Sabtu, 25 Februari 2012

EMBOLI AIR KETUBAN


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Emboli air ketuban (EAK) adalah darurat obstetri langka di mana ia menduga bahwa cairan ketuban, sel-sel janin, rambut, atau sampah lainnya memasuki sirkulasi ibu, menyebabkan runtuhnya kardiorespirasi. Pada tahun 1941, Steiner dan Luschbaugh dijelaskan EAK untuk pertama kalinya setelah mereka menemukan puing-puing janin dalam sirkulasi paru perempuan yang meninggal selama persalinan.
Data arus dari National Registry embolus Cairan ketuban menunjukkan bahwa proses ini lebih mirip dengan anafilaksis daripada emboli, dan sindrom anaphylactoid jangka waktu kehamilan telah disarankan karena komponen jaringan janin atau cairan ketuban tidak universal ditemukan pada wanita yang datang dengan tanda dan timbul gejala EAK
Diagnosis EAK secara tradisional telah dibuat pada saat sel-sel skuamosa otopsi ditemukan janin dalam sirkulasi paru-paru ibu, namun sel-sel skuamosa janin yang umumnya ditemukan dalam sirkulasi bekerja pasien yang tidak mengembangkan sindrom tersebut. Pada pasien yang sakit kritis, sampel diperoleh dengan aspirasi dari pelabuhan distal kateter arteri paru-paru yang mengandung sel-sel skuamosa janin dianggap sugestif dari tetapi tidak diagnostik Diagnosis syndromEAK pada dasarnya adalah salah satu pengecualian berdasarkan presentasi klinis. Penyebab lainnya ketidakstabilan hemodinamik tidak boleh diabaikan. Berdasarkan fakta-fakta diatas maka penulis tertarik untuk menulis makalah yang berjudul “emboli air ketuban”.
2. Rumusan Masalah
“Apa yang dimaksud dengan emboli air ketuban,patofisiologis dan penanganannya”

3. Tujuan

a. Untuk mengetahui pengertian emboli air ketuban?
b. Untuk mengetahui patofisiologis emboli air ketuban?
c. Untuk mengetahui etiologi  emboli air ketuban?
d. Untuk mengetahui  penanganan emboli air ketuban?
e. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi emboli air ketuban?

4. Manfaat

Dari makalah ini diharapkan mahasisiwa dapat mengetahui pengertian dari emboli air ketuban serta bagaimana penanganannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Emboli Air ketuban

            Menurut dr. Irsjad Bustaman, SpOG  Emboli air ketuban (EAK) adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban  seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental.
 
            Emboli air ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus yang sangat jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000 kelahiran. Bahkan hingga tahun 1950, hanya ada 17 kasus yang pernah dilaporkan. Sesudah tahun 1950, jumlah kasus yang dilaporkan sedikit meningkat

EAK umumnya terjadi pada kasus aborsi, terutama jika dilakukan setelah usia kehamilan 12 minggu. Bisa juga saat amniosentesis (tindakan diagnostik dengan cara mengambil sampel air ketuban melalui dinding perut). Ibu hamil yang mengalami trauma / benturan berat juga berpeluang terancam EAK. Namun, kasus EAK yang paling sering terjadi justru saat persalinan atau beberapa saat setelah ibu melahirkan (postpartum). 

Baik persalinan normal atau sesar tidak ada yang dijamin 100% aman dari risiko EAK, karena pada saat proses persalinan, banyak vena-vena yg terbuka, yang memungkinkan air ketuban masuk ke sirkulasi darah ibu. Emboli air ketuban merupakan kasus yang berbahaya yang dapat membawa pada kematian. Bagi yang selamat, dapat terjadi efek samping seperti gangguan saraf.


B. Etiologi
Patofisiologi belum jelas diketahui secara pasti. Diduga bahwa terjadi kerusakan penghalang fisiologi antara ibu dan janin sehingga bolus cairan amnion memasuki sirkulasi maternal yang selanjutnya masuk kedalam sirkulasi paru dan menyebabkan :
  • Kegagalan perfusi secara masif
  • Bronchospasme
  • Renjatan

Akhir akhir ini diduga bahwa terjadi suatu peristiwa syok anafilaktik akibat adanya antigen janin yang masuk kedalam sirkulasi ibu dan menyebabkan timbulnya berbagai manifestasi klinik.
C. Faktor Resiko
Emboli air ketuban dapat terjadi setiap saat dalam kehamilan namun sebagian besar terjadi pada saat inparu (70%) , pasca persalinan (11%) dan setelah Sectio Caesar (19%)
Faktor resiko :
1. Multipara
2. Solusio plasenta
3. IUFD
4. Partus presipitatus
5. Suction curettahge
6. Terminasi kehamilan
7. Trauma abdomen
8. Versi luar
9. Amniosentesis

D. Gambaran Klinik
Gambaran klinik umumnya terjadi secara mendadak dan diagnosa emboli air ketuban harus pertama kali dipikirkan pada pasien hamil yang tiba tiba mengalami kolaps.
Pasien dapat memperlihatkan beberapa gejala dan tanda yang bervariasi, namun umumnya gejala dan tanda yang terlihat adalah segera setelah persalinan berakhir atau menjelang akhir persalinan, pasien batuk batuk, sesak , terengah engah dan kadang ‘cardiac arrest’
E. Diagnosis
Diagnosa pasti dibuat postmortem dan dijumpai adanya epitel skaumosa janin dalam vaskularisasi paru.
Konfirmasi pada pasien yang berhasil selamat adalah dengan adanya epitel skuamosa dalam bronchus atau sampel darah yang berasal dari ventrikel kanan
Pada situasi akut tidak ada temuan klinis atau laboratoris untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosa emboli air ketuban, diagnosa adalah secara klinis dan per eksklusionum.
F. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan primer bersifat suportif dan diberikan secara agresif.
b. Terapi awal adalah memperbaiki cardiac output dan mengatasi DIC
c. Bila anak belum lahir, lakukan Sectio Caesar dengan catatan dilakukan setelah keadaan umum ibu stabil
d. X ray torak memperlihatkan adanya edema paru dan bertambahnya ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan.
e. Laboratorium : asidosis metabolik ( penurunan PaO2 dan PaCO2)
Terapi tambahan :
1.Resusitasi cairan
2.Infuse Dopamin untuk memperbaiki cardiac output
3.Adrenalin untuk mengatasi anafilaksis
4.Terapi DIC dengan fresh froozen plasma
5.Terapi perdarahan pasca persalinan dengan oksitosin
6.Segera rawat di ICU
G. Prognosis
Mortalitas perinatal kira kira 65% dan sebagian besar yang selamat baik ibu maupun anak akan mengalami skualae neurologi yang parah.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari teori diatas dapat diketahui bahwa Baik persalinan normal atau caesar tidak ada yang dijamin 100% aman dari risiko EAK, karena pada saat proses persalinan, banyak vena-vena yg terbuka, yang memungkinkan air ketuban masuk ke sirkulasi darah ibu.Oleh karena itu pertolongan yang  bersih dan aman mutlak diperlukan dalam sebuah persalinan.

B. Saran                        

Diharapkan bagi mahasiswa kebidanan dan tenaga kesehatan untuk dapat lebih memperhatikan mengenai pertolongan persalinan yang bersih dan aman  dengan menerapkan tekhnik pencegahan infeksi untuk mencegah terjadinya emboli air ketuban.


DAFTAR PUSTAKA

1.     Clark SL, Hankins GD, Dudley DA, et al cairan. Emboli ketuban: analisis dari registri J nasional. Am Obstet Gynecol..Apr 1995; 172 (4 Pt 1) :1158-67; diskusi 1167-9 [MEDLINE] .
2.     Clark SL, Pavlova Z, Greenspoon J, et al. Sel skuamosa dalam sirkulasi paru-paru ibu J. Am Obstet Gynecol 154. Jan 1986; (1) :104-6. [MEDLINE] .
3.     Benson MD, Kobayashi H, Silver RK, et al studi. Kekebalan dalam cairan ketuban emboli dianggap Gynecol. Obstet 97. Apr 2001, (4) :510-4. [MEDLINE] .
4.     Prawiharjo,sarwono.2007.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar