Rabu, 28 September 2011

POLIOMIELITIS


POLIOMIELITIS


PENDAHULUAN
Poliomielitis disebut juga acute anterior poliomyelitis, infantile paralysis, penyakit heine dan medin. Poliomyelitis merupakan suatu penyakit menular akut, pertama kali ditemukan oleh heine pada tahun 1840 dengan mengumpulkan beberapa kasus poliomyelitis di jerman dan stockholm pada tahun 1980 mengemukakan gambaran epidemi poliomyelitis. Atas jasa-jasa penemuan kedua sarjana ini maka penyakit tersebut disebut juga penyakit heine dan medin.
Pada tahun 1908 landsteiner dapat menimbulkan kelumpuhan pada kera dengan penyuntikan intraperitoneal jaringan sum-sum tulang belakang penderita yang meninggal akibat penyakit poliomyelitis. Tahun 1910 sifat virus yang fitrabel dapat dibuktikan.

DEFINISI
Poliomyelitis adalah suatu penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi virus polio dan mengakibatkan kerusakan pada sel motorik di kornu anterior medula spinalis, batang otak ( dapat pula mengenai mesensefalon, serebelum, ganglia basal ) dan area motorik kortex cerebri.


EPIDEMIOLOGI
Goar ( 1955 ) dalam uraiannya tentang poliomyelitis di negara yang baru berkembang dengan sanitasi yang buruk berkesimpulan bahwa di daerah-daerah tersebut pada epidemi poliomielitis ditemui 90 % pada anak-anak dibawah umur 5 tahun. Ini disebabkan penduduk telah mendapat infeksi atau imunitas pada masa anak, poliomielitis jarang ditemukan pada orang dewasa .
Di indonesia, pemerintah mencanangkan tujuan akhir program imunisasi menjelang tahun 2000 adalah eradikasi polio, eliminasi tetanus neonatorum, dan reduksi campak. Dengan tidak ditemukannya virus polio liar dalam tinja penderita acute flaccid paralysis atau lumpuh layu akut melalui survailans AFP pada tahun-tahun berikutnya diperkirakan tahun 2003, Badan Kesehatan Dunia bisa menyatakan indonesia sudahtermasuk negara yang bebas polio ( sertifikat bebas polio ). Namun bangsa indonesia dikejutkan dengan kejadian luar biasa di sukabumi ( 2005 ) dengan ditemukannya virus virus polio liar sebagai penyebab lumpuh layu akut.

ETIOLOGI
Virus polio adalah virus RNA yang termasuk kelompok anterior virus dan famili fikorna virus. Virus ini juga termasuk dalam virus yang terkecil, jadi ia termasuk virus yang fitrabel, tipe III ( leon ).
Ketiga jenis polio tersebut berbeda satu ama lainnya dan yang paling virulen tipe I. Virus polio tehan terhadap pengaruh fisik dan bahan kimia ( alkohol dan lisol ) namun peka terhadap formaldehide. Ketahanan virus di tanah dan air tergantung pada kelembaban dan suhu. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilometer dari sumber penularan, sedangkan dalam tinja tahan sampai berbulan-bulan.
Faktor yang mempengaruhi keganasan virus polio antara lain  :
* Jenis virus
* Usia
* Genetik
* Aktifitas fisik
* Trauma
* Tonsilektomi

PATOGENESA
Poliomyelitis merupakan penyakit yang sangat menular, virus masuk kedalam tubuh melalui saluran nasofaring setelah ditularkan melalui fekal-oral. Timbulnya penyakit polio dapat dicetuskan dengan adanya tindakan operasi pada daerah tenggorokan dan mulut seperti misalnya tonsilektomi dan ekstraksi gigi atau tindakan penyuntikan suattu vaksinasi DPT, kehamilan, kerja fisik yang berat/kelelahan.
Setelah masuk kedalam tubuh, virus akan berkembang biak ( Multiplikasi ) di jaringa limfoid tonsil atau pada plak peyeri dinding usus dan melaui darah akan tersebar keseluruh tubuh ( viremia ).
Viremia ini tidak akan menimbulkan ( asimtompatik ) atau hanya sakit ringan saja. Diduga pada kasus-kasus yang menimbulkan paralisis, virus dapat mencapai sistim saraf secara langsung melalui darah atau secara retrogard melalui saraf tepi atau saraf simpatetik atau ganglion sensorik pada tempat ia bermultiplikasi atau jaringan ekstra neoral yang lain.

GAMBARAN KLINIS
Masa inkubasi yang tidak diketahui dengan pasri diperkirakan 7-14 hari. Gejala klinik bermacam-macam dan digolongkan sebagai berikut :
1. Jenis asimptomatis
Bila tidak ada gejala apa-apa, diduga jenis ini banyak terdapat waktu epidemi.
2. Jenis abortive
Bila hanya di dapat gejala-gejala prodormal, sering kali gejala intestinal seperti Anoreksia, mual, konstipasi, nyeri abdomen, disertai nyeri tenggorokan, demam ringan dan sakit kepala.
3. Jenis non paralitk
Bila terdapat tanda-tanda rangsangan meningeal tanpa adanya kelumpuhan. Suhu naik sampai 38-39oC disertai sakit kepala dan nyeri otot-otot. Kesadaran tetap baik, tetapi mungkin penderita mengantuk dan gelisah. Pada pemeriksaan didapati: kekakuan pada kuduk dan punggung disertai tanda kernig, Brudzensky dan laseque yang positif, refleks tendon biasanya tidak berubah. Bila penderita di tegakkan kepala akan terjatuh kebelakang (“head drops”). Bila anak berusaha duduk dari sikap tidur maka kedua lututnya ditekuk dengan menunjang kebelakang dan terlihat kekakuan otot spinal (tripod sign).
4. Jenis paralitik
gejala seperti diatas, kemudian disertai kelumpuhan yang biasanya timbul 3 hari setelah stadium preparalitik. Mula-mula otot yang terkena terasa nyeri dan spastik, kemudian paralitik.
Sesuai tinggi lesi pada susunan syaraf pusat yang terkena, dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Bentuk spinal
Bila mengenai sel motorik kornu anterior medula spinalis terjadi kelumpuhan otot leher, tubuh, diafragma, thorak, dan ekstremitas bawah. Yang paling sering adalah otot besar pada tungkai bawah terutama m. Quadrisep femoris. Umumnya penyebaran otot yang lumpuh tidak simetris dan tidak didapati gangguan sensorik, reflek tendon menurun atau menghilang.
2. Bentuk bulber
Bila mengenai inti motorik dibatang otak, timbul gangguan 1 atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat vital yaitu sistem pernafasan dan sirkulasi.
3. Bentuk bulbospinal
yaitu campuran bentuk bulber dan spinal.
4. Bentuk encephalitik atau polio encephalitik.
Bila mengenai cerebrum, ditandai penurunan kesadaran sampai dengan delirium, tremor, dan kadang-kadang kejang.
5. Bentuk cereberal
Ditandai adanya ataksia dengan atau tanpa kelumpuhan. Kelumpuhan otot akan berkurang sampai beberapa bulan dalam masa konvalensi setelah 6 bulan sampai beberapa tahun. Otot-otot yang lumpuh tidak dapat sembuh lagi. Ketidakseimbangan otot-otot antagonis menyebabkan deformitas.

LABORATORIUM
Virus polio dapat diisolasi dan dibiakkan dalam jaringan dari apusan tenggorokan, darah, liquor, dan feses. Pemeriksaan liquor cerebrospinalis menunjukan adanya pleositosis, kadar protein sedikit meninggi dan kadar glukosa serta elektrolit normal, jumlah sel berkisar antara 10-3000/mm3 sedangkan tekanan tidak meningkat. Pada stadium preparalitik atau paralitik dini lebih banyak ditemukan leukosit PMN tetapi setelah 72 jam lebih banyak ditemukan limfosit.
Peningkatan jumlah sel mencapai puncaknya pada minggu pertama kemudian akan kembali normal setelah 2 sampai 3 minggu. Kadar protein LCS berkisar antara 30-120 mg/100ml pada minggu pertama tapi jarang melampaui 150 mg/100ml. Kadar protein yang meninggi akan bertahan selama 3 sampai 4 minggu. 

DIFFERENSIAL DIAGNOSA
1.                    Meningitis TBC (karena gejalanya mirip dengan gejala poliomielitis nonparalitik).
2.                   Sindroma Guillain-Barre (SGB tidak akut, bilateral, simetris, lebih berat, pleositosis sedang, SGB kadar protein lebih dulu meningkat)
3.                   Mielitis tranversa
4.                   Encephalitis

TERAPI
Tirah baring total harus segera dilakukan pada penderita yang mengidap poliomielitis. Pada penderita poliomielitis paralitik bentuk spinal selain tirah baring total dan pengobatan simptomatis maka posisi ekstremitas harus pula diperhatikan untuk menghindari terjadinya kontraktur. Lengan dan tangan dapat di beri splint sedang untuk menghindari kulai kaki (drop foot) dapat diberikan papan penyangga pada telapak kaki agar selalu dalam posisi dorsoflexi. Fisioterapi sebaiknya dilakukan setelah 2 hari hilang demam. Bila terjadi kegagalan pernafasan maka diperlukan respiratoar untuk membantu pernafasan dan apabila terjadi paralisis bulbaris maka harus diperhatikan adalah kebutuhan cairan. Sekresi faring dapat menyebabkan aspirasi, bila ada disfagia akan membutuhkan sonde lambung. 

IMUNITAS 
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan atau tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.
Terdapat 2 macam vaksin polio :
1.                    IPV (Inaktivated Polio Vaccine, vaksin salk) mengandung virus polio yang sudah dimatikan dan diberikan melalui suntikan.
2.                   OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin) mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, dan bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I, polio II, polio III, polio IV) dengan interval 4-6 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD dan pada saat meninggalkan SD.
Di Indonesia umumnya diberikan vaksin sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 ml) langsung kemulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula.
Kontraindikasi pemberian vaksin polio :
- Diare berat
- Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid).
- Kehamilan.
- Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang.
Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangakn dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertinggi. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberia booster secara rutin kecuali jika dia hendak bepergian kedaerah endemik polio. Pada dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi sebaiknya diberikan IPV.
Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomicin, polimicin B atau neomicin, tidak boleh diberikan IPV, sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita dengan gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukimia, kanker, limfoma) dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya.
IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare. Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat sebaiknya pelaksanaan imunisasi ditunda sampai benar-benar pulih. IPV bisa menyebabkna nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan yang biasanya berlangsung hanya beberapa hari. Kekebalan aktif didapatkan sesudah mendapatkan infeksi asimptomatis atau pemberian vaksin polio. Vaksin anti polio ini ada 2 jenis yaitu salk dan sabin. Kekebalan pasif diperoleh dari ibu secara transplasenta atau dengan pemberian gamma globulin.

ERADIKASI POLIO 
Objektif dari Erapo (eradikasi polio) adalah pemberantasan virus liar didunia.
Strategi Erapo terdiri atas 4 kegiatan utama :
* Pertama, cakupan imunisasi yang tinggi. Cakupan imunisasi harus mencapai lebih dari 90 % untuk kelompok anak dibawah 1 tahun. WHO menganjurkan diberikan vaksin polio oral sebanyak 4 kali pada usia 0,2,3,4 bulan sedangkan menurut PPI diberikan pada usia 0-11 bulan dengan interval 4-6 minggu. Cakupan yang tinggi ini akan menekan angka kesakitan polio pada tingkat yang rendah dan menyiapkan negara tersebut untuk fase Eradikasi. Cakupan tinggi juga harus dipertahankan oleh negara yang telah bebas polio sampai seluruh dunia bebas polio.
* Kedua, hari/pekan imunisasi nasional (PIN). Imunisasi masal dilakuakn secara serentak pada semua anak dibawah 5 tahun dengan 2 putaran imunisasi dengan selang waktu 4 minggu. Gerakan ini dilakukan pada saat transmisi polio paling rendah dan kekebalan populasi ternyata lebih tinggi dari kekebalan populasi imunisasi rutin, mungkin akibat disseminasi virus vaksin ke lingkungan dan ke anggota populasi lain.
* Ketiga, surveilans AFP (Acute Flacid Paralysis) atau lumpuh layu akut. Eradikasi membutuhkan metode surveilans yang sensitif dan mampu mendeteksi adanya kasus polio dimanapun didunia. Surveilans AFP bertujuan mendeteksi virus polio liar dan meningkatkan sistem pelacakan dan pelaporan nasional suatu negara. Kasus polio tidak dapat dideteksi secara klinis saja, maka WHO menyarankan laboratory based AFP bawah usia 15 tahun dan kasus harus diteliti secara klinik dan epidemiologi dengan cepat. Sampel tinja dikumpulkan secukupnya dengan selang waktu 24 jam dan dikirim dalam keadaan dingin ke laboratorium. Virus yang ditemukan harus dibedakan apakah virus liar atau virus vaksin. Minimal harus dilakukan pelacakan pada satu kasus AFP tiap tahun untuk setiap 100.000 anak dibawah 15 tahun.
* Keempat, Mopping-up. Imunisasi rutin dan PIN akan menurunkan transmisi virus pada tingkat terendah yang hanya terjadi pada beberapa kantong saja. Apabila dapat dibuktikan adanya transmisi virus dilingkungan maka dilakukan mopping-up didaerah tersebut yaitu pemberian vaksin polio oral 2 putaran pada semua anak dibawah 5 tahun tanpa memperdulikan status imunisasi dan dilakukan secara lengkap dari rumah ke rumah. Rangkaian mata rantai yang panjang dari strategi Erapo bukanlah masalah sederhana untuk dilaksanan, tenaga kesehatan yang kurang merata, kesadaran sebagian masyarakat terhadap imunisasi belum memadai serta wlayah yang secara geografis sulit dijangkau menyebabkan cakupan imunisasi belum memenuhi target. Masalah ekonomi dan sosail politik dapat ikut berperan dalam ketidak pedulian masyarakat terhadap kesehatan. Pengaruh Globalisasi memberi sumbangsih importansi virus liar untuk memacu terjadinya kejadian luar biasa bila cakupan imunisasi belum memadai.

DAFTAR PUSTAKA
·                     Staf pengajar ilmu kesehatan anak, Buku kuliah anak bagian I, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1983.
·                     Nelson WE, Measles, Ilmu Kesehatan Anak bagian II, edisi 12, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.
·                     Poliomielitis, Aspek Klinis Dan Eradikasi, Last update :http://www.bali_post.com
·                     Immunisasi : http://www.medicastore.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar