Jumat, 26 Agustus 2011

HEPATOMEGALI




HEPATOMEGALI

Anatomi Fisiologi

Hati terletak di bawah diafragma kanan, dilindungi bagian bawah tulang iga kanan. Hati normal kenyal dengan permukaannya yang licin (Chandrasoma, 2006).
Hati merupakan kelenjar tubuh yang paling besar dengan berat 1000-1500 gram. Hati terdiri dari dua lobus utama, kanan dan kiri. Lobus kanan dibagi menjadi segmen anterior dan posterior, lobus kiri dibagi menjadi segmen medial dan lateral oleh ligamentum Falsiformis (Noer, 2002).
Setiap lobus dibagi menjadi lobuli. Setiap lobulus merupakan badan heksagonal yang terdiri atas lempeng-lempeng sel hati berbentuk kubus mengelilingi vena sentralis. Diantara lempengan terdapat kapiler yang disebut sinusoid yang dibatasi sel kupffer. Sel kupffer berfungsi sebagai pertahanan hati (Price, 2006).
Sistem biliaris dimulai dari kanalikulus biliaris, yang merupakan saluran kecil dilapisi oleh mikrovili kompleks di sekililing sel hati. Kanalikulus biliaris membentuk duktus biliaris intralobular, yang mengalirkan empedu ke duktus biliaris di dalam traktus porta (Chandrasoma, 2006)
Fungsi dasar hati dibagi menjadi :
  • Fungsi vaskular untuk menyimpan dan menyaring darah. Ada dua macam aliran darah pada hati, yaitu darah portal dari usus dan darah arterial, yang keduanya akan bertemu dalam sinusoid. Darah yang masuk sinusoid akan difilter oleh sel Kupffer.
  • Fungsi metabolik. Hati memegang peran penting pada metabolisme karbohidrat, protein, lemak, vitamin (Guyton, 2003).
  • Fungsi ekskretorik. Banyak bahan diekskresi hati di dalam empedu, seperti bilirubin, kolesterol, asam empedu, dan lain-lain.
  • Fungsi sintesis. Hati merupakan sumber albumin plasma; banyak globulin plasma, dan banyak protein yang berperan dalam hemostasis (Chandrasoma, 2006).

DEFINISI

Pembesaran Hati (Hepatomegali) adalah membesarnya hati melebihi ukurannya yang normal.
Hepatomegali Pembesaran Hati  adalah pembesaran organ hati yang disebabkan oleh berbagai jenis penyebab seperti infeksi virus hepatitis, demam tifoid, amoeba, penimbunan lemak (fatty liver), penyakit keganasan seperti leukemia, kanker hati (hepatoma) dan penyebaran dari keganasan (metastasis). Keluhan dari hepatomegali ini gangguan dari sistem pencernaan seperti mual dan muntah, nyeri perut kanan atas, kuning bahkan buang air besar hitam. Pengobatan pada kasus hepatomegali ini berdasarkan penyebab yang mendasarinya.

PENYEBAB
Penyebab yang sering ditemukan:
- Alkoholisme
- Hepatitits A
- Hepatitis B
- Gagal jantung kongestif (CHF, congestive heart failure)
- Leukemia
- Neuroblastoma
- Sindroma Reye
- Karsinoma hepatoseluler
- Penyakit Niemann-Pick
- Intoleransi fruktosa bawaan
- Penyakit penimbunan glikogen
- Tumor metastatik
- Sirosis bilier primer
- Sarkoidosis
- Kolangitis sklerotik
- Sindroma hemolitik-uremik.

