitem reoroduksi dan wanita dalam masa klimakterium serta menopause
9) Memberi asuhan kebidanan pada bayi dan balita dengan melibatkan keluarga

b. Tugas Kolaborasi
Tugas kolaborasi yaitu dilaksanakan bersama-sama dengan tim yang baik untuk memberikan penanganan pada pasien/klien.
1) Tugas-tugas kolaborasi (kerja sama) bidan, yaitu:
a) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
b) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
c) Memberikan suhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan risiko tinggi serta keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
d) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas deengan risiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga
e) Member asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindaklan kolaborasi bersama klien dan keluarga
f) Member asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi serta pertolongan pertama dalam keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi bersama klien dan keluarga.

c. Tugas Ketergantungan/rujukan
Tugas ketergantungan/rujukan yaitu pelimpahan tugas dan tanggung jawab kepada tingkat yang lebih tinggi.
Tugas-tugas ketergantungan bidan yaitu:
1) Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dan keluarga
2) Member asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada kasus kehamilan dengan risiko tinggi serta kegawatdaruratan
3) Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi serta rujukan pada masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga
4) Memberi asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu dalam masa nifas yang disertai penyulit tertentru dan kegawatdaruratan dengan melibatkan klien dan keluarga
5) Memberi asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kelainan tertentu dan kegawatdaruratan yang memerliukan konsultasi seta rujukan dengan melibatkan keluarga
6) Memberi asuhan kebidanan kepada anak balita dengan kelainan tertentu dan kegawatdaruratan yang memerlukan konsultasi serta rujukan dengan melibatkan klien/keluarga.

2. Peran Sebagai Pengelola
Sebagai pengelola bidan memilki 2 tugas, yaitu tugas pengembangan pelayanan dasar kesehatan dan tugas partisipasi dalam tim.
Cara mengembangkan pelayanan kesehatan
a. Mengkaji KIA
b. Menyusun rencana
c. Menelola kegiatan pelayanan kesehatan masyarakata KIA
d. Mengkoordinir, mengawasi dan membimbing kader, dukun, atau tenaga kesehatan lainnya
e. Mengembangkan strategi
f. Menggerakan, mengembangkan, kemampuan masyarakat
g. Mempertahankan, meningkatkan mutu dan keamanan praktik professional
h. Mendokumentasikan seluruh kegiatan

Cara berpartisipasi tim :
a. Membina hubungan baik dengan dukun, kader/ pelayanan kesehatan masyarakat
b. Bekerjasama dengan puskesmas
c. Melaksanakan pelantikan, membimbing dukuk, kader tenaga kesehatan lain
d. Memberikan asuhan pada klien rujukan dukun bayi
e. Membina kegiatan yang ada dimasyarakat yang berkaitan dengan kesehatan

3. Peran Sebagai Pendidik
a. Memberikan pendidikan dan penyuluhan
b. Melatih dan membimbing kader, dukun dan mahasiswa bidan

4. Peran Sebagai Peneliti
Melakukan penelitian secara mandiri maupun kelompok:
a. Mengidentifikasi kebutuhan identifikasi
b. Menyusun rencana tindakan
c. Melaksanakan penelitian
d. Mengelola dan meninterperensi data
e. Menyusun laporan
f. Memanfaatkan hasil investigasi

C. Profesionalisme Bidan
Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis
2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan bidan sebagai tenaga profesional
3. Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat
4. Memiliki kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah
5. Memiliki peran dan fungsi yang jelas
6. Memiliki kompetensi yang jelas dan terukur
7. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah
8. Memiliki kode etik bidan
9. Memiliki etika kebidanan
10. Memiliki standar pelayanan
11. Memiliki standar praktik
12. Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sesuai dengan kebutuhan pelayanan

D. Pelayanan Mandiri,Kolaborasi,Dan Rujukan
1. Pelayanan Mandiri
Bidan dapat memberikan pelayanan secara madiri. Pelayanan kebidanan yang dapat diberikan bidan secara mandiri antara lain :
a. Memberikan pelayanan dasar pada remaja dan wanita pranikah seperti penyuluhan tentang kesehatan reproduksi wanita,konseling
b. Memberikan pelyananan antenatal pada ibu hamil normal,mulai dari anamnesa,pemeriksaan fisik,pemeriksaan leb sederhana.
c. Memberikan pelayanan pada ibu bersalin normal
d. Memberikan pelayanaan pada ibu nifas normal termasuk bayi lahir normal
e. Memberikan pelayanan pada ibu yang sedang dalam masa interval
f. Memberikan pelayanan kepada ibu pada masa klimakterium dan menepouse
g. Memberikan pelayaann pada wanita dengan gangguan reproduksi ringan

2. Pelayanan Kolaborasi
Kolaborasi adalah hubungan saling berbagi tanggung jawab (kerjasama) dengan rekan sejawat atau tenaga kesehatan lainnya dalam memberi asuhan pada pasien. Dalam praktiknya, kolaborasi dilakukan dengan mendiskusikan diagnosis pasien serta bekerjasama dalam penatalaksanaan dan pemberian asuhan. Masing-masing tenaga kesehatan dapat saling berkonsultasi dengan tatap muka langsung atau melalui alat komuniikasi lainnya dan tidak perlu hadir ketika tindakan dilakukan.
Elemen kolaborasi mencakup:
a. Harus melibatkan tenaga ahli dengan keahlian yang berbeda, yang dapat bekerjasama secara timbal balik dengan baik.
b. Anggota kelompok harus bersikap tegas dan mau bekerjasama.
c. Kelompok harus memberi pelayanan yang keunikannya dihasilkan dari kombinasi pandangan dan keahlian yang di berikan oleh setiap anggota tim tersebut.
3. Pelayanan Rujukan
Rujukan dalam pelayanan kebidanan dapat diartikan sebagai tindakan melimpahkan tanggung jawab dalam penanganan pasien dari bidan ketempat pelayanan kesehatan yang lebih lengakap.
Rujukan dapat dilakukan bidan kepuskesmas dengan pasilitas rawayt inap,rumah sakit bersalin dan rumah sakit umum. Bidan harus mempunyai informasi tentang pelayanan yang tersedia ditempat rujukan,ketersediaan pelayanan purna waktu,biaya pelayanan dan waktu serta jarak tempuh ketempat rujukan,salah satu hal faktor pendukung kematian ibu adalah adanya 3 keterlambatan yaitu terlambatkan memutuskan untu merujuk,terlambat sampai ketempat rujukan,dan terlambat ditangani ditempat rujukan.

E. Pemasaran Sosial Jasa Asuhan Kebidanan
1. Jadi pemasaran merupakan ilmu atau seni untuk mengetahui :
a. Apa yang diinginkan konsumen
b. Berapa konsumen mau membayar
c. Bagaimana cara mendistribusikan produk pada konsumen
d. Bagaimana mengiklankan dan mempromosikannya.
e. Menilai pemasaran yang dilakukan untuk pengembangan selanjutnya
2. Tujuan Pemasaran Sosial
a. Menurunkan sensitivitas klien pada tarif
b. Rekomendasi gratis dari mulut ke mulut sehingga biaya pemasaran menjadi lebih hemat
c. Penurunan biaya melayani klien yang sudah mengenal baik sistem pelayanan
d. Peningkatan pendapatan
3. Komponen Terkendali
a. Product
b. Price
c. Place
d. Promotion
e. Consumer

F. Penghargaan Dan Sanksi Terhadap Bidan
1. Penghargaan
Reward/penghargaan adalah segala bentuk perbuatan untuk menghargai/menghormati kepada individu atau organisasi atas jasa yang dilakukannya.
a. Bentuknya berupa :
1) Imbalan jasa oleh masyarakat
2) Berupa pengakuan dan rekomendasi ijin praktik dari IBI
3) Penghargaan melalui program khusus :

a) BIDAN BINTANG
Penghargaan yang di berikan dengan kriteria :
B : bersih kerja dan hatinya
I : ilmu mengikuti perkembangan
D : dedikasi tinggi
A : akurat dalam pemberian pelayanan
N : nyaman bagi klien dilayani bidan

B : ber KB
I : pencegahan infeksi
N : melayani intra dan post natal
T : memberikan suntik tetanus
A : mempromosikan ASI
N : memperhatikan nutrisi ibu dan anak
G : penanganan gawat darurat

b) BIDAN DELIMA
Bidan delima adalah suatu program terobosan strategisang mencakup :
Pembinaan peningkatan kwalitas pelayanan bidan dalam lingkkup keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.
Untuk menjadi bidan delima, seorang bidan praktek swasta harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, yaitu :
Memiliki SIPB, bersedia membayar iuran, bersedia membantu BPS menjadi bidan delima dan bersedia membantu BPS menjadi bidan delima dan sedia menataati semua ketentuan yang berlaku.
a. Melakukan pendaftaraan di pemurus cabang
b. Mengisi formulir prakualifikasi
c. Belajar dari buku kajian mandiri dan mendapat bimbingan fasilitator
d. Divalidasi oleh pasilitator dan dibewri umpan balik.
e. Prosedur dilakukan terhadap semua jenis pelayanan yang diberikan oleh bidan praktek swasta yang bersangkutan
Penghargaan dari IBI :
a. Anugrah delima
b. Anugrah delima eka yasa
c. Anugrah delima dwi yasa
d. Anugrah delima tri yasa
e. Anugrah delima catur yasa

c) BIDAN TELADAN
2. Sanksi
Berupa tindakan atau hukuman yang diberikan kepada individu atau organisasi untuk memaksa atau menepati janji yanng telah disepakati.
a. Sanksi bagi bidan
1) Kepmenkes no 900/menkes/SK/VII/2002 pasal 42 s. d 44
pasal 42 :
a) Jika melakukan praktik tanpa mendapat pengetahuan atau adaptasi, melakukan prktik tanpa ijin,melakukan praktik diluar kewenangannya
b) Maka akan dipidana
Pasal 43
Pimpinan sarana kesehatan yang tidak melaporkan bidan atau memperkerjakan bidan yang tidak mempunyai ijin praktik dapat dikenakan sanksi pidana
Pasal 44
a) Dengan tidak mengurangi sanksi sebagaimana dimaksud pada pasal 42, bidan yang melakukan pelanggaran yang diatur dalam keputusan ini dapat dikenakan teguran lisan, tertulis sampai pencabutan ijin
b) Pengambilan keputusan ijin sesuai dengan ketentuan perundagan yang berlaku
2) Undang-undang RI nomor 23 tahun 1992 tetang kesehatan menyebutkan beberapa hal berikut pasal 55 dan 80
Pasal 55
a) Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan
b) Ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 80 :
Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat 1 dan 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp. 500. 00. 000 (Lima ratus juta rupiah).


BAB III
PEMBAHASAN

A. Teori dalam kebidanan yang digunakan
Berdasarkan dari pengamatan yang dilakukan oleh penulis dalam kegiatan sosialisasi praktik yang dilaksananakan pada tanggal 16 februari sampai dengan 28 februari 2009 di Puskesmas Pemurus Baru.
Puskesmas Pemurus Baru berada di kelurahan Pemurus Baru, diwilayan Banjarmasin selatan. Di puskesmas Pemurus Baru mempunyai beberapa program yaitu Keluarga Berencana (KB)/Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Gizi, Pengobatan dan Pemberantasan Penyakit Menular. Yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter 2 orang, bidan 6 orang dan perawat 4 orang. Dan terbagi dalam dua wilayah kerja yaitu pemurus baru dan murung raya. Dengan penatalaksanaan kegiatan diantaranya puskesmas pembantu, posyandu, polindes, poskesdes, posling dan desa siaga.
Dari hasil pengamatan selama 2 minggu penulis menyimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan di Puskesmas Pemurus Baru lebih dominan kepada teori Reva Rubin. Karena bidan di Puskesmas Pemurus Baru memberikan asuhan kepada ibu hamil, dimana ibu terbebut belum secara jelas dapat mencapai perannya dan menjadi seorang ibu. Dalam perannya lebih mengarah pada pencapaiaan peran ibu . Dalam hal ini bidan membantu ibu hamil memberikan asuhan berupa nasehat, saran dan pengetahuan yang cukup agar ibu tersebut benar-benar siap mencapai perannya sebagai seorang ibu.
Dari hasil tinjauan penulis pada ibu pada saat hamil banyak mengalami perubahan baik psikososial. Dan khususnya seorang wanita membutuhkan proses belajar melalui serangkaiaan aktivitasnya dan latihan-latihan menjadi seorang ibu.
Belajar dari pengalaman orang lain yang pernah melahirkan dan yang mempunyai anak, bagaimana cara mereka mengasuh anak dan menjadi ibu yang pintar dalam memilih asupan nutrisi untuk anak dan juga latihan menjadi seorang ibu misalnya pertama berinteraksi dengan anak lain dengan begitu timbul pemahaman dan ibu akan mulai mencoba selanjutnya ibu akan tahu apakah ia telah mampu menjadi ibu.

B. Peran dan fungsi bidan
1. Peran sebagai pelaksana
a. Tugas mandiri
Dari hasil observasi yang selama ini yang penulis lakukan di puskesmas Pemurus Baru, maka penulis melihat bahwa bidan telah melakukan tugas pelayanan mandiri, walaupun dalam pelaksanaannya masih ada yang berbeda dengan teori. Ada pula bidan yang melaksanakan tugas mandirinya memberikan pelayanan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, BBL, Balita, anak remaja, Pus, dan Wus serta lansia.
Pada dasarnya dalam setiap askeb, bidan di Puskesmas Pemurus Baru selalu melakukan:
1) Mengkaji status kesehatan untuk memenuhi kebutuhan asuhan klien dengan cara anamnesa
2) Menentukan diagnose dari kajian-kajian yang didapat melalui anamnesa yang telah dilakukan
3) Menyusun rencana tindakan sesuai dengan masalah yang dihadapi oleh pasien
4) Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana asuhan yang telah disusun
5) Mengevaluasi tindakan yang telah diberikan dengan menanyakan kembali keadaan pasien ketika pasien kembali untuk berobat
6) Membuat rencana tindak lanjut kegiatan atau tindakan, yaitu dengan menyuruh pasien untuk kembali jika sakit yang dideritanya tidak sembuh
7) Membuat catatan dan laporan
Bidan di Puskesmas Pemurus Baru selalu mendokumentasikan data serta kunjungan pasien pada buku yang berbeda pada setiap asuhan.

b. Tugas Kolaborasi
Dalam melaksanakan tugas kolaborasi, bidan di Puskesmas Pemurus Baru melakukan kerjasama dengan tenaga ahli yang berbeda bidang keahliannya seperti bagian laboratorium, gizi, dan dokter. Jika ada pasien yang ingin memeriksa kehamilan maka pasien tersebut lebih dahulu diminta untuk periksa urin kebagian laboratorium dan jika hasilnya (+) maka tenaga kesehatan yang akan memberikan asuhan kepada ibu hamil tersebut. Demikian pula jika bidan menemukan kasus bayi atau balita yang mengalami gizi buruk maka bidan akan bekerja sama dengan bagian gizi untuk memberikan asuhan dan menangani kasus tersebut.

c. Tugas Rujukan
Dalam melaksanakan tugas rujukan, tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Pemurus Baru biasanya memberikan pilihan kepada pasien untuk dirujuk kerumah sakit mana, sesuai dengan keinginan pasien, dan bidan-bidan tersebut telah melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan mereka mempunyai buku register rujukan (dokumentasi) sendiri untuk masing-masing asuhan kebidanan.

2. Peran Sebagai Pengelola
Dalam melaksanakan perannya sebagai pengelola bidan-bidan di Puskesmas Pemurus Baru melaksanakan beberapa kegiatan yaitu :
a. Mengelola kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat khususnya ibu dan anak, KB,posyandu,poskesdes dan lansia.
b. Mengkoordinir, mengawasi dan membimbimbing kader atau petugas kesehatan lain dalam melaksanakan program atau kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak serta KB di poskesdes dan puskesmas,
c. Mengembangkan strategi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya kesehatan ibu dan anak,KB serta lansia termasuk pemanfaatan sumber-sumber yang ada pada program dan sektor terkait.
d. Mendokumentasikan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan.

3. Peran Sebagai Pendidik
Bidan di Puskesmas Pemurus Baru telah melaksanakan perannya sebagai pendidik. Sebagai pendidik tenaga kesehatan di Puskesmas Pemurus Baru melakukan perannya yaitu :
a. Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat tentang penanggulangan kesehatan khususnya yang berhubungan dengan pihak terkait kesehatan ibu, anak dan kelurga.
b. Melatih dan membina kader termasuk mahasiswa dan perawat serta dukun-dukun yang ada dii wilayah tersebut.
c. Motorship dan preceptorship bagi calon tenaga kesehatan dan bidan baru.

4. Peran Sebagai Peneliti
Dari hasil wawancara penulis yang melakukan kegiatan sosialisasi praktik di Puskesmas Pemurus Baru belum melaksanakan perannya sebagai peneliti, karena bidan belum pernah melakukan penelitian ilmiah baik sendiri maupun bersama tenaga kesehatan yang lain.

C. Profesionalisme Bidan
Bidan di Puskesmas Pemurus Baru dalam profesionalismenya terlihat bagus. Tujuannya agar dapat memberikan pelayanan kebidanan dengan mutu yang lebih bagus dan memberikan pendidikan pada kader dan mahasiswa. Itu semua menjadi tanggung jawab secara profesional dalam menjalankan tugasnya di Puskesmas serta memiliki alat yang dinamakan standar pelayanan kebidanan.
Bidan juga diharapkan memiliki kode etik & etika kebidanan berupa norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap anggota profesi, didalam melaksanakan tugas profesinya sebagai tenaga kesehatan. Bidan di Puskesmas Pemurus Baru sangat menjunjung tinggi kode etik dan etika kebidanan. Hal ini bertujuan untuk menjunjung tinggi martabat serta citra profesi dalam menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota serta untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi dan untuk meningkatkan profesi kebidanan.

D. Pelayanan mandiri, kolaborasi dan rujukan
1. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan oleh Puskesmas Pemurus Baru.

2. Pelayanan kebidanan yang diberikan seperti :
a. Pelayanan Mandiri
Pelayanan mandiri di Puskesmas Pemurus Baru seperti pelayanan yang benar-benar menjadi tanggung jawab bidan itu sendiri. pelayan mandiri meliputi :
1) Anak remaja,wanita pranikah
2) Kehamilan normal
3) Persaalinan
4) Bayi baru lahir
5) Masa nifas
6) Wanita subur
7) Masa klimakterium
8) Bayi dan balita

b. Pelayanan Kolaborasi
Pelayanan kolaborasi di Puskesmas Pemurus Baru adalah pelayanan yang dilakukan oleh bidan dengan tenaga ahli yang bidang keahliannya berbeda. Misalnya :
1) Wanita hamil dengan resiko tinggi
2) Ibu bersalin dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama kegawatdaruratan
3) Ibu nifas dengan resiko tinggi dan pertolongan pertama
kegawatdaruratan
4) BBL dengan resiko tinggi
5) Balita yang tidak normal
6) Wanita dengan gangguan reproduksi

c. Pelayanan Rujukan
Pelayanan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Pemurus Baru dalam rangka pelimpahan penanganan pasien kesistem pelayanan yang lebih tinggi atau pelimpahan tanggung jawab kepada tenaga kesehatan lain. Misalnya :
1) Asuhan kebidanan melalui konsultasi dengan rujukan pada ibu hamil dengan penyulit
2) Persalinan dengan penyulit
3) Masa nifas dengan penyulit
4) BBL dan balita dengan kelainan

E. Pemasaran Sosial Jasa Asuhan
Di Puskesmas Pemurus Baru para bidan yang ada disana telah mempunyai BPS sendiri. Jumlah dokter di Puskesmas Pemurus Baru sebanyak 2 orang, bidan semuanya berjumlah 6 orang dan perawat semuanya sebanyak 4 orang. Jumlah BPS semua ada 15 ada yang masih aktif ada pula yang tidak aktif. Selain memberikan pelayanan di Puskesmas bidan di Pemurus Baru juga memberikan pelayanan dirumah Baik itu ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, ibu menyusui, bayi, anak, masa klimakterium dan juga gangguan reproduksi.
Para bidan di Puskesmas Pemurus Baru yanng melakukan praktek swasta memasang tarif tetapi setiap bidan berbeda-beda dalam memberikan tarif pelayanannya dan juga mereka melihat keadaan ekonomi dari pasien bahkan mereka membebaskan pasien yang tidak sanggup membayar administrasinya. Mereka juga bersikap ramah kepada setiap pasien yang datang ke BPS dan Puskesmas Pemurus Baru sehingga pasien tertarik datang kembali untuk berkonsultasi.

F. Penghargaan Dan Sanksi Terhadap Bidan
1. Penghargaan yang pernah didapat oleh para dokter, bidan, perawat, dan kader lainnya di Puskesmas Pemurus Baru berupa penghargaan :
a. Juara III
Tenaga keperawatan
Dipuskesmas
Tingkat kota Banjarmasin 2008
b. Juara II
Tenaga medis teladan
Dipuskesmas
Tingkat kota Banjarmasin 2008
c. Juara III
Penilaian kinerja bp. gigi
Tingkat kota Banjarmasin 2007
d. Juara II
Penilaiaan kinerja puskesmas
Tingkat kota Banjarmasin 2007
e. Juara III
Pusk. Pemurus Baru
Puskesmas berprestasi
Tingkat kota Banjarmasin 2006
f. Juara II
Puskesmas berprestasi
Tingkat kota Banjarmasin 2008
g. Juara II
Lomba kinerja TPT
Tingkat kota Banjarmasin 2008
h. Juara III
Lomba UKS
Tingkat TK
Sekota Banjarmasin 2006
Pemko Banjarmasin
2. Sanksi bagi para bidan,perawat dan kader lain
Penulis tinjau dari percakapan dan wawancara kepada beberapa bidan setempat di Puskesmas Pemurus Baru tidak ada yang pernah mendapatkan surat teguran dan surat lain yang menyangkut kesalahan tindakan bidan atau kader lain yang berada dipuskesmas tersebut.


BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil sosialisasi praktik yang penulis lakukan di Puskesmas pemurus baru dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1) Bidan dan tenaga kesehatan di Puskesmas dalam memberikan asuhan kebidanan lebih menekankan pada teori konseptual kebidanan yaitu teori Reva Rubin karena dilihat dari penerapannya bidan lebih menekankan dalam pencapaiaan peran ibu
2) Dalam melakukan peran dan fungsinya bidan serta tenaga kesehatan lainnya mampu malakukan peran dan fungsi sebagai pelaksana, pengelola, dan pendidik dengan baik tetapi tidak sebagai peneliti
3) Bidan dan tenaga kesehatan sudah melaksanakan tugasnya sebagai profesi yang mempunyai sistem pelayanan, kode etik dan etika kebidanan dalam melaksanakan pekerjaan yang merupakan tanggung jawabnya secara profesional
4) Dalam memberikan pelayanan seluruh tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang baik dan sesuai dengan kasus dan kondisi yang dihadapi pasien misalnya normal, resiko tinggi, dan berbagai penyulit lainya.
5) Dalam pemasaran sosial jasa asuhan seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas Pemurus Baru mampu memasarkan sosial jasa dalam asuhan kebidanan secara baik dan konsumenpun merasa puas dengan sosial jasa yang didapat
6) Tenaga Kesehatan di Puskesmas Pemurus Baru banyak mendapatkan penghargaan tetapi tidak perrnah mendapat sanksi

B. SARAN
1) Hendaknya seorang tenaga kerja kesehatan khususnya bidan lebih meningkatkan lagi pelayanannya kepada masyarakat
2) Hendaknya dalam setiap kegiatan yang dilakukan tenaga kesehatan di Puskesmas jangan lupa membuat dekumentasi
3) Sebaiknya seluruh tenaga kesehatan terutama bidan selalu memperhatikan inform choice dan inform concent atas setiap tindakan yang ingin dilakukannya pada tindakan yang beresiko tinggi
4) Hendaknya seorang tenaga kesehatan khususnya bidan lebih memperhatikan keadaan psikologis kliennya.
Dalam melakukan praktik dan memberika pelayanan kebidanan sarana dan prasarana harus lengkap agar memudahkan tindakan dan pelayanan yang memuaskan dan jangan sampai pasien lama menunggu lama bidan atau tenaga kesehatan lain dipuskesmas sewaktu berobat,utamakan pasien.


DAFTAR PUSTAKA

Singarimbun masri,1987,Metode penelitian survai : Yogyakarta
IBI,2006,50 Tahun IBI : Jakarta
Manuaba Ida bagus gde, 2000,Ilmu kebidanan : Jakarta
Farrer helen,2000,Perawatan maternitas : Jakarta
Hidayat ajiz alimu,2002,Praktek kkebidanan : Jakarta
1982 SK menkes no. 99 A/menkes RI tahun 1992 tentang SKN menkes:Jakarta
1985 UU no. 8 tahun 1985 ketentuan bagi organisasi kemasyarakatan Jakarta
1992 UU no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan menkes:Jakarta
2002 Kepmenkes no. 900/2002 register dan praktik bidan menkes:Jakarta
2002 AD/ART IBI. IBI:Jakarta
PIT PPOGI:bandung
Varney. varney’s midwifery
Pusdiknakes. WHO. JHPIEGO,2004. Konsep kebidanan panduan pengajaran asuhan
2005 kumpulan petunjuk pelaksanaan kegiatan organisaasi ikatan bidan indonesia IBI jakarta
2005 Seminar ilmiah midwifery manjement

3 komentar:

  1. mba boleh kasi contoh buat tugas mandiri, kaloborasi dan rujukan pada kasus bayi da belita ???

    BalasHapus