Selasa, 04 Januari 2011

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Ada banyak kasus dimana wanita hamil dengan hipertensi mampu menjaga kehamilan sampai dengan kelahiran dengan selamat. Dengan bantuan medis selama kehamilan, komplikasi selama kehamilan dapat dicegah. Bagaimanapun juga, hipertensi selama kehamilan selalu dibutuhkan perhatian khusus. Wanita hamil yang menderita hipertensi dimulai sebelum hamil, memiliki kemungkinan komplikasi pada kehamilannya lebih besar dibandingkan dengan wanita hamil yang menderita hipertensi ketika sudah hamil. Karena beberapa wanita hamil memiliki kemungkinan menderita hipertensi selama kehamilan karena beberapa factor.
Banyak akibat yang bisa ditimbulkan oleh hipertensi. Resiko terbesar hipertensi pada wanita hamil adalah kerusakan pada ginjal. Pada kasus yang lebih serius, ibu bisa menderita preeclampsia atau keracunan pada kehamilan, yang akan sangat membahayakan baik baik ibu maupun bagi janin. Selain itu hipertensi bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah, stroke, dan gagal jantung di kemudian hari.
Hipertensi merupakan problema yang paling sering terjadi pada kehamilan. Bahkan,kelainan hipertensi pada kehamilan beresiko terhadap kematian janin dan ibu. Karena itu,deteksi dini terhadap hipertensi pada ibu hamil diperlukan agar tidak menimbulkan kelainan serius dan menganggu kehidupan serta kesehatan janin di dalam rahim.

B. Rumusan masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan maka rumusan masalah pada laporan kasus ini adalah ”bagaimanakah asuhan kebidanan pada ny.N dengan Hipertensi dalam kehamilan di Puskesmas Pekapuran Raya”

C. Tujuan
a. Tujuan khusus
Untuk mengetahui asuhan kebidanan pada ny.N dengan Hipertensi dalam kehamilan di Puskesmas Pekapuran Raya
b. Tujuan umum
- Mengetahui pengertian hipertensi dalam kehamilan
- Mengetahui etiologi hipertensi dalam kehamilan
- Mengetahui patofisiologi hipertensi dalam kehamilan
- Mengetahui tanda dan gejala hipertensi dalam kehamilan
- Mengetahui komplikasi hipertensi dalam kehamilan
- Mengetahui penatalaksanaan hipertensi dalam kehamilan

D. Manfaat
1. Bagi Petugas Kesehatan
Dapat menambah wawasan dan informasi dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan
2. Bagi Mahasiswa
Dapat menambah ilmu pengetahuan dan dapat menerapkan penanganan hipertensi dalam kehamilan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Hipertensi dalam kehamilan (HDK), adalah suatu keadaan yang ditemukan sebagai komplikasi medik pada wanita hamil dan sebagai penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janin. Secara umum HDK dapat didefinisikan sebagai kenaikan tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik > 90 mmHg yang diukur paling kurang 6 jam pada saat yang berbeda.

B. Etiologi / penyebab
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi 2 jenis :
1. Hipertensi primer atau esensial adalah hipertensi yang tidak / belum diketahui penyebabnya (terdapat pada kurang lebih 90 % dari seluruh hipertensi).
2. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang disebabkan/ sebagai akibat dari adanya penyakit lain.
Hipertensi primer kemungkinan memiliki banyak penyebab; beberapa perubahan pada jantung dan pembuluh darah kemungkinan bersama-sama menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
Jika penyebabnya diketahui, maka disebut hipertensi sekunder. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).
Penyebab hipertensi lainnya yang jarang adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kelenjar adrenal yang menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin). Kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas berolah raga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang diturunkan. Stres cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu, jika stres telah berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal

C. Patofisiologi
Selama kehamilan normal terdapat perubahan-perubahan dalam sistem kardiovaskuler, renal dan endokrin. Perubahan ini akan berbeda dengan respons patologi yang timbul pada HDK. Pada kehamilan trimester kedua akan terjadi perubahan tekanan darah, yaitu penurunan tekanan sistolik rata-rata 5 mmHg dan tekanan darah diastolik 10 mmHg, yang selanjutnya meningkat kembali dan mencapai tekanan darah normal pada usia kehamilan trimester ketiga. Selama persalinan tekanan darah meningkat, hal ini terjadi karena respon terhadap rasa sakit dan karena meningkatnya beban awal akibat ekspulsi darah pada kontraksi uterus. Tekanan darah juga meningkat 4-5 hari post partum dengan peningkatan rata-rata adalah sistolik 6 mmHg dan diastolik 4 mmHg.
Pada keadaan istirahat, curah jantung meningkat 40% dalam kehamilan. Perubahan tersebut mulai terjadi pada kehamilan 8 minggu dan mencapai puncak pada usia kehamilan 20-30 minggu. Tahanan perifer menurun pada usia kehamilan trimester pertama. Keadaan ini disebabkan oleh meningkatnya aktifitas sistem renin – angiotensin aldosteron dan juga sistem saraf simpatis.13
Penurunan tahanan perifer total disebabkan oleh menurunnya tonus otot polos pembuluh darah. Volume darah yang beredar juga meningkat 40% , peningkatan ini melebihi jumlah sel darah merah, sehingga hemoglobin dan viskositas darah menurun. Terjadi penurunan tekanan osmotik plasma darah yang menyebabkan peningkatan cairan ekstraseluler, sehingga timbul edema perifer yang biasa timbul pada kehamilan normal


D. Manifestasi klinik
Hipertensi pada kehamilan dapat diklasifikasikan dalam 4 kategori, yaitu:
1. Hipertensi kronik: hipertensi (tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg yang diukur setelah beristirahat selama 5-10 menit dalam posisi duduk) yang telah didiagnosis sebelum kehamilan terjadi atau hipertensi yang timbul sebelum mencapai usia kehamilan 20 minggu.
2. Preeklamsia-Eklamsia: peningkatan tekanan darah yang baru timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu, disertai dengan penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai protein di dalam air seni (proteinuria). Eklamsia: preeklamsia yang disertai dengan kejang.
3. Preeklamsia superimposed pada hipertensi kronik: preeklamsia yang terjadi pada perempuan hamil yang telah menderita hipertensi sebelum hamil.
4. Hipertensi gestasional: hipertensi pada kehamilan yang timbul pada trimester akhir kehamilan, namun tanpa disertai gejala dan tanda preeklamsia, bersifat sementara dan tekanan darah kembali normal setelah melahirkan (postpartum). Hipertensi gestasional berkaitan dengan timbulnya hipertensi kronik suatu saat di masa yang akan datang.

E. Komplikasi
Stroke
Kegagalan jantung
Kerusakan ginjal.

F. Klasifikasi
Stadium 1
(Hipertensi ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
Stadium 2
(Hipertensi sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
Stadium 3
(Hipertensi berat) 180-209 mmHg 110-119 mmHg
Stadium 4
(Hipertensi maligna) 210 mmHg atau lebih 120 mmHg atau lebih

G. Penatalaksanaan medis
Obat tradisional
• murbei
• daun cincau hijau
• seladri (tidak boleh lebih 1-10 gr per hari, karena dapat menyebabkan penurunan tekanan darah secara drastis)
• bawang putih (tidak boleh lebih dari 3-5 siung sehari)
• Rosela
• daun misai kucing
• minuman serai. teh serai yang kering atau serai basah(fresh) diminum 3 kali sehari. Dalam seminggu dapat nampak penurunan tekanan darah tinggi

Anti hipertensi
Pada preeklampsia berat anti hipertensi diberikan jika tekanan darah 180/110 mmHg. Tujuan pemberian anti hipertensi adalah untuk mencegah terjadinya cardiovaskuler atau cerebrovaskuler accident (Zhang J., 2003). Sebenarnya banyak pilihan anti hipertensi yang dapat diberikan, tetapi pilihan yang pertama adalah hydralazine. Mekanisme kerja hydralazine adalah dengan merelaksasi otot pada arteriol sehingga terjadi penurunan tahanan perifer. Hydralazine dapat diberikan peroral atau parentral. Kerjanya cepat, bila diberikan intravena sudah dapat dilihat efeknya dalam 5–15 menit. Efek samping hydralazine adalah sakit kepala, tachycardia, dan perasaan gelisah. Obat anti hipertensi yang juga banyak digunakan adalah labetalol, obat ini termasuk beta-bloker, dapat diberikan peroral atau intravena. Kalau diberi intravena efeknya sudah terlihat dalam 2-5 menit dan mencapai puncaknya setelah 15 menit. Kerja obat ini dapat berlangsung 4 jam. Bekerja menurunkan tahanan perifer dan tidak menurunkan aliran darah ke otak, jantung, dan ginjal. Obat anti hipertensi yang juga banyak digunakan adalah nifedipine (Brown, 2002). Nifedipine adalah satu-satunya pilihan obat untuk hipertensi mudah penggunaannya. Nifedipine termasuk calcium channel antagonist, hanya diberikan peroral dengan dosis 10-20 mg, dapat diulang setiap 30 menit sesuai kebutuhan. Efek samping obat ini adalah sakit kepala, rasa panas, sesak nafas, dan sakit di dada. Tidak mengganggu aliran darah utero plasenta. Kalau diberi peroral, efek kerjanya sudah terlihat dalam 5-10 menit dan mencapai puncaknya setelah 60 menit dan dapat bekerja sampai 6 jam. Mekanisme kerja nifedipine adalah dengan vasodilatasi arteriol.

Kortiko steroid
Pada preeklampsia berat kortiko steroid hanya diberikan pada kehamilan preterm < 34 minggu dengan tujuan untuk mematangkan paru janin (Magan E. F., dkk., 1993). Semua kehamilan ≤ 34 minggu yang akan diakhiri diberikan kortiko steroid dalam bentuk dexamethasone atau
betamethasone. National Institute of Health (NIH, 2000) menganjurkan pemberian kortikosteroid pada semua wanita dengan usia kehamilan 24-34 minggu yang berisiko melahirkan preterm, termasuk penderita preeklampsia berat. Pemberian betamethasone 12 mg intra-muskuler dua dosis dengan interval 24 jam, atau pemberian dexamethasone 6 mg intra-vena empat dosis
dengan interval 12 jam
Terapi farmakologis dapat dilakukan dengan penggunaan obat-obatan antihipertensi golongan α2-agonis sentral (metildopa), β-bloker (labetalol), vasodilator (hidralazin), dan diuretik (tiazid). Obat antihipertensi golongan Angiotensin-Converting Enzym Inhibitor (ACE Inhibitor) dan Angiotensin II Receptor Blockers (ARBs) mutlak dikontraindikasikan pada ibu hamil dengan hipertensi. Meskipun ACE Inhibitor dan ARBs memiliki factor resiko kategori C pada kehamilan trimester satu, dan kategori D pada trimester dua dan tiga, namun obat tersebut berpotensi menyebabkan tetatogenik.
Dari beberapa obat yang telah disebutkan diatas, metildopa merupakan obat pilihan utama untuk hipertensi kronik parah pada kehamilan (tekanan diastolik lebih dari 110 mmHg) yang dapat menstabilkan aliran darah uteroplasenta dan hemodinamik janin. Obat ini termasuk golongan α2-agonis sentral yang mempunyai mekanisme kerja dengan menstimulasi reseptor α2-adrenergik di otak.
Nama Dagang: Dopamet (Alpharma) tablet salut selaput 250 mg, Medopa (Armoxindo) tablet salut selaput 250 mg, Tensipas (Kalbe Farma) tablet salut selaput 125 mg, 250 mg, Hyperpax (Soho) tablet salut selaput 100 mg


BAB III
TINJAUAN KHUSUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III
HAMIL 28 MINGGU
DI PUSKESMAS PEKAPURAN RAYA

No. RMK : 40 / 2 Nama Mahasiswa : Kartika Dewi
Tgl/Jam Pengkajian: 04 – 08 – 2010/ Jam.09.00 NIM : S.08.355

A. SUBJECTIVE DATA
1. Identitas
Istri
Nama : Ny. Najiliah
Umur : 42 Tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar / Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Lokasi II

2. Keluhan Utama : Ibu mengatakan hamil 7 bulan, dan mengeluh kepala sedikit pusing

3. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali, Kawin pertama kali umur 17 tahun, dengan suami sekarang sudah 25
tahun

4. Riwayat Haid
a. Menarche umur : 12 tahun
b. Siklus : 28 hari
c. Teratur/tidak : Teratur
d. Lamanya : 4-7 hari
e. Banyaknya : 3 kali ganti pembalut / hari
f. Dismenorhoe : Tidak pernah
g. HPHT : 15 – 01 - 2010
h.Taksiran Partus : 22 – 10 - 2010

5. Riwayat Obstetri
...............................................BUAT SENDIRI YA...

6. Riwayat Keluarga Berencana
a. Jenis : Pil Andalan
b. Lama : 11 tahun
c. Masalah : Tidak ada

7. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan ibu : ibu mempunyai hipertensi tapi tidak pernah menderita penyakit keturunan seperti jantung, DM, asma dan penyakit menular lainnya.
b.Riwayat kesehatan keluarga : keluarga mempunyai penyakit hipertensi tetapi tidak ada penyakit kronik seperti jantung, DM, asma dan penyakit menular lainnya.

8. Keadaan Kehamilan Sekarang
a. Selama hamil ibu periksa di : di PKM Pekapuran Raya
b. Mulai periksa sejak usia kehamilan : 2 bulan
c. Frekuensi periksa kehamilan :
- Trimester I : 2 kali
- Trimester II : 1 kali
- Trimester III : 1 kali
d. TT I : belum diberikan TT II : belum diberikan
e. Keluhan/Masalah yang dirasakan ibu
No Keluhan / Masalah Umur
Kehamilan Tindakan Oleh Ket
1. Mual 1-12 mgg konseling bidan Sdh dberikan

9. Pola Kebutuhan Sehari-hari
a. Nutrisi
- Jenis yang dikonsumsi : nasi, ikan, sayur
- Frekuensi : 2x sehari
- Porsi makan : 1 piring
- Pantangan : tidak ada
b. Eliminasi
 BAB
- Frekuensi : 1x sehari
- Konsistensi : lembek
- Warna : kecoklatan
 BAK
- Frekuensi : 3-4x sehari
- Warna : kuning jernih
- Bau : pesing
c. Personal Hygiene
- Frekuensi mandi : 2x sehari
- Frekuensi gosok gigi : 2x sehari
- Frekuensi ganti pakaian/jenis : sesuai kebutuhan
d. Aktifitas :
Aktifitas ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga
e. Tidur dan Istirahat
- Siang hari : Tidak pernah
- Malam hari : 8 jam
- Masalah : tidak ada
f. Pola Seksual : sesuai kebutuhan
Masalah : tidak ada

10. Data Psikososial dan Spiritual
a. Tanggapan ibu terhadap keadaan dirinya : ibu mengerti tentang dirinya yang sedang hamil dan ibu menyukainya.
b. Tanggapan ibu terhadap kehamilannya : ibu sangat senang akan kehamilannya sekarang, ibu tidak sabar lagi untuk segera melahirkan
c. Ketaatan ibu beribadah : ibu dapat melakukan sholat 5 waktu
d. Pemecahan masalah dari ibu : dengan berdiskusi
e. Pengetahuan ibu terhadap kehamilannya : ibu banyak tau dari pengalaman sebelumnya dan dari bidan atau keluarga
f. Lingkungan yang berpengaruh
- Ibu tinggal bersama : suami dan anak
- Hewan piaraan : tidak ada
g. Hubungan sosial ibu dengan mertua, orang tua, keluarga : baik
h. Penentu pengambil keputusan dalam keluarga : suami
i. Jumlah penghasilan keluarga : cukup
j. Yang menanggung biaya ANC dan persalinan : suami

B. OBJECTIVE DATA
1. Pemeriksaan umum
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : compos menthis
c. Berat badan
- Sebelum hamil : 52 kg
- Sekarang : 49 kg
d. Tinggi badan : 144 cm
e. LILA : 25 cm
f. Tanda Vital : TD 160/100 mmHg, Nadi 80x/menit
Suhu 36,5 °C, Respirasi 20x/menit
2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
- Kepala : kulit kepala bersih, pertumbuhan rambut merata, tidak rontok
- Muka : tidak pucat, tidak ada colosma gravidarum, tidak oedem
- Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
- Telinga : simetris, tidak ada pengeluaran, tidak ada serumen
- Hidung : simetris, tidak ada secret, tidak ada pernapasan cuping
hidung
- Mulut : tidak pucat,tidak pecah2, tidak ada caries gigi
- Leher : tidak tampak pembesaran kel. Tyroid dan vena jugularis
- Dada/mamae : simetris, tidak ada retraksi dada, tampak hiperpigmentasi
areola, puting menonjol
- Perut : tidak ada linea alba, dan bekas luka operasi, ada linea nigra dan
strie gravidarum
- Tungkai : tidak tampak oedem dan varises
b. Palpasi
 Kepala : tidak ada massa/benjolan, tidak ada nyeri tekan
 Leher : tidak teraba pembesaran kel.tyroid dan vena jugularis
 Dada/Mamae : tidak ada massa, tidak ada nyeri tekan
 Abdomen
- Leopold : TFU=18 cm, bagian fundus teraba lunak, bulat, tidak melenting, 2 jari diatas pusat
- Leopold II : bagian kanan ibu teraba keras panjang seperti papan dan bagian kiri ibu teraba bagian terkecil janin
- Leopold III : bagian terbawah ibu teraba bulat, keras, melenting
- Leopold IV : bagian terbawah belum masuk PAP (Konvergen)
- TBJ : 18-12 x 155 = 1842 gram
 Tungkai : tidak teraba oedem dan varises

c. Auskultasi
DJJ ( + ) , terdengar jelas, frekuensi 145 x/menit

d. Perkusi
- Refleks Patella : Kiri / Kanan , ( + ) / (+ )
- Cek ginjal : Kiri / Kanan, ( - ) / ( - )

3. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
- HB 11 gr%
- Albumin negatif
- Reduksi negatif

C. ASSESMENT
a. Diagnosa Kebidanan : G4P3A0 umur kehamilan 28 minggu, janin tunggal hidup intra uterin dengan hipertensi sedang
b. Masalah : pusing
c. Kebutuhan : Konseling

D. PLANNING
1. Memberitahukan hasil pemeriksaan yaitu
TD= 160/100mmhg, BB=49kg, umur kehamilan 28 mgg, Taksiran partus 22-10-2010
“Ibu mengetahui hasil pemeriksaan”

2. Menjelaskan penyebab pusing yang ibu rasakan dan cara mengatasinya penyebab
pusing karena perubahan hemodynamis, cara mengatasinya dengan bangun secara perlahan setelah bangun tidur, hindari berdiri terlalu lama dalam lingkungan ang hangat atau sesak, hindari berbaring dalam posisi telentang sebaiknya jangan menggunakan bantal ketika tidur.
“ibu mengerti dan bersedia mengetahui penyebab dan penanganan pusing”

3. Memberikan konseling seperti :
- Makan-makanan bergizi / cukup kalori dan rendah lemak
- Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya (disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup) dan mengurangi alkohol.
- olahraga teratur dengan jaln kaki dipagi hari
- hindari asap rokok
- istirahat teratur seperti malam hari 8 jam siang hari 1 jam
- menjaga kebersihan pakaian dan personal hygiene terutam daerah genetalia
“ ibu mengerti konseling yang diberikan”

4. Memberitahu tanda-tanda bahaya kehamilan seperti :
- Perdarahan
- Bengkak dikaki, ditangan, diwajah
- Sakit kepala kadang kala dapat menyebabkan kejang, sakit yang setelah istirahat masih sakit
- Demam tinggi, mungkin karena infeksi/malaria
- Keluar air ketuban sebelum waktunya
- Gerakan bayi berkurang atau bahkan tidak ada
- Ibu muntah terus menerus dan tidak mau makan
“ ibu mengetahui tanda-tanda bahaya kehamilan”

5. Memberikan therapy / pengobatan yaitu :
- Nifedipin 3 x 1
- Kalk 1 x 1
- B12 3 x 1
“obat sudah diberikan”

6. Menganjurkan ibu merencanakan tempat dan penolong persalinan jika tekanan darah ibu belum menurun sebaiknya ibu melahirkan dirumah sakit.
“ ibu bersedia dan mengerti bahwa kehamilan dengan hipertensi tidak bias ditolong dirumah”

7. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang lagi minimal 1 minggu sekali pada tanggal 11-08-2010 dan jika tekanan darah belum turun disertai keluhan lain atau jika menemukan tanda bahaya kehamilan segera ketenaga kesehatan
“ Ibu bersedia dan mengerti untuk kunjungan ulang lagi”


BAB IV
PEMBAHASAN

Dipuskesmas Pekapuran Raya kasus dengan hipertensi dalam kehamilan dalam jangka waktu mulai dari januari sampai agustus tercatat 8 orang. Dari pemeriksaan kepana Ny. N didapatkan albumin dan reduksi negative, HB 11 gr%, tidak tampak dan teraba oedem dan tidak tampak pucat diwajah ibu, tidak anemis, tekanan darah ibu 160/100
Sedangkan untuk penatalaksanaan Hipertensi Pada Kehamilan untuk melindungi ibu dari berbagai komplikasi termasuk kardiovaskuler dan melanjutkan kehamilannya sampai persalinan yang aman. Tata laksana ini meliputi pengelolaan secara umum dan khusus baik konservatif maupun dengan terminasi kehamilan .
1. Terapi Konservatif
Terapi konservatif dilakukan bila tekanan darah terkontrol ( sistolik < 140 mmHg, diastolik 90 mmHg, proteinuria < +2 ( 1 gr/hari), trombosit > 100.000, keadaan janin baik (USG, Stress test). Faktor yang sangat menentukan terapi konservatif adalah umur kehamilan. Jika HDK disertai proteinuria berat dan kehamilan > 36 minggu maka terminasi kehamilan perlu dilakukan. Apabila kehamilan < 36 minggu, maka dilakukan terapi konservatif jika : tekanan darah stabil < 150mmHg dan diastolik < 95 mmHg, proteinuria <+2, keadaan janin dan ketuban normal, trombosit > 100.000.
2. Terminasi Kehamilan
Bila selama terapi konservatif, ditemukan hal-hal dibawah ini maka dilakukan terminasi kehamilan. Dari Sudut Ibu:
- Sakit kepala hebat, gangguan penglihatan
- Tekanan darah sistolik > 170 mmHg dan atau diastolik > 110 mmHg
- Oliguria < 400 ml/ 24 jam
- Fungsi ginjal dan hepar memburuk
- Nyeri epigartium berat, mual, muntah
- Suspek abruptio placenta
- Edema paru dan sianosis
- Kejang dan tanda-tanda perdarahan intracerebral pada eklampsia
Dari Sudut Janin
- Pergerakan janin menurun
- Olygohidro amnion

3. Pengobatan Medikamentosa
Tujuan dalam menurunkan tekanan darah telah disepakati dianggap optimal bila sistolik < 140 mmHg dan diastolik < 90 mmHg.Ada beberapa konsensus kapan kita menggunakan obat anti hipertensi pada HDK antara lain:
a. Segera
Bila tekanan darah sistolik > 169 mmHg dan diastolik > 109 mmHg dengan gejala klinis.
b. Setelah observasi 1-2 jam
Bila tekanan darah sistolik > 169 mmHg dan atau diastolik > 109 mmHg tanpa gejala klinis.
c. Setelah observasi 24-48 jam
- Bila tekanan darah sistolik > 139 mmHg dan atau diastolik > 89 mmHg sebelum kehamilan 28 minggu tanpa proteinuria
- Bila tekanan darah sistolik > 139 mmHg dan atau diatolik > 89 mmHg pada wanita hamil dengan gejala klinis, proteinuria, disertai penyakit lain ( kardiovaskular, ginjal), Super imposed hypertension

Pencegahannya dapat Pembatasan kalori, cairan dan garam tidak dapat mencegah hipertensi dalam kehamilan, bahkan dapat berbahaya bagi janin manfaat aspirin, kalsium, dan obat-obat pencegah hipertensi dalam kehamilan balum terbukti
 Jika tekanan diastole tetap lebih dari 110 mmhg, berikan obat anti hipertensi sampai tekanan diastole diantara 90-100mmhg
 Pasang infuse dengan jarum besar (16 gauge atau lebih)
 Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan
 Kateterisasi urine untuk pemantauan pengeluaran urine dan proteinuria
 Jika jumlah urin kurang dari 30 ml perjam hentikan magnesium sulfat (Mg SO4) dan berikan cairan IV (NaCl 0,9 % atau ringer laktat) pada kecepatan 1 liter per 8 jam. Pantau kemungkinan edema paru.
 Jangan tinggalkan pasien sendirian . kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin
 Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung janin setiap jam
 Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru
 Hentikan pemberian cairan IV dan berikan diuretik misalnya furosemid 40 mg I.V. sekali saja jika ada edema paru
 Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan sederhana (bedside clotting test). Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit kemungkinan terdapat koagulopati

Saat persalinan penangannya :
 Persalinan harus diusahakan segera setelah keadaan pasien stabil. Penundaan persalinan
meningkatkan resiko untuk ibu dan janin
 Periksa serviks, jika serviks matang lakukan pemecahan ketuban, kemudian induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin
 Jika persalinan pervaginam tidak dapat diharapkan dalam 12 jam (pada eklampsia) atau dalam 24 jam (pada preeklmapsia) lakukan sectio caesarea)
 Jika denyut jantung janin < 100 kali/mnt atau 180 kali/mnt lakukan sectio caesarea
 Jika serviks belum matang janin hiduplakukan secsio caesarea
 Jika anestesi untuk seksio sesarea tidak tersedia, atau jika janin mati atau terlalu kecil maka usahakan lahir pervaginam, matangkan serviks dengan misoprostol, prostaglandin, atau kateter foley

Penanganan Pasca Persalinan
Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam setelah persalinan atau kejang terakhir
Teruskan terapi anti hipertensi jika tekanan diastole masih 110 mmhg atai lebih


BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hipertensi merupakan salah satu masalah medis yang kerapkali muncul selama kehamilan dan dapat menimbulkan komplikasi pada 2-3 persen kehamilan. Hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan morbiditas/ kesakitan pada ibu (termasuk kejang eklamsia, perdarahan otak, edema paru (cairan di dalam paru), gagal ginjal akut, dan penggumpalan/ pengentalan darah di dalam pembuluh darah) serta morbiditas pada janin (termasuk pertumbuhan janin terhambat di dalam rahim, kematian janin di dalam rahim, solusio plasenta/ plasenta terlepas dari tempat melekatnya di rahim, dan kelahiran prematur). Selain itu, hipertensi pada kehamilan juga masih merupakan sumber utama penyebab kematian pada ibu

B. SARAN
1. Bagi ibu hamil lebih menjaga asupan nutrisi, umur 25-35 tahun untuk hamil, paritasnya tidak boleh lebih dari 3 karena memicu hipertensi kronik
2. Bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan untuk dapat lebih dini mengetahui komplikasi dan kelainan mulai dari masa hamil sehingga dapat memberikan penanganan sesuai keluhan


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, IONI (Informatorium Obat Nasional Indonesia) 2000, 47-49, 57, DepKes RI, Jakarta

Anonim, 2007, ISO (Informasi Spesialite Obat Indonesia) Volume 42, Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, Jakarta

Lacy, C.F., et all, 2006, Drug Information Hanbook 14th edition, 1034, 1921, Lexi Company,USA

Saseen, J.J, dan Carter, B.L., 2005, Hypertension, in DiPiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke,

G.R., Wells, B.G., and Posey, L.M., (Eds.), Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 6th Edition, 202-210, McGraw-Hill Companies, USA

Sibai, B.M., 1996, “Treatment of Hypertension in Pregnant Women”, The New England Journal of Medicine, Volume 335, 257-265

Sibai, B.M., dan Chames, M., 2003, “Treatment of Hypertension in Pregnant Women”, The Journal of Family Practice, Volume 15

Rubin, P., 1998, “Drug treatment during pregnancy”, British Medical Journal, 1-7

1 komentar:

  1. maksih kakka, pas bget aku dinas di pekapuran raya,, hehehe

    BalasHapus