TANDA DAN GEJALA

Hati yang membesar biasanya tidak menyebabkan gejala. Tetapi jika pembesarannya hebat, bisa menyebabkan rasa tidak nyaman di perut atau perut terasa penuh.
Jika pembesaran terjadi secara cepat, hati bisa terasa nyeri bila diraba.
Hati yang membesar biasanya tidak menyebabkan gejala. Tetapi jika pembesarannya hebat, bisa menyebabkan rasa tidak nyaman di perut atau perut terasa penuh. Jika pembesaran terjadi secara cepat, hati bisa terasa nyeri bila diraba. Tanda dan gejala yang lain berupa:
  • Umumnya tanpa keluhan
  • Pembesaran perut
  • Nyeri perut pada epigastrium/perut kanan atas
  • Nyeri perut hebat, mungkin karena ruptur hepar
  • Ikterus
  • Sering disertai kista ginjal

DIAGNOSA

Ukuran hati bisa diraba/dirasakan melalui dinding perut selama pemeriksaan fisik.

Jika hati teraba lembut, biasanya disebabkan oleh hepatitis akut, infiltrasi lemak, sumbatan oleh darah atau penyumbatan awal dari saluran empedu.

Hati akan teraba keras dan bentuknya tidak teratur, jika penyebabnya adalah sirosis.

Benjolan yang nyata biasanya diduga suatu kanker.

Pemeriksaan lainnya yang bisa dilakukan untuk membantu menentukan penyebab membesarnya hati adalah:
- rontgen perut
- CT scan perut
- tes fungsi hati
PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor  resiko seperti rokok  jamur, kelebihan zat dan infeksi virus hepatitis B serta alcohol yang mengakibatkan sel-sel pada hepar rusak serta menimbulkan reaksi hiperplastik yang menyebapkan neoplastik hepatima yang mematikan sel-sel hepar  dan mengakibatkan pembesaran hati. Hepatomegali dapat mengakibatkan infasi pembuluh darah yang mengakibatkan obstruksi vena hepatica sehingga menutup vena porta yang mengakibatkan menurunnya  produksi albumin dalam darah (hipoalbumin) dan mengakibatkan tekanan osmosis meningkatkan tekanan osmosis meningkat yang mengakibatkan cairan intra sel keluar ke ekstrasel dan mengakibatkan udema. Menutupnya vena porta juga dapat mengakibatkan ansietas. Hepatomegali juga dapat mengakibatkan vaskularisasi memburuk, sehingga mengakibatkan nekrosis jaringan. Hepatomegali dapat mengakibatkan proses desak ruang, yang mendesak paru, sehingga mengakibatkan sesak, proses desak ruang yang melepas mediator radang yang merangsang nyeri

KOMPLIKASI
Orang yang hatinya rusak karena pembentukan jaringan parut (sirosis), bisa menunjukkan sedikit gejala atau gambaran dari hepatomegali. Beberapa diantaranya mungkin juga mengalami komplikasi, yaitu:
  • hipertensi portal dengan pembesaran limpa
  • asites (pengumpulan cairan dalam rongga perut)
  • gagal ginjal sebagai akibat dari gagal hati (sindroma hepatorenalis)
  • kebingungan (gejala utama dari ensefalopati hepatikum) atau
  • kanker hati (hepatoma).

Pemeriksaan Diagnostik
Ukuran hati bisa diraba/dirasakan melalui dinding perut selama pemeriksaan fisik. Jika hati teraba lembut, biasanya disebabkan oleh hepatitis akut, infiltrasi lemak, sumbatan oleh darah atau penyumbatan awal dari saluran empedu. Hati akan teraba keras dan bentuknya tidak teratur, jika penyebabnya adalah sirosis. Benjolan yang nyata biasanya diduga suatu kanker. Pemeriksaan lainnya yang bisa dilakukan untuk membantu menentukan penyebab membesarnya hati adalah:
  • rontgen perut
  • CT scan perut
  • tes fungsi hati.
Uji
Normal
Makna klinis
Bilirubin serum terkonjugasi
0,1-0,3 mg/dl
Meningkat bila terjadi gangguan ekskresi bilirubin terkonjugasi.
Bilirubin serum tak terkonjugasi
0,2-0,7 mg/dl
Meningkat pada hemolitik.
Bilirubin serum total
0,3-1,0 mg/dl
Meningkat pada penyakit hepatoseluler.
Bilirubin urine
0
Mengesankan adanya obstruksi pada sel hati
Urobilinogen urine
1,0-3,5 mg/24jam
Berkurang pada gangguan ekskresi empedu, gangguan hati.
Enzim SGOT
5-35 unit/ml
Meningkat pada kerusakan hati.
Enzim SGPT
5-35 unit/ml
Meningkat pada kerusakan hati
Enzim LDH
200-450 unit/ml
Meningkat pada kerusakan hati
Fosfatase alkali
30-120 IU/L
Meningkat pada obtruksi biliaris.

8. Penatalaksanaan Medis
A. Terapi umum
  • Istirahat
  • Diet
  • Medikamentosa
  • Obat pertama
  • Obat alternative
B. Terapi komplikasi
  • Ruptur : pembedahan
  • Kista terinfeksi : pasang drainase
C.  Pembedahan
  • Pembedahan
  • Operasi pintas porto-cava
  • Aspirasi cairan (bila kista besar)
  • Skleroterapi (bila ada perdarahan varises)
  • Transplantasi hati

9. Pengkajian Keperawatan
  • Aktivitas/ Istirahat:
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot perut. Tidak banyak aktivitas karena nyeri di perutnya.
  • Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, takikardi, perubahan tekanan darah
  • Integritas Ego
Stress, ansietas
  • Eliminasi
Perubahan pola berkemih sulit BAB, BAK sedikit.
  • Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penambahan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
  • Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
  • Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri pada perut kanan atas (sedang / berat)
  • Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
  • Keamanan
Kulit kering, gatal.

10. Diagnosa Keperawatan
  1. Nyeri akut b/d  proses penyakit, imflamasi
  2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada perut kanan atas dan punggung.
  3. Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan oral, mual, status puasa/aspirasi nasogestrik
  4. Defisit volume cairan b/d intake yang tidak adekuat, mual, status puasa/aspirasi nasogestrik.
  5. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada pada perut atas dan punggung, terapi tirah baring.
  6. Kurang pengetahuan pasien terhadap penyakitnya b/d status pendidikan.
  7. Gangguan peran diri b/d Penyakit jangka panjang, ketergantungan pada orang lain.

11. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Nyeri akut b/d  proses penyakit, imflamasi
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan .. x 24 jam diharapkan nyeri pasien dapat berkurang dan menghilang dengan kriteria hasil:
  • Pasien mengatakan nyerinya hilang
  • Nyeri berada pada skala 0-3
  • Tekanan darah 120/80 mmHg
Intervensi:
  1. Kaji tingkat nyeri pasien
  2. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman dan tindakan kenyamanan
  3. Berikan aktifitas hiburan yang tepat
  4. Libatkan keluarga dalam askep
  5. Berikan obat analgetik
Rasional:
  1. Mengindikasi kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan/resolusi komplikasi
  2. Lingkungan yang nyaman akan membantu proses relaksasi
  3. Memfokuskan kembali perhatian; meningkatkan kemampuan untuk menanggulangi nyeri.
  4. Keluarga akan membantu proses penyembuhan dengan melatih pasien relaksasi.
  5. Memberikan penurunan nyeri 
Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada perut kanan atas dan punggung
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama …x 24 jam diharapkan gangguan pola tidur pasien akan teratasi, dengan kriteria hasil:
  • · Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit
  • · Pasien tenang dan wajah segar
  • Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup
Intervensi:
  1. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
  2. Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah.
  3. Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas, efek obat-obatan dan suasana ramai
  4. Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik  relaksasi
  5. Kaji tanda-tanda kurangnya  pemenuhan kebutuhan tidur pasien
Rasional:
  1. Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan tidur/istirahat
  2. mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien
  3. Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan pasien
  4. Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri.
  5. Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. 
Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan oral, mual, status puasa/aspirasi nasogestrik
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi dengan criteria:
  • Mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat
  • Menunjukkan tingkat energi biasanya
  • Berat badan stabil atau bertambah
Intervensi:
  1. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien
  2. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi
  3. Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki yang sesuai dengan program diit Hepatomegali.
  4. Berikan pengobatan secara teratur sesuai indikasi
  5. Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai indikasi
Rasional:
  1. Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik
  2. Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan utilisasinya)
  3. Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam pencernaan makan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang
  4. Pemberian obat antimual dapat mengurangi rasa mual  sehingga kebutuhan nutrisi pasien tercukupi.
  5. Meningkatkan rasa keterlibatannya; Memberikan informasi kepada keluarga untuk memahami nutrisi pasien 
Defisit volume cairan b/d intake yang tidak adekuat, mual, status puasa/aspirasi nasogestrik
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama … x 24 jam diharapkan kebutuhan cairan terpenuhi dengan kriteria hasil:
  • TD 120/80 mmHg
  • RR 16-24 x/mnt
  • Nadi 60-100 x/mnt
  • Turgor kulit baik
  • Haluaran urin tepat secara individu
  • Kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi:
  1. Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tanda vital.
  2. Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
  3. Kaji suhu warna kulit dan kelembabannya
  4. Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
  5. Pantau masukan dan pengeluaran cairan
  6. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
  7. Catat hal-hal  seperti mual, muntah dan distensi lambung.
  8. Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur
  9. Berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)
Rasional:
  1. hipovolemia dapat dimanisfestasikan oleh hipotensi dan  takikardi
  2. pernapasan yang berbau aseton berhubungan dengan pemecahan asam aseto-asetat dan harus berkurang bila ketosis harus terkoreksi
  3. demam dengan kulit kemerahan, kering menunjukkan dehidrasi.
  4. merupakan indicator dari dehidrasi
  5. memberi perkiraan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan program pengobatan
  6. mempertahankan volume sirkulasi
  7. kekurangan cairan dan elektrolit menimbulkan muntah sehingga kekurangan cairan dan elektrolit.
  8. pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan
  9. mempercepat proses penyembuhan untuk memenuhi kebutuhan cairan 
Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada pada perut atas dan punggung, terapi tirah baring
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama … x 24 jam diharapkan pasien dapat mencapai kemampuan aktivitas yang optimal, dengan kriteria hasil:
  • Pergerakan pasien bertambah luas
  • Pasien dpt melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan (duduk, berdiri, berjalan)
  • Rasa nyeri berkurang
  • Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan
Intervensi:
  1. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.
  2. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas.
  3. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan
  4. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya
  5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain: dokter (pemberian analgesik)
Rasional:
  1. mengetahui derajat  kekuatan otot-otot  kaki pasien.
  2. Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan
  3. melatih otot – otot kaki sehingga berfungsi dengan baik
  4. Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi
  5. Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri. 
Kurang pengetahuan pasien terhadap penyakitnya b/d status pendidikan
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan selama …x24 jam diharapkan Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya, dengan kriteria hasil:
  • · Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya
  • Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh
Intervensi:
  1. Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit Hepatomegali.
  2. Kaji latar belakang pendidikan pasien
  3. Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti
  4. Jelasakan prosedur yang akan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.
  5. Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada/memungkinkan)
Rasional:
  1. Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga
  2. Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien
  3. Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman
  4. Dengan penjelasan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang
  5. gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.    
Gangguan peran diri b/d Penyakit jangka panjang, ketergantungan pada orang lain
Tujuan dan kriteria hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … x 24 jam gangguan peran diri dapat teratasi dengan criteria hasil:
  • Pasien mengatakan menerima kondisinya saat ini.
  • Pasien mampu berkomunikasi dengan baik dan tanpa beban.
Intervensi:
  1. Kaji kondisi umum pasien
  2. Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas.
  3. Komunikasikan cara-cara efektif dalam melakukan aktifitas ringan.
  4. Ikut sertakann pasien dalam aktifitas sehari-hari
  5. Libatkan keluarga sebagai support sistem.
Rasional:
  1. Mengkaji keadaan umum dapat menentukan penyebab lain.
  2. Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri positif sesuai tingkat aktivitas yang ditoleransi
  3. Membantu pasien untuk melatih kemandiriannya.
  4. Mengindikasikan tingkat aktifitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis
  5. Dukungan keluarga sangat penting dalam perkembangan pasien.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar